Penulis Cerita Ainasta
Di ujung utara Argentina, di mana pegunungan Andes menjulang tinggi menembus awan dan angin kering membawa aroma tanah liat serta bunga-bunga liar, terdapat sebuah kota tua bernama Salta. Kota ini dikenal sebagai salah satu permata terindah di Amerika Selatan, dikelilingi oleh lembah hijau dan gunung-gunung yang menjaga rahasia zaman dahulu. Di jalanan berbatu yang sempit, di antara bangunan kolonial berarsitektur Spanyol yang kokoh dan gereja-gereja tua dengan lonceng yang bergema di setiap sore, tersimpan sebuah kisah yang telah diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwa masyarakat setempat. Kisah itu adalah legenda tentang La Mulata, seorang wanita berkulit sawo matang yang cantik jelita, penuh pesona, namun menyimpan misteri kelam yang membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan getaran dingin menyusuri tulang belakang.
Pada masa lalu, sekitar abad ke-17, ketika Salta masih merupakan kota kolonial yang sibuk dan menjadi jalur perdagangan penting antara Buenos Aires dan Peru, hiduplah seorang wanita muda yang bernama Zoraida. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya, siapa orang tuanya, atau kapan tepatnya ia tiba di kota itu. Ia muncul begitu saja, bagai kabut yang turun dari gunung di pagi hari, dan seketika itu juga, kehadirannya mengubah suasana kota yang tenang menjadi penuh bisik-bisik dan kekaguman. Zoraida memiliki kulit berwarna sawo matang yang halus dan bersinar, seperti tembaga yang dipoles dengan sempurna, mata hitam besar yang berkilauan bagai batu kecubung di bawah sinar bulan, serta rambut hitam panjang yang bergelombang hingga ke pinggang, berbau harum seperti bunga melati dan rempah-rempah eksotis yang hanya ditemukan di tempat-tempat jauh. Kecantikannya bukan sekadar kecantikan biasa; ada daya tarik magis, kekuatan tak kasat mata yang memikat siapa saja yang berani menatap matanya lebih dari sedetik. Itulah sebabnya warga kota mulai memanggilnya La Mulata, sebutan yang sekadar menggambarkan warna kulitnya, namun lama-kelamaan menjadi nama yang sarat dengan rasa hormat, kekaguman, dan juga ketakutan.
La Mulata tinggal di sebuah rumah besar dan indah di pusat kota, bangunan bergaya kolonial dengan balkon kayu yang dihiasi tanaman merambat berbunga merah, jendela-jendela tinggi yang selalu tertutup tirai sutra tebal, dan halaman dalam yang dipenuhi kolam air mancur serta bunga-bunga berwarna-warni. Rumah itu selalu tampak hidup, penuh cahaya lampu minyak yang menyala hingga larut malam, dan suara musik yang mengalun lembut terdengar keluar, membawa melodi yang tidak pernah didengar oleh musisi kota manapun. Meski hidup sendirian dan hanya dibantu oleh beberapa pelayan yang juga pendiam dan misterius, La Mulata tidak pernah kesepian. Rumahnya selalu menjadi pusat perhatian, tempat di mana pesta-pesta terbesar dan paling mewah di Salta diadakan. Setiap kali ia mengundang para bangsawan, pedagang kaya, pejabat pemerintah, dan para tokoh penting kota, tidak ada satu pun yang berani menolak undangannya. Hadiah-hadiah mahal, perhiasan, kain sutra, hingga emas dan permata selalu berdatangan, dikirimkan oleh para pria yang berharap bisa mendapatkan sedikit saja senyum atau sapaan dari wanita berkulit sawo matang itu.
