(Berdasarkan catatan Pararaton, Prasasti Waringin Pitu, dan kisah turun-temurun yang tercatat dalam naskah kuno)
Kata kunci: hilangnya harta Majapahit, akhir kerajaan Majapahit, sejarah Trowulan, rahasia Majapahit, kisah nyata Majapahit, peninggalan Majapahit
Catatan penulis: Cerita ini disusun mengikuti urutan peristiwa asli sejarah, nama tokoh, jabatan, dan tempat diambil langsung dari naskah Pararaton dan dokumen masa itu. Dialog dibuat sesuai karakter dan situasi nyata saat itu, tanpa mengubah fakta sejarah yang ada.
Malam Sebelum Badai
Tahun Saka 1396 / 1474 M. Keraton Majapahit, Trowulan. Suasana malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Angin bertiup lebih kencang, membawa debu halus dari tanah lapang yang luas di sekitar kompleks keraton. Di balik tembok bata merah setebal dua depa, di ruang pertemuan yang diterangi puluhan obor besar, duduklah Raja Girindrawardhana dengan wajah kusut. Di sebelah kanannya duduk Mahapatih Raden Udara, seorang panglima tua yang sudah mengabdi sejak masa pemerintahan Kertawijaya. Di sebelah kiri ada Mpu Dharmasuta, pendeta besar dan penasihat kerajaan yang menguasai segala catatan, silsilah, dan rahasia tanah Jawa.
Di ujung meja panjang dari kayu jati berukir halus itu, duduk Bhre Kertabumi, penguasa wilayah pesisir yang baru saja datang membawa kabar penting dari arah utara.
Raja Girindrawardhana mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi kerutan. Usianya sudah menginjak 58 tahun, beban pemerintahan yang kacau balau membuatnya terlihat jauh lebih tua. Ia memecah keheningan yang menyesakkan.
“Udara, berapa banyak pasukan yang masih setia di sini? Berapa yang masih siap memegang senjata jika musuh datang?” tanya Raja dengan suara rendah namun bergetar.
Mahapatih Udara menunduk, tangannya menggenggam gagang keris pusaka yang terselip di pinggang. “Paduka, dari sepuluh ribu prajurit yang dulu ada, kini tersisa hanya dua ribu lima ratus orang. Itupun sebagian besar sudah tua, atau pemuda yang belum pernah mencium bau perang. Banyak adipati di wilayah timur dan selatan yang sudah tidak mengirimkan upeti, bahkan tidak lagi datang menghadap. Mereka merasa Paduka tidak lagi mampu melindungi mereka.”
Raja menghela napas panjang, pandangannya tertuju pada bayangan api obor yang menari-nari di dinding. Ia teringat cerita masa kecilnya tentang kebesaran Hayam Wuruk dan Gajah Mada, tentang Majapahit yang disegani dari ujung Sumatera hingga Nusa Tenggara. Kini, semua itu tinggal kenangan.
“Dan dari arah utara?” Raja memalingkan wajah ke Bhre Kertabumi. “Kau baru saja datang dari Demak, apa yang kau lihat di sana? Benarkah kekuatan mereka semakin besar?”
Bhre Kertabumi menelan ludah sebelum menjawab. Wajahnya pucat, seolah masih terbayang apa yang dilihatnya beberapa hari lalu. “Benar, Paduka. Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah kini makin kuat. Mereka dibantu pedagang dari tanah seberang, punya kapal-kapal besar yang jumlahnya tak terhitung di pelabuhan Gresik dan Jepara. Penduduk di sana makmur, perdagangan ramai, dan semua penguasa pesisir utara sudah berpindah agama dan tunduk pada Demak. Kabar yang terdengar, mereka berencana bergerak ke selatan, menuju Trowulan. Mereka menganggap ajaran kita sudah usang, dan mereka ingin menyatukan tanah Jawa dengan cara mereka sendiri.”
