Di zaman dahulu, ketika langit masih terasa dekat dengan bumi dan makhluk gaib masih sering bersua dengan manusia, di dataran tinggi yang indah di daerah yang kini disebut Makasar, berdiri sebuah kerajaan yang makmur bernama Gowa. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Tunipalangga yang bijaksana, dan rakyatnya hidup damai di bawah naungan pohon-pohon beringin yang rimbun dan sungai yang jernih.
Namun, meskipun kerajaan itu makmur, Raja Tunipalangga selalu merasa kurang. Dia memiliki seorang putri tunggal bernama Putri Wulandari yang cantik seperti bunga melati di pagi hari, tapi hatinya selalu sedih. Putri Wulandari sering berdiri di puncak menara kerajaan, memandang jauh ke arah laut, seolah-olah menantikan sesuatu yang tak pernah tiba. Raja tidak mengerti mengapa putrinya sedih, bahkan ketika semua permintaannya dipenuhi.
Suatu malam, ketika bulan terbit dengan cahaya yang menyinari seluruh kerajaan, Putri Wulandari kembali berdiri di puncak menara. Tiba-tiba, dia melihat cahaya terang yang turun dari langit, mendarat di bukit yang terletak di ujung pantai. Rasa penasaran meliputi dirinya, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke sana tanpa memberitahu siapa pun. Dia memakai gaun putih yang lembut dan melangkah perlahan melalui hutan yang sunyi.
Ketika tiba di bukit, Putri Wulandari terkejut melihat seorang pria yang sangat tampan berdiri di tengah cahaya. Pria itu mengenakan baju berwarna emas yang menyinari, dan rambutnya seperti rambut matahari yang terurai. Dia memperkenalkan dirinya sebagai La Galigo, seorang bidadari dari surga yang turun ke bumi untuk mencari kedamaian.
"Kenapa kamu datang ke sini, putri cantik?" tanya La Galigo dengan suaranya yang lembut seperti angin.
Putri Wulandari merasa hatinya berdebar kencang. Dia menjelaskan bahwa dia selalu merasa sedih karena tidak menemukan seseorang yang mampu memahami hatinya. La Galigo mendengarnya dengan penuh perhatian, dan seiring berjalannya waktu, mereka mulai berbicara tentang segala hal di dunia dari bintang di langit hingga bunga di bumi. Mereka merasa saling terhubung, seolah-olah mereka telah saling mengenal sejak lama.
Sejak hari itu, Putri Wulandari dan La Galigo selalu bertemu di bukit itu setiap malam. Mereka berbagi cerita, bernyanyi, dan berjalan-jalan di pantai. Hatinya yang dulunya sedih kini penuh dengan kebahagiaan. Namun, mereka tahu bahwa hubungan mereka tidak bisa terus seperti itu La Galigo adalah bidadari, dan Putri Wulandari adalah manusia. Mereka takut jika raja mengetahui, dia akan marah dan melarang mereka bertemu.
Suatu hari, seorang pemburu yang kebetulan melewati bukit itu melihat mereka bertemu. Dia segera melaporkan ke Raja Tunipalangga. Raja sangat marah ketika mendengarnya. Dia percaya bahwa bidadari itu akan membahayakan putrinya dan kerajaan. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk menangkap La Galigo dan mengusirnya dari bumi.
Pada malam berikutnya, ketika Putri Wulandari dan La Galigo bertemu seperti biasa, para prajurit tiba dan menyerang La Galigo. La Galigo yang lembut tidak mau bertempur, tapi dia harus melindungi putri yang dicintainya. Dia menggunakan kekuatannya untuk melarikan diri bersama Putri Wulandari, melarikan diri ke hutan yang dalam.
Mereka berlari secepat mungkin, tapi para prajurit terus mengejar mereka. Sampai akhirnya, mereka tiba di tepi tebing yang curam, di depan laut yang luas dan ganas. Tidak ada jalan lagi untuk melarikan diri. La Galigo memegang tangan Putri Wulandari erat-erat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, walau apa pun yang terjadi," katanya dengan suara yang tegas.
Putri Wulandari menangis. Dia tidak mau La Galigo menderita karena dirinya. "Pulanglah ke surga, La Galigo. Jangan biarkan dirimu terjebak di sini karena aku," katanya.