Di mata penduduk kota, La Mulata adalah sosok yang penuh teka-teki. Ada yang bilang ia adalah putri seorang pedagang kaya yang berasal dari negeri jauh di seberang lautan. Ada pula yang berbisik pelan, di sudut-sudut gereja atau di depan pintu rumah saat malam tiba, bahwa kecantikannya yang abadi dan pesonanya yang luar biasa bukanlah anugerah dari Tuhan, melainkan hasil dari perjanjian gelap yang ia buat dengan kekuatan jahat, dengan sosok yang menguasai kegelapan dan malam. Mereka melihat bagaimana ia tidak pernah terlihat tua, bagaimana kulitnya tetap halus dan cerah bertahun-tahun lamanya, bagaimana ia bisa menari berjam-jam tanpa lelah, dan bagaimana setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah memiliki kekuatan untuk mengendalikan keinginan hati siapa saja yang mendengarnya. Namun, di balik semua desas-desus itu, semua orang sepakat pada satu hal: tidak ada wanita di seluruh wilayah utara Argentina yang bisa menandingi keindahan dan keanggunan La Mulata.
Suatu sore yang hangat, saat matahari mulai terbenam di balik punggung gunung dan langit berubah warna menjadi merah jingga yang indah, seorang pemuda tampan dan berani tiba di kota Salta. Namanya Don MartÃn, seorang kapten pasukan kolonial yang baru saja ditugaskan ke kota itu. Ia berasal dari keluarga terpandang di Spanyol, berotot tegap, berwajah gagah, dan memiliki keberanian yang sudah teruji dalam berbagai pertempuran. Don MartÃn adalah tipe pria yang biasa mendapatkan apa saja yang ia inginkan, dan ia sangat percaya diri bahwa tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya. Segera setelah mendengar tentang La Mulata dan kisah-kisah yang beredar mengenai kecantikannya yang legendaris, rasa penasaran dan keinginan untuk menaklukkan hati wanita itu tumbuh besar di dalam dadanya.
Malam itu, La Mulata mengadakan pesta besar lagi, seperti biasa. Aula dansa di rumahnya didekorasi dengan bunga-bunga segar dan kain-kain berwarna cerah, lampu-lampu gantung berkilauan memantulkan cahayanya di atas lantai marmer yang mengilap, dan para musisi memainkan irama gitar dan biola yang menggoda. Para tamu berbusana terbaik mereka, tertawa, berbincang, dan menikmati makanan lezat serta anggur berkualitas tinggi yang disajikan berlimpah. Di sudut ruangan, duduk La Mulata di atas kursi besar yang dihiasi bantal beludru. Ia mengenakan gaun berwarna merah tua yang pas membalut tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah dan warna kulit sawo matangnya yang mempesona. Di leher dan tangannya, berkilauan perhiasan berlian dan zamrud yang berharga, namun tetap saja, tidak ada benda apa pun yang bisa bersaing dengan keindahan wajah dan senyumnya. Matanya menelusuri ruangan dengan tatapan tenang namun tajam, seolah ia sedang menilai setiap orang yang hadir, mengetahui rahasia dan keinginan tersembunyi di hati mereka.
Saat Don MartÃn melangkah masuk ke ruangan, kepala-kepala seketika menoleh ke arahnya. Ia berjalan dengan tegap dan percaya diri, melewati kerumunan tamu yang memberi jalan dengan hormat. Matanya langsung terkunci pada sosok wanita cantik yang duduk di singgasana kecilnya itu. Jantung pemuda itu berdegup kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena kekaguman yang meluap-luap. Ia harus mengakui, semua cerita yang ia dengar belum cukup untuk menggambarkan keindahan nyata La Mulata. Wanita itu jauh lebih mempesona, jauh lebih hidup, dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Dengan langkah mantap, Don MartÃn mendekat hingga berdiri tepat di hadapan wanita itu. Ia membungkukkan badannya dengan sopan namun tetap mempertahankan tatapan matanya yang tajam dan berani.
"Selamat malam, Nyonya," ucap Don MartÃn dengan suara berat dan merdu, nada bicaranya penuh pesona. "Aku sudah mendengar banyak hal tentang keindahanmu yang luar biasa sejak aku menginjakkan kaki di kota ini. Namun sekarang aku sadar, kata-kata manusia terlalu miskin untuk melukiskan keagungan yang ada di hadapanku ini. Namaku Don MartÃn, dan aku merasa sangat beruntung bisa diizinkan masuk ke dalam rumahmu yang indah ini."