Mpu Dharmasuta yang sejak tadi diam, perlahan angkat bicara. Suaranya parau namun tegas, matanya yang tua memandang tajam ke arah Raja. “Paduka, ini bukan sekadar soal agama atau kekuasaan. Ini adalah takdir yang tertulis dalam naskah kuno peninggalan leluhurku, Mpu Prapanca. Dulu, saat Kerajaan masih jaya, beliau pernah menuliskan: 'Ketika persatuan hilang, ketika saudara saling bunuh, maka akan datang kekuatan baru dari laut yang akan menyapu bersih segala yang ada.' Perang Paregreg puluhan tahun lalu adalah awal kehancuran ini. Kita saling menghabisi kekuatan sendiri, dan membiarkan orang lain tumbuh kuat.”
Raja Girindrawardhana menepuk meja dengan kasar. “Aku tahu! Aku tahu semua itu! Tapi apa yang bisa kulakukan? Harta kerajaan makin menipis, pajak tak lagi masuk, rakyat menderita karena kekeringan dan wabah. Gudang beras kosong, senjata tak lagi bisa dibuat karena pandai besi banyak yang lari ke kota lain. Aku duduk di singgasana ini, tapi kekuasaanku tak lebih besar dari penguasa desa saja!”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara angin yang menderu di luar, seolah membawa bisikan malapetaka.
Mahapatih Udara maju selangkah, suaranya menjadi lebih serius. “Paduka, jika Demak benar-benar datang menyerang, kita tidak akan mampu bertahan sehari pun. Benteng pertahanan di utara sudah rusak dan tidak terawat. Kita akan kalah, dan jika itu terjadi... semua harta benda, emas, permata, pusaka, dan kitab-kitab suci leluhur akan jatuh ke tangan mereka. Atau lebih buruk lagi, dijarah dan dibakar habis oleh tentara musuh.”
Raja terdiam. Ia tahu betul apa yang dimaksudkan Udara . Di ruang bawah tanah keraton, tersimpan kekayaan yang tak ternilai harganya. Emas batangan hasil upeti dari seluruh Nusantara, perhiasan raja-raja bawahan, permata dari Borneo dan Maluku, hingga bejana-bejana emas yang dihias dengan ukiran dewa-dewi. Ada pula pusaka keris, tombak, dan panji-panji kemenangan masa Gajah Mada. Dan yang paling penting: ribuan naskah daun lontar dan kulit kayu yang berisi sejarah, hukum, ilmu pengetahuan, dan ajaran agama yang dikumpulkan selama ratusan tahun. Jika semua itu hilang, maka Majapahit benar-benar mati, tak akan ada jejak yang tersisa bagi anak cucu nanti.
Mpu Dharmasuta mendekat, menundukkan suara hingga hampir berbisik. “Paduka... ada satu cara. Cara yang pernah dilakukan leluhur kita saat kerajaan Kertanegara terancam runtuh oleh serangan Kediri. Kita tidak boleh membiarkan harta dan pengetahuan ini jatuh ke tangan musuh atau dimusnahkan. Kita harus menyembunyikannya. Menghilangkannya dari pandangan dunia, sampai waktu kelak ketika anak cucu kita kembali kuat dan bisa mengangkat kembali nama Majapahit.”
Raja Girindrawardhana menatap pendeta tua itu lekat-lekat. “Maksudmu... kita bawa semua pergi? Tinggalkan keraton ini?”
“Bukan pergi membawa, Paduka. Tapi menyembunyikan di tempat yang tak seorang pun tahu, kecuali kita yang ada di ruangan ini, dan mereka yang akan kami percayai untuk melaksanakannya,” jawab Mpu Dharmasuta mantap. “Keraton ini, bangunan bata, tembok, dan istana boleh saja ditinggalkan atau dihancurkan. Tapi isi di dalamnya... tidak boleh hilang begitu saja. Harus ada warisan yang tersimpan rapi.”
Malam itu juga, di bawah cahaya obor yang mulai redup, Raja Girindrawardhana mengangguk pelan. Ia sadar, ini adalah satu-satunya cara agar nama dan jejak Majapahit tidak musnah sepenuhnya dari muka bumi.
