Angin pesisir utara Jawa bertiup lembab pagi itu. Kabut tipis menggantung di antara pohon kelapa yang berjajar di sepanjang jalan tanah menuju pusat Kerajaan Demak. Dari kejauhan, Menara Masjid Agung Demak menjulang dengan gagah, bata merahnya menyimpan gema doa, perdebatan, dan sejarah yang belum selesai dituliskan.
Tahun itu diperkirakan akhir abad ke-15. Kerajaan Demak berada di puncak kejayaannya sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Pelabuhan-pelabuhan ramai oleh jung Tiongkok, perahu Gujarat, dan kapal-kapal kecil milik pedagang Nusantara. Rempah-rempah, kain, dan kitab-kitab agama berpindah tangan, sebagaimana pula gagasan dan keyakinan.
Namun di balik kemegahan kerajaan dan kesalehan yang dipamerkan di mimbar-mimbar masjid, terdapat kegelisahan yang berdenyut pelan: pertarungan makna tentang Tuhan dan manusia.
Namanya Ki Jatmika Wirajaya, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun, berpakaian sederhana dengan kain lurik dan ikat kepala hitam polos. Wajahnya tenang, sorot matanya dalam, seperti orang yang telah lama bersahabat dengan sunyi.
Ia bukan bangsawan, bukan pula ulama istana. Ia adalah seorang pengelana spiritual, murid dari jalur tua kejawen yang memadukan laku tapa, wirid sunyi, dan pemahaman Manunggaling Kawulo Gusti ajaran tentang kesatuan hamba dan Tuhan.
Bagi Ki Jatmika, Tuhan bukan sekadar entitas jauh di langit, melainkan hakikat yang bersemayam di dalam diri manusia, jika ego telah diluruhkan dan nafsu ditundukkan.
Pagi itu, ia melangkah memasuki alun-alun Demak. Genderang kerajaan terdengar dari kejauhan. Para prajurit berjaga dengan tombak berkilau. Di serambi masjid, para santri duduk bersila, mendengarkan pengajian seorang ulama muda yang dikenal dekat dengan istana.
Ulama itu bernama Kiai Syamsuddin Al-Bagdadi”, murid dari salah satu Wali Songo, dan dikenal sebagai juru dakwah yang tegas menjaga kemurnian ajaran Islam versi kerajaan Demak.
Kabar tentang Ki Jatmika telah sampai ke telinga istana.
Ia dianggap berbahaya.
Bukan karena mengangkat senjata, melainkan karena mengajarkan pemahaman Tuhan yang dianggap menyimpang.
Hari itu, atas perintah tidak tertulis dari lingkaran kerajaan, sebuah majlis adu argumen disiapkan di pendopo dekat masjid. Raja tidak hadir langsung, namun beberapa pejabat dan ulama istana duduk sebagai saksi.
Pendopo itu beratapkan sirap kayu jati, tiangnya besar-besar, lantainya dingin oleh ubin batu. Di luar, rakyat kecil berkumpul diam-diam, ingin tahu bagaimana seorang penghayat ajaran lama akan berhadapan dengan ulama yang didukung Wali Songo dan Kerajaan Demak.
Ki Jatmika duduk bersila dengan tenang.
Kiai Syamsuddin duduk berhadap-hadapan, bersorban putih, jubah bersih, dengan kitab di pangkuannya.
Suasana hening.
Akhirnya, Kiai Syamsuddin membuka percakapan.
“Ki Jatmika Wirajaya,” ucapnya lantang namun terkendali, “engkau dikenal mengajarkan Manunggaling Kawulo Gusti. Katakanlah di hadapan kami semua, apakah engkau meyakini bahwa manusia dapat menyatu dengan Tuhan?”
Ki Jatmika tersenyum tipis.
“Jika yang panjenengan maksud menyatu adalah jasad dengan jasad, tentu tidak,” jawabnya pelan. “Namun jika yang dimaksud adalah lenyapnya rasa aku, sehingga yang bekerja hanyalah kehendak Gusti, maka itulah hakikat perjalanan ruhani.”
Beberapa hadirin berbisik.
Kiai Syamsuddin mengerutkan kening.
“Itu berbahaya,” katanya. “Islam mengajarkan tauhid yang jelas. Tuhan adalah Tuhan, makhluk adalah makhluk. Tidak boleh dicampuradukkan.”
Ki Jatmika menunduk hormat.
“Benar,” katanya. “Namun izinkan saya bertanya, Kiai. Ketika seorang hamba shalat dengan khusyuk, lupa pada dunia, lupa pada dirinya, lalu hatinya penuh dengan asma Allah siapakah yang hadir saat itu?”