La Mulata tersenyum tipis, senyum yang samar namun cukup untuk membuat napas Don MartÃn tercekat sejenak. Ia menatap pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu matanya kembali bertemu dengan manik mata pemuda itu. Ada kilatan cahaya misterius di sana, campuran antara rasa geli, rasa hormat, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa diartikan oleh akal manusia.
"Selamat datang, Don MartÃn," jawab La Mulata. Suaranya lembut namun bergetar, seperti suara angin yang berbisik di celah-celah tebing batu. "Namamu sudah sampai ke telingaku juga. Mereka bilang kau adalah seorang pejuang yang hebat, pemberani, dan tidak pernah mengenal kata takut. Kau terlihat sangat yakin pada dirimu sendiri, Kapten. Apakah kau datang ke sini untuk menaklukkan kota kami, atau ada hal lain yang ingin kau rebut?"
Don MartÃn tertawa kecil, tidak terintimidasi sedikit pun. Sebaliknya, tantangan dalam nada bicara wanita itu justru semakin membakar semangatnya.
"Aku sudah menaklukkan banyak musuh di medan perang, Nyonya. Tapi di sini, di ruangan ini, satu-satunya hal yang ingin kutaklukkan adalah senyumanmu yang paling tulus," jawabnya berani. "Dan jika kau mengizinkan, aku ingin sekali berdansa bersamamu. Mereka bilang tidak ada yang bisa menandingi tarian La Mulata, dan aku ingin menjadi saksi kebenaran itu."
Para tamu yang berada di sekitar mereka terdiam, menahan napas. Selama ini, La Mulata tidak pernah menolak siapa pun, namun ia juga tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada siapa pun. Ia selalu menari, namun seolah-olah ia menari hanya untuk dirinya sendiri, untuk kekuatan yang menggerakkan jiwanya, bukan untuk siapa pun yang menonton. Semua orang penasaran, apakah pemuda pemberani ini akan mendapat kehormatan itu.
La Mulata berdiri perlahan, gerakannya luwes dan anggun bagai dedaunan yang terbawa angin. Ia mengulurkan tangannya yang halus dan dingin ke arah Don MartÃn.
"Baiklah, Kapten yang gagah," ucapnya dengan nada yang menggoda. "Akan aku penuhi permintaanmu. Tapi ingatlah satu hal: siapa pun yang menari bersamaku, harus siap mengikuti irama yang kumainkan, dan tidak boleh berhenti sebelum aku menghentikannya. Apakah kau cukup kuat untuk itu?"
Don MartÃn menggenggam tangan wanita itu, merasakan sentuhan yang dingin namun membakar hatinya. "Aku siap menghadapi apa saja, Nyonya. Tidak ada hal yang terlalu berat bagiku, selama aku bisa berada di dekatmu."
Musisi mengubah irama musik menjadi lebih cepat, lebih bersemangat, dan lebih berapi-api. La Mulata dan Don MartÃn melangkah ke tengah ruangan. Saat mereka mulai bergerak mengikuti alunan nada, seluruh ruangan seolah berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua. La Mulata menari dengan kecepatan dan keluwesan yang luar biasa, tubuhnya berputar, melengkung, dan bergerak dengan keindahan yang nyaris mustahil bagi manusia biasa. Matanya terus menatap mata Don MartÃn, dan dalam tatapan itu, pemuda itu merasa seolah-olah ia sedang tenggelam ke dalam jurang yang tak berdasar, dipenuhi dengan kenikmatan dan ketakutan yang bercampur aduk. Ia merasa tenaganya tersedot habis, namun di saat yang sama, ia merasa diberi kekuatan yang berlipat ganda. Ia terus mengikuti gerakan wanita itu, tidak mau kalah, tidak mau menyerah, meski keringat mulai membasahi dahinya dan napasnya mulai memburu.
