Namanya tidak pernah benar-benar tercatat di dokumen resmi desa. Di pesisir selatan Kabupaten Cilacap, orang-orang hanya mengenalnya sebagai Sarman nelayan pendiam yang jarang bicara, tapi selalu pulang dengan tangkapan lebih banyak dari yang lain.
Kisah ini pertama kali saya dengar dari seorang lelaki tua di warung kopi dekat Pantai Teluk Penyu. Ia bersumpah, apa yang ia ceritakan bukan dongeng. Katanya, ini terjadi sekitar awal tahun 2000-an, saat laut selatan sedang “tidak biasa”.
Ia bilang begini:
Sarman berangkat melaut seperti biasa, dini hari sebelum adzan Subuh. Langit saat itu bersih, bahkan terlalu bersih tanpa awan, tanpa angin. Nelayan tua percaya, laut yang terlalu tenang justru menyimpan sesuatu.
Tapi Sarman tetap berangkat.
Itulah terakhir kali ia terlihat selama tiga hari.
Perahunya ditemukan lebih dulu terapung kosong, jauh dari jalur biasa nelayan, hampir mendekati wilayah yang orang-orang sebut sebagai “batas”. Tidak ada jaring. Tidak ada hasil tangkapan. Hanya perahu… dan bau aneh, seperti bunga yang sudah lama terendam air.
Semua orang mengira ia sudah mati.
Hingga hari keempat, saat matahari baru naik, seseorang melihat sosok berjalan di tepi pantai.
Sarman.
Basah, pucat, tapi hidup.
Yang membuat orang tidak bisa melupakan kisah ini bukan karena ia selamat.
Tapi karena ceritanya.
Awalnya ia tidak mau bicara. Ia hanya duduk, menatap laut berjam-jam, seperti mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain. Sampai akhirnya, setelah didesak, ia mulai bercerita.
Dan sejak saat itu… banyak yang berharap ia tidak pernah bicara.
Sarman mengaku, pada hari pertama ia memang terseret arus yang tidak biasa. Bukan badai besar, tapi seperti ada tarikan halus dari bawah laut. Kompasnya berputar. Angin berubah arah tanpa sebab.
Ia terus terbawa… semakin jauh… hingga laut berubah warna.
“Airnya bukan biru,” katanya pelan. “Hijau gelap… seperti ada bayangan di bawahnya.”
Malam itu, ia tidak melihat bintang sama sekali.
Lalu ia melihat daratan.
Tebing tinggi. Ombak besar. Tidak ada pasir putih seperti di pantai utara. Hanya batu, karang, dan suara laut yang terdengar… berat.
Ia mencoba mendekat.
Tapi setiap kali hampir sampai, perahunya selalu ditarik mundur.
“Seperti… tidak diizinkan,” katanya.
Dan di situlah semuanya berubah.
Sarman bersumpah, ia melihat seseorang berdiri di atas air.
Bukan mengapung.
Berdiri!!
Perempuan.
Rambutnya panjang sampai menyentuh permukaan laut. Pakaiannya tidak sepenuhnya terlihat, tapi berwarna hijau gelap, seperti menyatu dengan air.
Wajahnya tidak bisa dijelaskan bukan karena buruk, tapi karena… terlalu jelas untuk diingat.
“Kalau kamu coba ingat wajahnya,” kata Sarman waktu itu, “kepalamu seperti penuh air.”
Perempuan itu tidak marah. Tidak juga tersenyum.
Ia hanya menatap.
Dan ketika berbicara, suaranya tidak terdengar di telinga… tapi langsung di dalam kepala.
“Kau terlalu jauh.”
Sarman bilang, ia tidak merasa takut saat itu. Justru tenang. Seolah semua rasa panik hilang begitu saja.
Ia bertanya di mana dirinya.
Jawaban yang ia terima singkat:
“Ujung Jawa. Bukan untuk manusia.”
Orang-orang di desa langsung saling pandang saat mendengar itu.
Karena mereka tahu maksudnya.
Wilayah selatan yang sering dikaitkan dengan penguasa laut, sosok yang oleh sebagian orang disebut sebagai Nyi Roro Kidul.
Sarman tidak menyebut nama itu.
Tapi ia bilang satu hal yang membuat suasana saat itu berubah dingin:
“Aku tidak dipanggil dengan suara… tapi lautnya sendiri yang memanggil.”
Ia mengaku tidak tahu berapa lama berada di sana. Waktu terasa berhenti. Ombak tidak lagi terdengar seperti ombak. Semua jadi… sunyi.
Perempuan itu mendekat.
Tidak berjalan. Tidak berenang.
Hanya… ada.
Ia menyentuh air di dekat perahu Sarman, dan seketika laut yang tadi ganas menjadi tenang.
“Kau masih diizinkan pulang,” katanya.
“Kenapa aku?” tanya Sarman.
Jawabannya tidak langsung keluar. Tapi Sarman bilang, ia merasakan sesuatu seperti sedang dilihat, bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri.
“Kau pernah meminta,” akhirnya suara itu muncul.
Sarman terdiam lama saat menceritakan bagian ini.
Karena ia sendiri tidak ingat pernah meminta apa.
Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi.
Yang ia tahu, ia terbangun sudah di laut yang berbeda. Lebih tenang. Lebih… biasa.
Dan akhirnya ditemukan kembali di pantai.
Cerita itu tidak berhenti di situ.
Beberapa minggu setelah kejadian, nelayan lain mulai melaporkan hal aneh.
Ada yang melihat sosok perempuan di kejauhan saat laut terlalu sepi.
Ada yang mengaku mendengar suara dipanggil, padahal tidak ada siapa-siapa.
Dan yang paling sering bau bunga melati di tengah laut.
Sarman sendiri berubah.
Ia tidak lagi melaut sejauh dulu. Tapi setiap kali ada nelayan yang hilang arah, ia selalu tahu ke mana harus mencari.
“Laut itu tidak pernah kosong,” katanya suatu malam.
“Dan tidak semua yang menolong… ingin kita benar-benar pergi.”
Sampai hari ini, cerita tentang Sarman masih beredar di pesisir selatan. Tidak ada catatan resmi. Tidak ada bukti yang bisa diverifikasi.
Hanya cerita dari mulut ke mulut.
Tapi anehnya… setiap orang yang pernah mendengarnya dengan serius, biasanya mengalami satu hal yang sama:
Mereka mulai memperhatikan laut lebih lama dari biasanya.
Dan tanpa sadar…
Menunggu sesuatu muncul dari sana.