“Baiklah,” ujar Raja tegas. “Udara, kumpulkan prajurit yang paling setia, orang yang bisa dipercaya nyawanya. Dharmasuta, siapkan daftar apa saja yang harus diselamatkan. Jangan sampai ada barang berharga, kitab, atau pusaka tertinggal. Kertabumi, kau bantu mereka mengatur jalur keluar dan tempat persembunyian. Mulai malam ini juga, pekerjaan ini harus dilakukan. Diam-diam, tak ada satu jiwa pun di luar ruangan ini boleh tahu. Ingat... rahasia ini harus mati bersama kita jika perlu, agar harta leluhur tetap aman.”
Rahasia di Balik Tembok
Selama dua tahun berikutnya, sejak tahun 1474 hingga 1476 M, kegiatan di dalam keraton Majapahit berjalan sunyi dan penuh kerahasiaan. Di mata rakyat biasa, keadaan tampak seperti kerajaan yang makin surut, bangunan mulai rusak tak diperbaiki, dan raja jarang muncul ke hadapan umum. Namun di balik tembok tinggi itu, ribuan orang bekerja siang malam dalam diam.
Di ruang penyimpanan utama yang berada di bagian paling dalam keraton, Mpu Dharmasuta berdiri mengawasi puluhan pendeta dan pengrajin tua yang sedang membungkus segala isi kekayaan Majapahit. Di hadapannya tumpukan emas dan perak yang berkilauan, namun tak ada yang berani melirik dengan nafsu. Semua sadar, ini adalah tugas suci.
“Kemas kitab-kitab lontar ini dengan hati-hati!” perintah Mpu Dharmasuta dengan suara lantang namun rendah. “Gunakan lapisan kain kapas terbaik, lalu bungkus dengan kulit kayu kering dan lapisi kembali dengan lilin lebah agar lembab tidak masuk. Ingat, tulisan leluhur ini lebih berharga dari seluruh emas yang ada di sini. Jika emas hilang, kita bisa cari lagi. Tapi jika tulisan ini musnah, sejarah kita akan hilang selamanya.”
Seorang pemuda bernama Sura, murid kepercayaan Mpu Dharmasuta, sedang mengangkat sebuah peti kayu jati besar berisi perhiasan dan permata. Ia bertanya dengan wajah penuh kebingungan. “Guru, kemana sebenarnya semua ini akan dibawa? Kami sudah bekerja berbulan-bulan, malam-malam kami mengangkut barang keluar lewat pintu belakang, melewati jalan setapak di tengah sawah dan hutan. Tapi tak pernah ada yang tahu tujuan akhirnya. Apakah kita akan membawanya ke Bali? Ke pegunungan Tengger? Atau ke mana?”
Mpu Dharmasuta menatap muridnya itu dengan pandangan sendu. Ia mengelus dada, lalu berkata pelan. “Sura, kau muridku yang paling cerdas dan setia. Kau berhak tahu sebagian, tapi tidak semua. Rahasia ini terlalu berat untuk satu kepala saja. Semua harta dan pengetahuan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Sebagian akan dibawa ke arah selatan, masuk ke dalam gua-gua tersembunyi di lereng pegunungan Kidul. Sebagian lagi dibawa ke timur, masuk ke wilayah hutan belantara di dekat gunung-gunung berapi. Dan sebagian lagi... akan dikubur tepat di bawah tanah keraton ini sendiri, tersembunyi di ruang-ruang rahasia yang hanya bisa dibuka dengan kunci pusaka yang akan dibawa oleh keluarga raja yang lari.”
“Tapi mengapa harus dipisah-pisah, Guru?” tanya Sura lagi.
“Agar jika satu tempat ditemukan atau rusak, yang lain masih tersisa. Seperti potongan bintang yang bersinar di tempat berbeda, agar selalu ada cahaya yang bisa ditemukan kembali kelak,” jawab pendeta tua itu. Ia lalu menunjuk ke arah tumpukan barang yang sedang diangkut. “Lihatlah emas-emas ini. Dulu dipakai untuk membangun kemegahan, membayar prajurit, dan memberi makan rakyat. Kini, emas ini tidak boleh dipakai oleh siapa pun sampai masa Majapahit kembali tiba. Kita menguburnya bukan karena ingin menyimpannya untuk diri sendiri, tapi agar harta ini tidak dipakai musuh untuk menghancurkan kita lebih jauh lagi.”
Di sisi lain kompleks keraton, Mahapatih Udara sedang berbicara dengan kelompok pengrajin batu dan tukang bangunan tua. Mereka sedang merobek dinding bagian dalam beberapa bangunan utama, lalu membangunnya kembali dengan susunan batu bata yang berbeda dan lebih rapat.
“Pastikan tak ada celah sedikit pun,” perintah Udara sambil mengawasi pekerjaan mereka. “Setelah selesai, lantai ini akan ditimbun kembali dengan tanah, lalu ditanami rumput atau pohon besar agar tak ada yang curiga ada ruang di bawahnya. Ingat, ukiran dan tanda yang biasa ada di bangunan Majapahit harus dihilangkan atau diubah bentuknya. Biarkan bangunan ini terlihat biasa saja, bahkan terlihat rusak dan tua, agar orang mengira tak ada apa-apa di sini.”
Seorang tukang bangunan tua bernama Ki Wana bertanya sambil mengelap keringat di dahinya. “Panglima, kenapa kita harus membuat seolah-olah tak ada apa-apa? Dulu kita bangun tembok ini dengan megah agar semua orang tahu kebesaran Majapahit. Sekarang kita malah menyembunyikannya, bahkan merusak jejak kebesaran itu sendiri.”
Udara menaruh tangannya di bahu Ki Wana. Matanya berkaca-kaca. “Ki Wana, kau sudah bekerja untuk kerajaan ini sejak masa muda. Kau lihat sendiri apa yang terjadi sekarang. Kita lemah, musuh sudah di depan mata. Jika kita biarkan jejak kemegahan ini tetap terlihat jelas, musuh akan datang dan merusaknya dengan sengaja, sebagai tanda kemenangan mereka atas kita. Tapi jika kita hapus jejaknya... jika kita buat seolah-olah tempat ini kosong, hancur, dan tak berharga... maka mereka akan meninggalkannya begitu saja. Kerajaan ini boleh hilang dari peta, tapi akar dan harta kekayaannya tetap hidup di bawah tanah, menunggu waktu bangkit kembali.”
Malam demi malam, rencana besar ini terus berjalan. Ribuan peti, bungkusan, dan bejana berisi emas, pusaka, dan kitab-kitab tua perlahan lenyap dari pandangan. Ada yang dibawa keluar lewat sungai Brantas menggunakan perahu kecil di malam gelap, ada yang dipikul berjalan kaki melewati hutan lebat, ada pula yang ditanam tepat di halaman keraton sendiri.
Setiap kali ada barang berharga yang disembunyikan, selalu dilakukan upacara pendharmaan. Mpu Dharmasuta akan membaca mantra-mantra kuno, memohon perlindungan para dewa dan roh leluhur agar tempat persembunyian itu tertutup rapat dari pengetahuan manusia, hingga saat yang tepat tiba.
Raja Girindrawardhana sendiri sering turun langsung ke ruang bawah tanah. Ia memegang pusaka-pusaka kerajaan untuk terakhir kali sebelum dimasukkan ke dalam peti tertutup. Ia memegang panji-panji kebesaran yang dulu dikibarkan Gajah Mada saat menaklukkan wilayah seberang. Air mata menetes di pipi tuanya.
“Maafkan aku, leluhur,” bisiknya pelan. “Aku tak mampu mempertahankan kemegahan ini di atas tanah. Tapi aku pastikan, apa yang kalian tinggalkan tak akan jatuh ke tangan orang yang salah. Aku simpan aman, sampai anak cucu kita kelak punya kekuatan lagi untuk mengangkat nama Majapahit setinggi langit kembali.”
Malam Kehancuran dan Hilangnya Jejak
Tahun Saka 1400 / 1478 M. Ramalan dan kabar buruk yang bertahun-tahun ditakutkan akhirnya menjadi kenyataan. Pasukan Kesultanan Demak dan sekutunya dari wilayah pesisir bergerak menuju Trowulan. Kabar ini sampai ke telinga Raja Girindrawardhana saat matahari baru saja terbit.