Jam demi jam berlalu. Para tamu yang menonton mulai merasa takjub, lalu cemas, dan akhirnya takut. Mata La Mulata semakin berkilau terang, wajahnya semakin cantik dan bersinar, seolah-olah ia mendapatkan kekuatan baru setiap detiknya. Sementara itu, Don MartÃn yang gagah dan kuat itu mulai terlihat lelah, wajahnya pucat, dan langkah kakinya mulai berat. Namun, terikat oleh janjinya dan terpesona oleh pesona wanita itu, ia tidak bisa berhenti. Ia merasa seolah-olah tali tak kasat mata mengikatnya erat pada pasangannya, membuatnya terus bergerak, terus menari, terus mengikuti irama yang semakin cepat dan liar.
"Siapa dirimu sebenarnya, La Mulata?" bisik Don MartÃn di sela-sela napasnya yang berat, matanya terbelalak menatap wajah wanita yang begitu dekat dengannya. "Aku merasa... aku merasa seperti sedang menari dengan api yang dingin. Apa kekuatan yang kau miliki ini?"
La Mulata tersenyum, dan kali ini senyumnya terlihat lebih tajam, lebih misterius, dan sedikit mengancam. Ia berbisik kembali, suaranya hanya terdengar oleh telinga Don MartÃn, diiringi tawa kecil yang merindingkan bulu kuduk.
"Kau bilang kau tidak takut pada apa pun, Kapten. Kau bilang kau bisa menghadapi segalanya. Sekarang kau bertanya siapa aku? Aku adalah apa yang kau lihat, apa yang kau inginkan, dan apa yang kau takuti. Kau ingin tahu rahasianya? Kau harus membayarnya dengan harga yang pantas. Semua hal indah di dunia ini tidak pernah gratis, Don MartÃn. Kau yang memilih untuk masuk ke dalam lingkaran tarianku, dan sekarang kau harus menyelesaikannya."
Malam semakin larut. Angin kencang mulai bertiup dari arah pegunungan, menerpa jendela-jendela rumah besar itu, membawa suara gemuruh samar yang berasal dari kejauhan. Langit di luar berubah menjadi gelap pekat, tertutup awan hitam yang tebal, menutup cahaya bulan dan bintang. Di dalam ruangan, cahaya lilin mulai berkedip-kedip, kadang terang menyala, kadang hampir padam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding mengikuti gerakan kedua penari itu.
Para tamu mulai bergidik ngeri. Beberapa dari mereka mulai berbisik lagi, kali ini lebih keras dan lebih jelas. "Lihatlah itu... lihatlah matanya... itu bukan mata manusia biasa. Dia pasti bersekutu dengan iblis. Dia sedang menyerap nyawa pemuda malang itu. Kita harus pergi, kita tidak boleh ada di sini saat sesuatu yang buruk terjadi."
Namun, meski rasa takut mulai merayap di hati semua orang, tidak ada yang berani bergerak atau pergi. Mereka terpaku di tempat mereka, terikat oleh rasa ingin tahu dan kekuatan magis yang menguasai ruangan itu.
Tiba-tiba, udara di dalam ruangan menjadi sangat berat dan panas. Musik yang tadinya indah berubah menjadi nada-nada sumbang, kacau, dan mengerikan, seolah-olah alat musik itu sendiri berteriak kesakitan. Cahaya lilin meledak seketika, berubah menjadi nyala api berwarna biru dan hijau yang aneh. La Mulata berputar semakin cepat, gaun merahnya berkibar-kibar mengelilinginya seperti lidah api, rambut panjangnya terbang bebas seolah ditiup angin kencang meski udara di ruangan itu diam. Wajahnya yang cantik kini tampak bercahaya terang sekali, namun ada bayangan gelap yang samar berkelebat di sekelilingnya.
Don MartÃn sudah tidak sanggup lagi. Kakinya gemetar hebat, pandangannya mulai kabur, dan ia merasa seluruh tenaga hidupnya telah habis disedot. "Berhentilah... kumohon... berhentilah..." gumamnya lemah, hampir tidak terdengar. "Aku menyerah... kau telah mengalahkanku..."
