Fajar menyibak perlahan di atas Trowulan, membelah kabut tipis yang masih mggantung setelah malam penuh api, darah, dan teriakan perang yang kini sudah mereda. Bau besi berkarat, arang kayu, dan tubuh yang belum sempat dikubur bercampur jadi satu, menyesakkan dada siapa pun yang melangkah melewati reruntuhan. Balairung Agung, yang dulunya tegak penuh wibawa, kini tinggal kerangka yang hangus. Tiang-tiang kayu patah, lantai batu retak dan ternoda merah, seakan menjadi saksi bisu dari intrik yang hampir meruntuhkan Majapahit.
Arya berdiri di ambang reruntuhan itu. Bajunya compang-camping, kulitnya penuh luka sayatan, tapi sorot matanya tetap hidup, menatap lurus pada matahari yang muncul malu-malu dari balik pepohonan. Kakinya gemetar, napasnya berat, namun ia masih berdiri. Dan di dalam hatinya ia tahu, kadang bertahan hidup saja sudah cukup untuk melawan takdir.
Patih Gajah Mada muncul dari balik kabut, langkahnya mantap meski tubuhnya sendiri penuh luka. Sorot matanya tetap seperti baja, tak tergoyahkan meski semalam ia nyaris kehilangan segalanya. Ia berhenti di samping Arya, menepuk bahunya dengan tangan berat, seperti ingin memastikan pria asing yang tiba-tiba menjadi bagian dari sejarah ini benar-benar nyata.
“Kau bukan bagian dari sejarah kami,” ucapnya lirih, suaranya parau. “Tapi tanpa kau, Majapahit sudah runtuh malam ini. Adipati Mahesa binasa, tapi bayangannya belum hilang. Sisa-sisa pengkhianatannya masih bersembunyi di setiap sudut kerajaan.”
Arya menunduk. Luka di dadanya berdenyut setiap kali ia menarik napas, namun yang lebih berat adalah luka di hatinya. “Aku gagal menghentikan selir itu,” katanya. “Wanita yang membawa racun, yang menyalakan api pemberontakan. Dia masih bebas.”
Gajah Mada memandang reruntuhan balairung yang hangus. “Maka kita akan menghadapi badai berikutnya. Sejarah tidak pernah selesai hanya dalam satu malam.”
Hari-hari setelah itu berjalan dengan tempo yang asing. Arya tak lagi diperlakukan sebagai tahanan. Para prajurit yang dulu mengawalnya kini memberi hormat setiap kali ia lewat, meski sebagian bangsawan masih menatapnya penuh curiga. Namun perlindungan Gajah Mada membuat siapa pun tidak berani menyentuhnya. Dalam rapat-rapat rahasia, Arya duduk di sudut ruangan, mendengarkan dengan seksama, menyerap setiap strategi dan rencana.
Di sanalah ia sadar, perannya telah berubah. Ia bukan lagi orang asing yang terseret arus waktu. Ia kini bagian dari roda sejarah Majapahit.
Malam demi malam ia habiskan bersama Gajah Mada, membicarakan bukan hanya senjata dan peperangan, tapi juga hati manusia. Patih agung itu sering bertanya seolah ingin meraba masa depan, seakan merasakan kebijaksanaan asing di balik diri Arya.
“Apa yang membuat kerajaan besar runtuh?” tanya Gajah Mada suatu malam di beranda keraton. Bulan menggantung pucat, angin berhembus membawa aroma kemenyan dari pura terdekat.
Arya terdiam lama sebelum menjawab, “Bukan hanya serangan dari luar. Tapi kerakusan dari dalam. Saat bangsawan sibuk menjaga kehormatan diri dan melupakan rakyat, itulah awal kehancuran.”
Gajah Mada menatap jauh ke cakrawala. “Kalau begitu, aku bersumpah. Aku akan menyatukan seluruh Nusantara. Tak satu pun kerajaan boleh berjalan sendiri-sendiri. Apa pun yang harus kukorbankan, akan kukorbankan.”
Arya merinding. Ia tahu sumpah itu akan menjadi api yang tak pernah padam, sumpah yang kelak tercatat sebagai Sumpah Palapa. Namun ia juga sadar, dirinya takkan pernah disebut. Ia hanyalah bayangan, saksi yang tak tertulis.
Waktu berjalan. Bulan berganti tahun. Arya makin mengenal setiap lorong Trowulan, setiap wajah prajurit, bahkan aroma tanah basah selepas hujan musim barat. Namun di hatinya masih ada kegelisahan. Portal bercahaya yang dulu menyeretnya ke masa ini tak pernah muncul lagi. Kadang, di malam sunyi, ia duduk di depan Candi Brahu, menatap langit, berharap ada cahaya biru yang akan membawanya pulang. Namun yang datang hanya suara jangkrik dan bayangan bulan.
Hingga akhirnya ia sadar pulang hanyalah mimpi.
Suatu malam, di tepi hutan luar kota, ia kembali melihat sosok itu. Selir misterius, berdiri di antara kabut, wajahnya tenang dan indah, tapi mematikan.
“Kau bertahan dengan baik,” ucapnya dengan suara yang lebih mirip bisikan angin. “Tapi sejarah tak bisa kau ubah. Majapahit akan runtuh juga, cepat atau lambat.”
Arya menegakkan bahu. “Kalau pun begitu, aku akan berjuang di sisinya. Biarlah catatan sejarah menulis apa pun, aku memilih berada di sini.”
Wanita itu tersenyum samar. “Kalau begitu, kau bukan lagi pengembara waktu. Kau sudah jadi bagian dari cerita ini. Semoga kau siap menanggung akibatnya.” Lalu ia lenyap ke dalam kabut, seperti asap yang ditelan malam.
Sejak saat itu, rumor tentang Arya menyebar. Orang-orang berbisik ia tak pernah sakit, tak menua, wajahnya tetap sama dari tahun ke tahun. Sebagian menganggapnya pertanda baik, sebagian lagi menganggapnya kutukan. Namun Gajah Mada selalu menutupinya, menyebutnya hanya sebagai bayangan keraton.
Dan ketika akhirnya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa di hadapan seluruh istana, Arya berdiri di belakangnya, matanya berkaca-kaca. Ia tahu sumpah itu akan menggetarkan tanah Nusantara, dan dirinya, meski tak pernah tertulis, telah menanamkan benih di dalamnya.
Majapahit tumbuh menjadi kekuatan besar. Perang demi perang, perundingan demi perundingan, Arya selalu hadir di balik layar. Namanya tak tercatat dalam kakawin, tak diukir di prasasti, tapi ia adalah suara di telinga Gajah Mada, bayangan di balik strategi, penjaga tak bernama.
Hingga suatu malam, ketika bulan purnama menggantung tinggi di atas Trowulan, Arya berdiri sendirian di halaman keraton. Ia menatap langit, menunggu cahaya biru yang tak pernah datang. Namun kali ini ia tidak lagi menunggu dengan hati resah.
Ia tersenyum pahit. “Aku adalah Arya tanpa catatan, bayangan dalam sejarah. Dan mungkin memang begitulah takdirku.”
Suara gamelan dari dalam keraton mengalun, bercampur dengan aroma dupa dan cahaya bulan. Arya melangkah masuk ke dalam keraton, menapaki jalan yang tidak pernah ditulis dalam buku mana pun, tapi terukir abadi di jiwa Majapahit.
Dan di situlah kisahnya berhenti bukan sebagai pengembara yang tersesat, tapi sebagai bagian dari sebuah kerajaan yang kelak dikenang dunia.