Oleh Ainasta
Maret 1998. Udara Jakarta terasa tebal, bukan cuma karena panas lembap yang lazim, tapi karena kegelisahan yang meluas di antara warga. Di gang-gang sempit Petak Sembilan, Glodok, tempat Siti (28 tahun) berjualan bihun goreng setiap hari, suasana mulai berubah. Sejak beberapa minggu terakhir, berita tentang kenaikan harga bahan pokok beras, minyak, gula beredar seperti angin kencang. Orang-orang berkerumun di warung tegal cuma buat berbicara tentang kesulitan hidup, sementara murid-murid SMA mulai keluar dari sekolah buat mengadakan aksi demonstrasi.
"Bu Siti, bihunnya naik lagi ya?" tanya Pak Joko, pelanggan tetap yang selalu datang jam sembilan pagi. Matanya berbinar, bukan karena lapar, tapi karena khawatir. Siti mengangguk perlahan, tangannya yang penuh bekas luka bakar masih sibuk mengaduk adonan bihun. "Maaf ya Pak, minyak gorengnya naik 30% minggu ini. Aku cuma bisa naik sedikit aja."
Di balik senyumnya yang tetap, Siti merasakan denyut jantungnya berdebar kencang. Dia tahu bahwa ini cuma awal dari sesuatu yang lebih besar. Sejak tahun sebelumnya, ekonomi Indonesia mulai merosot parah rupiah melemah drastis terhadap dolar AS, bank-bank mulai macet, dan banyak perusahaan tutup usaha. Tapi pada Maret 1998, semua tekanan itu mulai meledak, membentuk badai yang akan mengubah nasib negara dan nyawa banyak orang.
Hari Sabtu, 14 Maret 1998. Siti baru selesai membersihkan warungnya ketika mendengar bunyi teriakan yang semakin dekat. Dia keluar ke jalan dan melihat rombongan murid-murid SMA berjalan berbaris, membawa spanduk tulis "Turunkan Harga Bahan Pokok!" dan "Merdeka dari Kekerasan Ekonomi!". Mereka berjalan dengan teratur, tapi suaranya penuh kemarahan dan kecemasan.
"Jangan keluar terlalu jauh, Bu Siti!" panggil Pak Udin, tetangga yang juga berjualan di gang itu. "Kabarnya ada yang tak teratur di daerah Lapangan Banteng." Siti mengangguk, tapi matanya tetap mengikuti rombongan murid. Dia melihat di antara mereka ada anak laki-laki yang mirip dengan putranya yang sudah kuliah di Yogya muda, penuh semangat, dan ingin mengubah dunia.
Beberapa hari kemudian, demonstrasi menjadi lebih besar dan semakin tidak terkendali. Di beberapa tempat, ada kerusuhan kecil, toko-toko dirampok, dan bentrokan antara massa dan aparat. Harga beras melonjak hingga Rp 15.000 per kg tiga kali lipat dari harga seminggu sebelumnya. Siti mulai kesulitan mendapatkan bahan baku untuk bihunnya. Kadang dia harus bangun jam tiga pagi buat antri di pasar grosir, hanya untuk mendapatkan sedikit beras dan minyak.
Padahal, sebelum ini, kehidupannya cukup teratur. Dia berjualan bihun goreng sejak suaminya meninggal lima tahun yang lalu, untuk mencukupi kebutuhan putranya yang kuliah. Dia selalu berharap bahwa suatu hari, putranya akan lulus dan bisa bekerja di perusahaan besar, sehingga keluarga mereka bisa hidup lebih baik. Tapi di tengah krisis 1998, harapan itu mulai memudar.
Satu malam, Siti menerima telepon dari putranya, Rio. Suaranya gemetar. "Ibu, di Yogya juga ada demonstrasi. Semua sekolah ditutup, dan aku takut ada yang terjadi. Bolehkah aku pulang ke Jakarta?" Siti merasa hatinya terjepit. Dia ingin Rio pulang, tapi jalan raya mulai sering macet, dan ada kabar tentang keamanan yang tidak terjamin. "Tunggu sebentar, sayang. Nanti ibu cari tahu cara yang paling aman buat kamu pulang."