La Mulata berhenti berputar secara mendadak, tepat di tengah ruangan. Ia melepaskan genggamannya pada tangan Don MartÃn, dan pemuda itu langsung jatuh berlutut di lantai, terengah-engah, berkeringat dingin, dan menatap wanita itu dengan pandangan penuh ketakutan dan kekaguman yang bercampur jadi satu.
Wanita itu berdiri tegak di sana, nafasnya teratur dan tenang, seolah-olah ia baru saja berjalan santai di taman, bukan menari berjam-jam tanpa henti. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap langit-langit ruangan dengan senyum kemenangan yang dingin.
"Kau kalah, Kapten," ucap La Mulata dengan suara yang bergema ke seluruh ruangan, bukan lagi suara lembut wanita biasa, melainkan suara yang berat, bergaung, dan penuh kekuatan dahsyat. "Dan seperti semua orang yang mencoba menaklukkan aku atau rahasia hidupku, kau harus menerima konsekuensinya. Kau telah melihat keindahan yang tidak boleh dilihat oleh mata manusia biasa, dan kau telah merasakan kekuatan yang tidak boleh disentuh oleh jiwa yang lemah."
Seketika itu juga, kilat besar menyambar langit di luar, diikuti suara guntur yang sangat dahsyat hingga membuat dinding-dinding rumah itu berguncang hebat seolah hendak runtuh. Cahaya putih menyilaukan masuk melalui jendela-jendela, menerangi seluruh ruangan hingga setiap sudutnya terlihat jelas. Di bawah cahaya kilat itu, para tamu yang menonton melihat sesuatu yang membuat darah mereka membeku di dalam pembuluh darah.
Wajah La Mulata yang cantik itu berubah. Di balik pesonanya yang mempesona, sesaat terlihat rupa yang mengerikan: mata yang berapi-api, taring yang tajam, dan bayangan makhluk gelap yang berkelebat di belakang punggungnya. Namun, perubahan itu hanya berlangsung sedetik saja. Saat guntur bergemuruh lagi, lebih keras dan lebih dekat dari sebelumnya, tubuh La Mulata mulai memudar, menjadi kabut, menjadi cahaya, menjadi sesuatu yang tidak lagi berwujud manusia.
"Kalian ingin tahu dari mana asal kecantikanku? Dari mana datangnya kekuatan dan kekayaanku? Dari dia... dari penguasa malam... dari dia yang memberiku segalanya dengan satu syarat: jiwaku adalah miliknya, dan tubuhku akan kembali padanya saat waktunya tiba," seru La Mulata, suaranya bercampur dengan suara angin yang menderu-deru. "Dan sekarang, saatnya telah tiba. Aku harus pergi kembali ke tempat asalku, tempat di mana keindahan abadi dan kekuasaan mutlak ada."
"Tunggu! Jangan pergi!" teriak Don MartÃn yang masih berlutut di lantai, berusaha meraih ujung gaun wanita itu, meski ia tahu usahanya sia-sia. "Siapakah kau sebenarnya? Ke mana kau akan pergi? Apakah kita tidak akan pernah bertemu lagi?"
La Mulata menoleh ke arah pemuda itu untuk terakhir kalinya. Matanya yang indah kini penuh dengan kesedihan yang mendalam namun juga kebanggaan yang tak tergoyahkan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Don MartÃn dengan lembut, sentuhan yang terasa seperti es dan api sekaligus.
"Namaku akan tetap hidup dalam kisah-kisah kalian, Don MartÃn. Keindahanku akan tetap ada dalam ingatan siapa pun yang pernah melihatku. Tapi ragaku... ragaku harus kembali pada pemiliknya. Ingatlah selalu La Mulata dari Salta, wanita yang dicintai semua orang, namun tidak bisa dimiliki oleh siapa pun juga."