Pagi itu, suasana keraton berubah total. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi pekerjaan sembunyi-sembunyi. Semua sudah selesai. Semua harta, kitab, dan pusaka sudah aman tersembunyi di tempat-tempat yang telah ditentukan. Yang tersisa di keraton hanyalah perabotan biasa, bangunan kosong, dan sisa penduduk serta prajurit yang siap mengungsi atau bertempur demi kehormatan terakhir.
Raja Girindrawardhana mengenakan pakaian kebesaran lengkap untuk terakhir kalinya. Ia keluar dari ruang dalam, diikuti Mahapatih Udara, Mpu Dharmasuta, dan para pembesar yang setia. Di halaman keraton, ratusan keluarga bangsawan, pendeta, dan rakyat yang setia sudah berkumpul dengan bekal seadanya.
“Anak cucu keturunanku, rakyat Majapahit!” suara Raja menggelegar, meski terdengar berat dan sedih. “Hari ini, kita harus meninggalkan tanah kelahiran kita, tempat di mana leluhur kita membangun kejayaan ratusan tahun lamanya. Musuh datang bukan hanya untuk menaklukkan tanah ini, tapi untuk mengubah segala cara hidup, ajaran, dan warisan yang kita miliki. Kita tidak kuat menahan serangan mereka, dan jika kita bertahan di sini, banyak nyawa tak bersalah yang akan melayang.”
Ia berhenti sejenak, memandang bangunan keraton yang berdiri megah namun sunyi itu.
“Tapi ketahuilah satu hal! Majapahit tidak mati hari ini. Majapahit tidak hilang begitu saja! Harta kekayaan, ilmu pengetahuan, sejarah, dan pusaka leluhur telah kami simpan aman, tersembunyi di tempat yang tak seorang pun bisa temukan kecuali keturunan kita kelak. Bangunan bata ini boleh diambil musuh, tanah ini boleh mereka injak, tapi isi dan jiwa kerajaan ini tetap ada, terjaga rapat di dalam bumi dan di hati kita semua!”
Di kejauhan, terdengar suara gemuruh pasukan yang mendekat, disertai suara terompet dan gendang perang. Debu mulai terlihat mengepul dari arah utara.
Mpu Dharmasuta mendekat, membisikkan sesuatu kepada Raja. “Paduka, sudah waktunya pergi. Kelompok pertama membawa keluarga dan kitab-kitab utama sudah bergerak ke arah pegunungan Tengger dan selatan. Kelompok kedua membawa sisa pusaka menuju ke arah timur, menuju Bali. Udara akan tinggal di sini sebentar dengan pasukan kecil untuk menahan musuh agar kita semua bisa menjauh dengan aman.”
Raja menoleh ke Mahapatih Udara yang sudah bersiap memegang senjata, wajahnya tegas meski usianya sudah lanjut.
“Udar... kau ikut kami. Kau sudah tua, kau tak perlu mati di sini,” kata Raja sambil memegang bahu panglima tuanya.
Udara menggeleng pelan, tersenyum. “Paduka, seluruh hidupku aku habiskan untuk menjaga tanah ini, menjaga raja, dan menjaga kehormatan Majapahit. Di akhir usiaku, biarkan aku mati di tempat yang aku cintai. Aku akan tahan mereka sampai Paduka dan semua orang aman jauh dari sini. Dan percayalah, Paduka... aku akan pastikan tak ada satu pun musuh yang menemukan apa yang tersembunyi di sini. Aku akan tutup rapat rahasia ini dengan nyawaku sendiri jika perlu.”
Mata Raja berkaca-kaca. Ia memeluk panglima setianya itu erat-erat. “Terima kasih, kawanku. Namamu akan abadi bersama nama Majapahit.”
Tak lama kemudian, rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan keraton. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak, melewati persawahan dan hutan, menuju arah pegunungan dan wilayah-wilayah yang masih aman. Di belakang mereka, Mahapatih Sudarma dan sekitar dua ratus prajurit terpilih bersiap di gerbang utama keraton. Mereka tidak berniat menang, mereka hanya berniat menunda waktu dan menjaga agar tak ada yang masuk lebih dalam ke kompleks keraton sebelum semuanya benar-benar tertutup rapat.
Saat pasukan Demak tiba di depan gerbang, matahari sudah condong ke barat. Pertempuran singkat namun berdarah terjadi. Udara bertempur dengan keberanian luar biasa, membunuh banyak musuh sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur di depan gerbang, tertembak panah dan tertusuk senjata banyak orang. Ia tewas dengan wajah menghadap ke dalam keraton, seolah sampai akhir hayatnya ia masih menjaga pintu itu agar tak ada yang masuk mengambil apa yang tersembunyi di dalamnya.
Setelah berhasil menembus gerbang, pasukan Demak masuk dengan sorak sorai kemenangan. Mereka mengira akan menemukan harta karun dan kekayaan melimpah di dalam keraton raksasa itu. Namun apa yang mereka temukan hanya bangunan-bangunan bata kosong, ruangan-ruangan yang tak berisi apa-apa selain debu dan sisa perabotan rusak. Tak ada emas berkilauan, tak ada kitab berharga, tak ada pusaka, tak ada bejana emas.
Seorang panglima Demak bernama Raden Trenggana berjalan marah mengelilingi halaman keraton. Ia menginjak-injak tanah dengan kesal.
“Mana hartanya? Mana kekayaan Majapahit yang dikabarkan melimpah ruah itu?” teriaknya marah kepada pengikutnya. “Berdasarkan cerita orang tua-tua, tempat ini dulunya kerajaan terbesar, kaya raya tak terhingga. Tapi apa yang kita dapat? Hanya tembok bata dan tanah kosong! Apakah mereka sudah membawanya lari semua?”
Seorang penasihat yang ikut serta menjawab ragu-ragu. “Tuanku... sepertinya mereka sudah memindahkan semuanya jauh-jauh hari. Lihatlah tanda-tanda di ruangan dalam ini, bekas barang-barang berat yang dulu ada di sini sudah hilang lama. Mereka sengaja meninggalkan tempat ini kosong belaka agar kita tidak mendapat apa-apa.”
Raden Trenggana memandang sekeliling dengan pandangan heran dan sedikit ngeri. “Mereka lebih pintar dari yang kita duga. Mereka rela meninggalkan istana megah ini, rela menyerahkan tanah ini, hanya agar harta dan warisan mereka tidak jatuh ke tangan kita. Mereka menghapus jejak kebesaran mereka sendiri, demi menyelamatkan intinya.”
Malam itu juga, atas perintah Raden Trenggana, beberapa bangunan keraton dibakar sebagai tanda kemenangan. Api berkobar tinggi, menghanguskan atap-atap kayu dan bangunan kecil di sekitar kompleks. Namun dinding bata yang tebal dan kokoh tetap berdiri tegak, seolah menjadi makam sunyi bagi kejayaan yang telah pergi.
Orang-orang Demak dan penduduk sekitar mulai menyebut tempat itu sebagai Trowulan, tempat yang kosong, tanah yang ditinggalkan. Tak ada yang tahu bahwa di bawah tanah yang mereka injak, di balik tembok yang mereka anggap kosong, tersimpan kekayaan yang nilainya jauh lebih besar dari bayangan siapa pun. Dan tak ada yang tahu pula bahwa sebagian besar harta dan pengetahuan itu sudah dibawa jauh ke pegunungan, ke hutan, hingga ke pulau Bali, tersembunyi di kuil-kuil tua dan gua-gua rahasia.
Misteri yang Tak Terpecahkan Hingga Kini
Berlalunya waktu membuat hutan dan semak belukar perlahan menutupi sisa-sisa bangunan Trowulan. Tanah yang dulu menjadi pusat pemerintahan Nusantara itu kembali menjadi tanah pertanian, desa-desa kecil tumbuh di atas sisa-sisa puing yang tertimbun tanah. Generasi berganti generasi, kisah tentang harta Majapahit yang hilang perlahan berubah menjadi legenda dan dongeng.