Hari Rabu, 1 Mei 1998. Hari yang akan dikenang sebagai hari yang paling kelam dalam sejarah terbaru Indonesia. Siti bangun pagi seperti biasa, tapi udara terasa berbeda lebih tebal, lebih penuh ketakutan. Dia mendengar bunyi letusan yang jauh, dan suaranya semakin dekat.
Dia keluar ke jalan dan melihat kecemasan di wajah tetangga-tetangga. "Ada kerusuhan di daerah Mangga Dua!" teriak salah satu orang. "Toko-toko dirampok, orang-orang berlarian!" Siti segera masuk ke dalam warung dan menutup pintu rapat. Dia menangis diam-diam, memikirkan Rio yang masih di Yogya, dan tentang kehidupannya yang tiba-tiba terbalik.
Selama hari itu, kekacauan meluas ke seluruh Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Toko-toko dirampok, rumah-rumah dibakar, dan banyak orang terluka bahkan tewas. Banyak korban adalah warga etnis Tionghoa, yang dianggap sebagai penyebab kenaikan harga dan kesulitan ekonomi. Siti melihat dari jendela warungnya, dan hatinya terasa hancur. Dia tahu banyak warga Tionghoa di daerah Glodok mereka adalah tetangga, pelanggan, bahkan teman. Dia tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi sasaran kemarahan.
Pada sore hari, situasi semakin memburuk. Aparat tidak mampu mengendalikannya lagi, dan massa mulai berkeliaran bebas. Siti mendengar bunyi teriakan, tangisan, dan ledakan. Dia mengunci pintu warungnya dan bersembunyi di balik lemari, memegang teleponnya, berharap Rio menelepon. Tiba-tiba, ada bunyi ketukan yang keras di pintu. "Bu Siti! Buka pintu! Aku Pak Udin!"
Siti membuka pintu dengan waspada, dan melihat Pak Udin membawa seorang anak laki-laki Tionghoa yang terluka di kaki. "Dia nama-nya Tan, tetangga dari gang sebelah. Rumahnya dibakar, dia lari kesini." Siti segera menarik mereka masuk dan menutup pintu. Dia mengambil perban dari laci lemari dan menutupi luka kaki Tan. Anak itu menangis, "Bu, rumahku habis. Orangtuaku kemana ya?"
Siti memeluknya lembut. "Jangan khawatir, nak. Kamu aman di sini." Pada saat itu, dia menyadari bahwa di tengah kekacauan ini, yang paling penting adalah saling membantu. Tidak ada perbedaan etnis, agama, atau status sosial semuanya adalah manusia yang sedang menghadapi badai yang sama.
Hari Kamis, 2 Mei 1998. Situasi mulai mereda sedikit, tapi kerusuhan masih terjadi di beberapa tempat. Aparat mulai kembali menguasai jalan raya, dan bantuan mulai tiba dari berbagai pihak. Siti bangun pagi dan melihat Tan yang masih tidur di lantai warungnya. Pak Udin sudah keluar untuk mencari beras dan air minum, karena suplai mulai habis.
Beberapa jam kemudian, Rio menelepon. "Ibu! Aku sudah di Terminal Lebak Bulus! Bolehkah aku kesana?" Siti merasa lega yang luar biasa. "Ya, sayang! Tapi hati-hati di jalan ya. Minta sopir angkot buat ngantar ke gang Petak Sembilan." Sepuluh menit kemudian, Rio tiba di warungnya. Dia memeluk Siti dengan erat, dan keduanya menangis bersama. "Ibu, aku khawatir banget sama kamu."
Saat itu, ada bunyi ketukan di pintu. Siti membuka pintu dan melihat rombongan orang yang membawa makanan, air minum, dan obat-obatan. "Kami dari komunitas warga sekitar. Kami mau berbagi bantuan buat yang membutuhkan." Siti merasa harapan mulai muncul di hatinya. Meskipun situasi masih buruk, ada banyak orang yang bersedia membantu satu sama lain.
Selama hari itu, banyak warga di daerah Glodok berkumpul di gang Petak Sembilan. Mereka berbagi makanan, menolong korban kerusuhan, dan membicarakan tentang masa depan. Tan bertemu dengan orangtuanya yang juga selamat, dan mereka berterima kasih kepada Siti dan Pak Udin yang telah menolongnya. Rio membantu membagi bantuan, dan Siti melihat putranya yang dulunya hanya fokus pada kuliah, sekarang menjadi orang yang peduli dan tanggung jawab.