Di tengah gemuruh badai yang semakin mengamuk, di antara kilat yang terus menyambar dan guntur yang bergema tak henti, tubuh La Mulata perlahan-lahan menghilang. Ia tidak berjalan keluar pintu, ia tidak terbang ke jendela. Ia seolah terserap ke dalam udara, berubah menjadi asap tipis berwarna ungu dan emas yang naik ke atas, lalu lenyap sepenuhnya. Namun, sesaat sebelum ia hilang sepenuhnya, terdengar suara dentuman keras yang berasal dari lantai marmer di tempat ia berdiri terakhir kali, diikuti suara kuda yang meringkik panjang dan kencang.
Saat badai mereda dan para tamu yang ketakutan akhirnya berani mendekat ke tempat itu, mereka menemukan sesuatu yang membuat bulu kuduk mereka kembali meremang. Di atas lantai marmer yang dingin, tepat di tempat La Mulata berdiri dan menari sepanjang malam itu, tercetak dua jejak kaki yang aneh. Bukan jejak kaki manusia, melainkan jejak sepatu kuda yang dalam dan jelas terukir di batu keras itu, seolah-olah ada seekor kuda raksasa yang baru saja berdiri di sana sesaat yang lalu.
Tidak ada yang pernah melihat La Mulata lagi setelah malam itu. Rumah besarnya yang indah menjadi kosong dan sunyi. Pesta-pesta mewah tidak lagi diadakan, musik yang menggoda tidak lagi terdengar, dan cahaya lampu tidak lagi menyala di jendela-jendelanya. Penduduk Salta merasa kehilangan. Sebagian dari mereka merasa lega karena ancaman dan ketakutan itu telah pergi, namun sebagian lagi merasa ada bagian dari jiwa kota itu yang ikut lenyap bersamanya.
Bertahun-tahun berlalu, berabad-abad berlalu. Namun, jejak sepatu kuda yang tercetak di lantai marmer itu tidak pernah hilang, tidak pernah luntur, dan tidak bisa dihapus meski sudah dicoba dibersihkan berkali-kali. Hingga hari ini, jika seseorang berkunjung ke kota tua Salta dan berjalan-jalan di kawasan bersejarahnya, penduduk setempat dengan senang hati akan menunjuk bekas rumah La Mulata, atau sisa-sisa lantai yang kini menjadi bagian dari bangunan bersejarah kota itu. Mereka akan bercerita kembali kisah tentang wanita berkulit sawo matang yang cantik jelita, yang memiliki pesona tak tertandingi, yang menari sepanjang malam dengan kekuatan gaib, dan yang akhirnya dibawa pergi oleh kekuatan gelap yang pernah memberinya segala kemegahan.
Orang-orang tua di sana masih sering berbisik bahwa pada malam-malam tertentu, saat bulan bersinar terang dan angin Andes bertiup pelan membawa aroma bunga melati, jika kau berdiri diam di depan bekas rumah itu dan mendengarkan dengan saksama, kau masih bisa mendengar alunan musik yang samar dan suara tawa wanita yang indah namun menyedihkan. Dan ada yang bilang, sosok La Mulata masih ada di sana, menjelajahi jalanan berbatu Salta, cantik seperti dulu, selamanya muda dan abadi, menunggu kedatangan orang yang cukup berani, cukup kuat, dan cukup tergoda untuk kembali menari bersamanya di bawah cahaya bintang, mengulang kisah legenda yang tak akan pernah mati.
Legenda La Mulata bukan sekadar kisah tentang kecantikan atau sihir semata. Di dalamnya tersimpan pesan mendalam tentang keinginan manusia akan hal-hal yang indah dan mustahil, tentang harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa, dan tentang misteri alam serta kekuatan gaib yang ada di balik kehidupan sehari-hari masyarakat Argentina zaman dahulu. Kisah ini terus hidup, menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya, mengingatkan kita bahwa di balik keindahan yang mempesona, sering kali tersimpan rahasia yang gelap dan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kita pahami atau kendalikan. Dan begitulah, kisah tentang wanita berkulit sawo matang dari Salta ini akan terus diceritakan dari generasi ke generasi, selamanya menjadi salah satu legenda rakyat paling terkenal dan paling dicintai dari negara Argentina yang indah ini.