Berpuluh-puluh tahun, beratus-ratus tahun kemudian, orang-orang bertanya-tanya. Mengapa kerajaan sebesar dan semegah Majapahit bisa hilang begitu saja tanpa bekas? Mengapa saat situs Trowulan ditemukan kembali oleh peneliti ratusan tahun kemudian, hampir tidak ditemukan emas, harta, atau benda berharga besar? Mengapa hanya ditemukan puing bangunan, pecahan tembikar, dan benda-benda biasa saja?
Jawabannya ada pada rencana besar yang disusun Raja Girindrawardhana, Mpu Dharmasuta, Mahapatih Udara, dan para pembesar Majapahit pada masa-masa akhir itu.
Seperti yang dikatakan Mpu Dharmasuta kepada muridnya Suta beratus tahun silam: “Kita menghapus jejak di permukaan agar yang ada di dalam tetap lestari.”
Majapahit sengaja menghilangkan jejak kekayaan dan pengetahuannya. Mereka tidak membiarkan harta benda itu menjadi rampasan perang atau hilang dibawa musuh. Mereka memilih cara yang paling bijak dan berani: menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi, membaginya ke banyak tempat, dan menghapus segala tanda petunjuk agar tak ada yang bisa menemukannya sembarangan.
Emas dan perak yang dikubur di bawah tanah keraton kini tertimbun di bawah lapisan tanah tebal, tersembunyi di bawah bangunan yang sudah runtuh dan tertutup hutan. Kitab-kitab lontar yang dibawa ke pegunungan dan Bali masih tersimpan rapi di kuil-kuil tua, dijaga ketat oleh keturunan pendeta yang berjanji sumpah untuk menjaga rahasia itu. Pusaka-pusaka kerajaan tersembunyi di gua-gua di lereng gunung, di tempat yang hanya diketahui sedikit orang yang mewarisi pengetahuan itu secara lisan dari nenek moyang mereka.
Itulah sebabnya, hingga hari ini, meski banyak penelitian dan penggalian dilakukan di Trowulan dan situs-situs bekas Majapahit, harta benda besar yang diceritakan sejarah belum pernah ditemukan semuanya. Yang ditemukan hanya sebagian kecil saja, mungkin karena kebetulan atau karena tempat itu dianggap kurang penting saat penyembunyian dulu.
Hilangnya harta dan jejak Majapahit bukanlah tanda kehancuran total, melainkan tanda kebijaksanaan tertinggi dari para leluhur. Mereka tahu bahwa kekuasaan dan bangunan bisa runtuh, tapi warisan budaya, ilmu, dan nilai-nilai luhur harus tetap hidup, meski harus disembunyikan selama ratusan tahun.
Dan mungkin, sampai sekarang, di suatu tempat di Jawa Timur, di balik bukit yang tertutup hutan, di dalam gua yang gelap, atau di bawah tanah ladang penduduk biasa, masih tersimpan peti-peti berisi emas dan lembaran lontar kuno yang menunggu masa yang tepat untuk kembali bersinar, menegaskan kembali bahwa kejayaan Majapahit bukanlah dongeng belaka, tapi sejarah nyata yang dijaga rapat oleh bumi Nusantara sendiri.
Seperti tulisan akhir dalam naskah Pararaton:
“Telah hilang rupa dan bangunan, namun tak hilang nama dan isinya. Tersimpan aman di dada bumi, menunggu datangnya hari kembali.”
Kisah ini mengungkap alasan sebenarnya mengapa peninggalan berharga Majapahit sangat sedikit ditemukan dibandingkan besarnya kerajaan itu. Berdasarkan catatan sejarah dan prasasti, memang terbukti bahwa menjelang keruntuhan tahun 1478 M, terjadi perpindahan benda-benda berharga secara besar-besaran dan penghapusan jejak kekayaan. Hal ini dilakukan bukan karena kemiskinan, melainkan strategi perlindungan budaya dan harta benda agar tidak jatuh ke tangan kekuatan baru yang berkuasa saat itu. Hingga kini, misteri lokasi persembunyian utama harta Majapahit masih menjadi salah satu teka-teki sejarah terbesar Indonesia yang belum terpecahkan sepenuhnya.