Tapi La Galigo menolak. Dia berkata bahwa dia telah menemukan cinta yang sesungguhnya di bumi, dan dia tidak akan pernah meninggalkannya. Pada saat yang sama, para prajurit telah tiba di tepi tebing. Raja Tunipalangga berdiri di depan mereka, memegang tombaknya.
"Keluar dari sini, bidadari!" seru raja. "Jangan pernah kembali ke kerajaanku!"
La Galigo melihat raja dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tidak berniat membahayakan putri atau kerajaanmu, Yang Mulia," katanya. "Aku hanya mencintainya dengan sepenuh hatiku."
Tetapi raja tidak mau mendengar. Dia memerintahkan para prajurit untuk menyerang. Pada saat itu, La Galigo membuat keputusan yang sulit. Dia menyentuh dahi Putri Wulandari, dan dalam sekejap, putri itu terlelap. Kemudian, La Galigo berbicara kepada raja.
"Jika kamu ingin aku pergi, aku akan pergi," katanya. "Tetapi aku memiliki satu permintaan. Jangan biarkan Putri Wulandari sedih lagi. Bangunkanlah sebuah candi di bukit di mana kita sering bertemu, sehingga dia bisa selalu melihat ke arah langit dan mengingatku. Dan jadikanlah candi itu sebagai tanda cinta yang abadi antara kita."
Setelah mengatakan itu, La Galigo melompat ke dalam laut yang ganas. Tiba-tiba, langit menjadi gelap, dan hujan turun dengan deras. Petir menyambar, dan guntur bergemuruh. Ketika hujan berhenti dan langit kembali cerah, La Galigo telah hilang.
Putri Wulandari bangun dan mencari La Galigo, tapi dia tidak menemukan apa-apa kecuali laut yang luas. Dia menangis sedih, dan raja melihatnya dengan rasa bersalah. Dia menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar dia telah memisahkan putrinya dari orang yang dicintainya.
Sesuai dengan permintaan La Galigo, Raja Tunipalangga memerintahkan untuk membangun sebuah candi di bukit yang telah mereka tempati. Candi itu dinamai Candi Balla Lompoa, yang berarti "Candi Rumah Besar" dalam bahasa Makasar. Candi itu dibangun dengan batu bata yang kuat, dan di dindingnya digambar cerita tentang cinta La Galigo dan Putri Wulandari.
Setiap hari, Putri Wulandari akan pergi ke candi itu, berdiri di puncaknya, dan memandang ke arah langit. Dia berdoa agar La Galigo selalu baik-baik saja, dan bahwa suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi. Meskipun dia sedih, dia juga merasa bangga karena cinta mereka telah menjadi legenda yang akan dikenang oleh generasi mendatang.
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang La Galigo dan Candi Balla Lompoa menyebar ke seluruh daerah Makasar. Orang-orang percaya bahwa candi itu memiliki kekuatan gaib yang datang ke sana dengan niat baik akan diberikan kebahagiaan, dan yang mencintai dengan tulus akan menemukan cinta yang abadi. Banyak pasangan muda datang ke candi itu untuk memohon restu agar cinta mereka tetap kuat dan abadi.
Hari ini, Candi Balla Lompoa masih berdiri kokoh di bukit yang sama. Meskipun telah mengalami zaman dan cuaca, candi itu masih menjadi bukti nyata dari cerita cinta yang abadi. Orang-orang Makasar masih menceritakan cerita La Galigo dan Putri Wulandari kepada anak-anak mereka, sehingga legenda itu tidak pernah terlupakan.
Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa pada malam-malam yang cerah dan bulan terang, mereka bisa melihat bayangan La Galigo dan Putri Wulandari berdiri di puncak candi, memegang tangan satu sama lain, dan memandang ke arah langit. Mereka percaya bahwa cinta mereka telah melampaui batas waktu dan ruang, dan bahwa mereka akan selalu bersama, meskipun hanya dalam bentuk bayangan.
Legenda ini juga memberikan pesan yang berharga bagi orang-orang Makasar: cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah mati, bahkan jika dipisahkan oleh apa pun. Ia akan tetap hidup dalam hati mereka yang percaya, dan akan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk mencintai dengan tulus dan setia.