Pada malam hari, semua orang berkumpul di halaman depan warung Siti. Mereka membakar lilin, dan seorang ustaz yang ada di antara mereka membaca doa untuk korban kerusuhan dan untuk keselamatan negara. Siti mendengar doanya, dan hatinya terasa tenang. Dia tahu bahwa jalan ke pemulihan akan panjang dan sulit, tapi dia yakin bahwa dengan saling membantu dan berbagi, negara ini akan bangkit lagi.
Beberapa minggu setelah kerusuhan Mei 1998, situasi mulai membaik. Harga bahan pokok mulai menurun sedikit, suplai makanan dan air minum kembali normal, dan masyarakat mulai kembali ke kehidupannya sehari-hari. Namun, jejak kerusuhan masih terlihat di mana-mana rumah-rumah yang terbakar, toko-toko yang hancur, dan hati yang terluka.
Siti mulai membuka warungnya lagi, tapi bisnisnya jauh lebih susah dari sebelumnya. Banyak pelanggan telah pindah atau kehilangan pekerjaan, dan harga bahan baku masih tinggi. Tapi dia tidak menyerah. Dengan bantuan Rio dan Pak Udin, dia mulai memodifikasi menu menambahkan hidangan yang lebih murah, seperti nasi goreng sederhana dan bubur ayam untuk menarik pelanggan.
Rio, yang tadinya ingin bekerja di perusahaan besar, memutuskan untuk tetap di Jakarta dan membantu ibunya. Dia juga mulai bergabung dengan komunitas warga lokal yang bekerja untuk memulihkan daerah Glodok. Mereka membangun tempat ibadah yang hancur, menolong anak-anak yang kehilangan orang tua, dan mempromosikan kerukunan antar etnis.
Satu hari, seorang wartawan datang ke warung Siti. Dia ingin mendengar cerita tentang pengalamannya selama krisis 1998. Siti menceritakan semuanya tentang kekacauan, tentang kesulitan, tapi juga tentang harapan yang muncul dari antara kerusuhan. "Saya belajar bahwa di tengah kejamnya dunia, masih ada kebaikan di hati manusia," katanya. "Kita harus saling membantu, karena itu yang membuat kita kuat."
Cerita Siti dimuat di surat kabar lokal, dan banyak orang datang ke warungnya untuk mendengar ceritanya dan mendukung bisnisnya. Seiring waktu, bisnisnya mulai membaik, dan dia bahkan bisa membuka cabang kecil di gang sebelah. Rio juga berhasil mendirikan lembaga yang membantu anak-anak korban krisis untuk melanjutkan pendidikan.
Hari ini, lebih dari dua dekade setelah peristiwa 1998, Siti sudah tua, tapi hatinya masih penuh semangat. Dia masih berjualan bihun goreng di warungnya yang sekarang sudah lebih besar dan ramai. Rio sudah menikah dan punya anak sendiri, dan lembaganya yang didirikan telah membantu ribuan anak-anak. Siti sering menceritakan cerita tentang 1998 kepada cucunya, agar mereka tahu betapa pentingnya kerukunan, saling membantu, dan tidak pernah menyerah meskipun menghadapi kesulitan terbesar.
Peristiwa 1998 adalah bab yang kelam dalam sejarah Indonesia, tapi juga bab yang penuh makna. Ia mengajarkan kita tentang bahaya ketidakadilan ekonomi, pentingnya kerukunan antar etnis, dan kekuatan semangat manusia yang tidak mau menyerah. Sama seperti Siti, banyak orang yang mengalami kesulitan dan penderitaan selama masa itu, tapi mereka juga menemukan harapan di antara kekacauan melalui saling membantu, kebaikan, dan tekad untuk bangkit kembali.
Kita tidak boleh melupakan peristiwa 1998, karena dari sejarah yang kelam itu, kita bisa belajar banyak hal. Kita harus bekerja sama untuk membangun negara yang lebih adil, makmur, dan damai negara di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama, dan tidak ada yang harus menderita karena ketidakadilan. Hanya dengan begitu, kita bisa menjaga harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita.