Angin laut berembus pelan di sore hari ketika perahu-perahu nelayan mulai kembali ke bibir pantai Jungut Batu, salah satu desa utama di Nusa Lembongan. Matahari menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut yang tampak tenang terlalu tenang, menurut sebagian orang.
Bagi warga lokal, laut yang terlalu tenang bukanlah pertanda baik.
Wayan Sudarma, seorang nelayan yang sudah puluhan tahun melaut, berdiri di samping perahunya. Tatapannya jauh ke arah cakrawala, seolah membaca sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.
“Jangan melaut malam ini,” katanya pelan kepada Made, anak muda yang baru beberapa bulan belajar menjadi nelayan.
Made mengerutkan kening. “Kenapa, Yan? Ombaknya tenang begini.”
Wayan tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah selatan arah yang dipercaya sebagai gerbang kekuasaan Nyi Roro Kidul.
“Kalau laut terlalu diam… biasanya ada yang sedang lewat.”
Namun Made adalah anak muda yang keras kepala. Malam itu, diam-diam ia membawa perahunya ke laut. Ia ingin membuktikan bahwa semua cerita itu hanya mitos.
Langit gelap tanpa bulan. Hanya suara mesin perahu dan percikan air yang menemani.
Awalnya, semuanya normal.
Sampai tiba-tiba…
Mesin perahu mati.
Tanpa sebab.
Made mencoba menyalakan kembali, tapi gagal. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang ganjil laut di sekitarnya benar-benar sunyi. Tidak ada angin. Tidak ada ombak. Tidak ada suara burung malam.
Seolah-olah dunia berhenti.
Lalu…
Dari kejauhan, ia melihat sesuatu berdiri di atas air.
Sosok itu samar, tapi jelas bukan manusia biasa. Rambut panjangnya tergerai, dan kainnya tampak melambai meski tidak ada angin.
Hijau.
Made teringat cerita yang sering ia dengar sejak kecil tentang penguasa laut selatan yang kadang “melintasi” perairan Bali.
Jantungnya berdegup keras.
Ia ingin menutup mata, tapi tidak bisa.
Sosok itu perlahan mendekat.
Air di sekitarnya mulai bergerak, bukan seperti ombak biasa, tapi seperti bernafas.
Di saat yang sama, di dekat Pura Segara Nusa Lembongan, seorang pemangku tua bernama Jero Mangku Ketut tiba-tiba terbangun dari semedinya.
Ia merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Anak itu…” gumamnya.
Tanpa menunggu lama, ia segera menyiapkan sesajen dan berjalan menuju pura yang menghadap langsung ke laut. Angin tiba-tiba berhembus kencang, membawa bau asin yang tajam.
Ia mulai melantunkan mantra.
“Om… segara kerthi… jagat kerthi…”
Api dupa bergetar hebat.
Di tengah laut, Made kini tak bisa bergerak.
Sosok itu sudah sangat dekat.
Wajahnya tidak jelas, tapi auranya begitu kuat dingin, dalam, dan tua.
Tiba-tiba suara terdengar… bukan dari telinga, tapi langsung di kepalanya.
“Mengapa kau datang tanpa izin?”
Made gemetar. Ia tak bisa menjawab.
Air di bawah perahunya mulai berputar, membentuk pusaran kecil.
Ia ingat kata-kata Wayan.
Jangan berkata kasar.
Jangan sombong.
Hormati laut.
Dengan sisa keberanian, Made menunduk.
“Maaf… saya tidak tahu…”
Sekejap, semua menjadi sunyi.
Sosok itu berhenti.
Lalu perlahan… menghilang seperti kabut tersapu angin.
Mesin perahu tiba-tiba menyala kembali.
Ombak kembali bergerak.
Angin kembali berhembus.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Made kembali ke darat saat matahari mulai terbit. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.
Wayan hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Sekarang kamu tahu,” katanya akhirnya.
Made mengangguk pelan.
Sejak hari itu, ia selalu membawa sesajen kecil setiap melaut. Ia tidak pernah lagi meremehkan laut.
Dan setiap kali laut tiba-tiba menjadi terlalu tenang…
Ia memilih kembali.
Warga Nusa Lembongan tidak pernah benar-benar memisahkan dunia nyata dan dunia tak kasat mata.
Bagi mereka, laut bukan hanya sumber kehidupan tetapi juga wilayah yang harus dihormati.
Karena di balik keindahannya…
Selalu ada sesuatu yang menjaga.
Dan tidak semua yang menjaga… ingin terlihat.