CHILE. Di pinggiran Santiago, ada sebuah rumah tua yang tidak pernah dijual. Bukan karena tidak laku.
Tapi karena setiap orang yang mencoba membeli… selalu berubah pikiran sebelum menandatangani apa pun.
Rumah itu milik keluarga Ortega, setidaknya di atas kertas.
Padahal tidak ada lagi Ortega yang tinggal di sana sejak 1987.
Yang aneh, listriknya selalu menyala setiap malam.
Tomás bukan orang yang percaya cerita seperti itu. Ia jurnalis lepas, terbiasa mencari fakta, bukan mitos. Saat mendapat tugas kecil untuk menulis tentang properti terbengkalai di Santiago, ia langsung tertarik pada rumah itu.
“Tidak ada yang aneh,” kata agen properti.
“Hanya… orang-orang tidak betah.”
Itu justru alasan Tomás datang.
Hari pertama, semuanya terlihat biasa. Rumah tua, cat mengelupas, bau kayu lembap. Tapi ada satu hal yang mengganggu: tidak ada debu.
Padahal rumah itu kosong hampir 40 tahun.
Seolah-olah… ada yang membersihkannya.
Di ruang tengah, Tomás menemukan tape recorder tua. Masih terpasang kaset di dalamnya. Ia menekan tombol play.
Awalnya hanya suara statis.
Lalu pelan-pelan, muncul suara pria berbicara.
“Ini hari ke-12.”
Tomás berhenti bernapas.
Suara itu terdengar terlalu dekat. Bukan seperti rekaman lama. Lebih seperti… seseorang berbicara di ruangan sebelah.
“Aku tidak tahu apakah ini akan ditemukan,” lanjut suara itu.
“Tapi jika kamu mendengar ini, berarti rumah ini belum selesai.”
Tomás melihat sekeliling. Kosong.
Tape itu jelas sudah lama. Tapi suara di dalamnya… tidak terasa lama.
Ia memutar lebih jauh.
“Nama saya tidak penting,” kata suara itu.
“Yang penting adalah… mereka tidak pernah pergi.”
Suara berhenti.
Lalu terdengar bunyi ketukan.
Tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Tomás langsung menoleh ke dinding.
Dan saat itu juga ia mendengar ketukan yang sama… dari dalam rumah.
Ia mulai mencari sumbernya.
Ketukan itu tidak keras, tapi konsisten. Seperti seseorang yang sabar menunggu untuk dibuka.
Ia mengikuti suara itu sampai ke sebuah pintu kecil di bawah tangga.
Pintu itu terkunci.
Tapi dari baliknya, terdengar sesuatu.
Napas.
Tomás mencoba menenangkan diri. Ini pasti hal biasa. Pipa. Hewan. Atau tetangga.
Tapi rumah itu berdiri sendiri.
Dan suara napas itu… terlalu jelas untuk diabaikan.
Ia kembali ke tape recorder.
“Kalau kamu mendengar mereka,” suara itu kini lebih pelan,
“jangan jawab.”
Tomás menelan ludah.
Terlambat.
Dari balik pintu kecil itu, terdengar suara.
“Tomás…”
Ia membeku.
Tidak ada yang tahu ia di sana. Bahkan agen properti tidak ikut masuk.
“Tomás…”
Suara itu sekarang… meniru suaranya sendiri.
Ia mundur perlahan.
Tape recorder tiba-tiba menyala sendiri.
“Ini hari ke-13,” suara pria itu kembali.
“Dia mulai mendengar namanya.”
Tomás menatap tape itu dengan ngeri.
“Jika kamu sampai di sini,” lanjut suara itu,
“maka kamu sudah menjadi bagian dari rumah ini.”
Ketukan berhenti.
Hening.
Lalu… suara kunci dari pintu kecil itu berbunyi pelan.
Klik.
Pintu terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya tidak seperti gelap biasa.
Seperti tidak ada cahaya yang diizinkan masuk.
Dan dari dalam… sesuatu bergerak.
Tomás berlari keluar rumah tanpa menoleh.
Ia tidak pernah menyelesaikan artikelnya.
Tidak pernah kembali.
Beberapa minggu kemudian, agen properti menerima telepon.
Ada pembeli baru.
Seorang pria yang terdengar sangat tenang.
“Nama saya Tomás,” katanya.
“Saya tertarik dengan rumah Ortega.”
Agen itu terdiam.
Karena suara itu… bukan suara yang sama seperti sebelumnya.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
Seperti datang dari ruangan tertutup.
Sejak saat itu, lampu rumah itu tidak pernah mati.
Dan setiap malam, jika seseorang berdiri cukup lama di depannya, mereka bisa mendengar sesuatu dari dalam.
Bukan suara langkah.
Bukan suara manusia.
Tapi rekaman yang terus berulang:
“Ini hari pertama.”