Kiai Syamsuddin menjawab cepat, “Hamba sedang menghadap Allah.”
“Dan ketika ia lupa bahwa ia sedang menghadap, karena yang ada hanya rasa hadir Gusti?” tanya Ki Jatmika lembut.
“Itu tetap hamba,” jawab sang kiai, meski nadanya mulai ragu.
Ki Jatmika mengangguk.
“Itulah Manunggaling Kawulo Gusti. Bukan menyamakan diri dengan Tuhan, melainkan lenyapnya sekat ego.”
Perdebatan berlanjut.
Kiai Syamsuddin membuka kitab.
“Al-Qur’an jelas,” katanya. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.”
Ki Jatmika menjawab tanpa kitab.
“Air sungai tidak pernah menjadi laut, Kiai,” katanya. “Namun ketika sungai sampai di muara, ia tidak lagi disebut sungai. Apakah ia lenyap? Tidak. Ia menemukan asalnya.”
Beberapa orang tua Jawa di kerumunan mengangguk pelan.
Kiai Syamsuddin mulai terlihat gelisah.
“Perumpamaan itu bisa menyesatkan umat,” katanya. “Rakyat awam bisa mengira dirinya Tuhan.”
Ki Jatmika menatap lurus.
“Justru ajaran ini mengajarkan kerendahan hati,” ujarnya. “Karena selama ‘aku’ masih ada, Gusti belum hadir sepenuhnya.”
Suasana semakin tegang.
Di luar pendopo, suara azan dzuhur berkumandang, menggema di udara panas Demak.
Perdebatan memasuki inti terdalam.
Kiai Syamsuddin bertanya, “Jika semua adalah Tuhan, lalu di mana letak syariat? Di mana hukum?”
Ki Jatmika menjawab perlahan.
“Syariat adalah perahu,” katanya. “Hakikat adalah lautan. Tanpa perahu, manusia tenggelam. Namun orang yang hanya memeluk perahu tanpa pernah berlayar, tidak akan mengenal samudra.”
“Kami diajarkan oleh Wali Songo,” balas Kiai Syamsuddin, “bahwa Islam harus membumi, tertib, dan tidak membingungkan rakyat.”
Ki Jatmika mengangguk hormat.
“Dan saya tidak menentang itu,” katanya. “Saya hanya mengingatkan bahwa di balik tertib lahir, ada perjalanan batin.”
Lalu ia berkata pelan namun menusuk:
“Jika Islam hanya menjadi aturan kerajaan, tanpa ruang sunyi untuk bertemu Gusti, maka ia akan kering.”
Kalimat itu membuat pendopo senyap.
Beberapa pejabat saling berpandangan.
Kiai Syamsuddin terdiam lama.
Ia menyadari bahwa setiap dalil yang ia ajukan selalu dijawab bukan dengan penolakan, melainkan dengan pendalaman makna.
Akhirnya ia berkata, “Ki Jatmika, ajaranmu indah, namun berbahaya jika disebarkan bebas.”
Ki Jatmika tersenyum damai.
“Segala ilmu berbahaya jika jatuh ke tangan yang belum siap,” jawabnya. “Bahkan pedang di tangan prajurit, atau kitab di tangan orang sombong.”
Kiai Syamsuddin menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan kekosongan argumen.
Ia kalah bukan karena dibungkam, melainkan karena tidak mampu membantah kedalaman laku batin yang disampaikan lawannya.
Akhirnya ia berkata lirih, “Dalam majlis ini, aku tidak mampu melanjutkan perdebatan.”
Pendopo gempar oleh bisik-bisik.
Seorang ulama kerajaan menyerah bukan oleh pedang, melainkan oleh pemahaman.
Ki Jatmika berdiri, membungkuk hormat.
“Saya tidak mencari kemenangan,” katanya. “Saya hanya menjaga warisan kebijaksanaan Jawa agar tidak mati di bawah bayang-bayang kekuasaan.”
Hari itu, Demak tetap berdiri sebagai kerajaan Islam.
Masjid tetap penuh.
Syariat tetap ditegakkan.
Namun di sudut-sudut sunyi Jawa, ajaran Manunggaling Kawulo Gusti terus hidup mengalir seperti sungai menuju laut, tanpa pernah mengklaim dirinya sebagai samudra.
Dan sejarah pun mencatat, tidak semua pertempuran dimenangkan oleh yang didukung kerajaan.
Sebagian dimenangkan oleh keheningan dan pemahaman.