Malam itu keraton Majapahit bergetar seperti tubuh raksasa yang sedang menahan amarah. Obor berderet di sepanjang lorong, tapi cahayanya bergetar oleh hembusan angin malam yang dingin. Dari ruang kurungan, Arya mendengar gaduh yang makin lama makin keras teriakan prajurit, derap kaki, dentingan logam. Sesuatu sedang pecah di dalam balairung.
Pintu ruangannya terbuka keras, dan prajurit muda yang dulu menolongnya masuk dengan wajah pucat. “Arya! Raja diracun. Balairung penuh pertumpahan darah. Kau harus lihat sendiri.”
Jantung Arya serasa berhenti. “Racun? Siapa yang melakukannya?”
“Itu yang sedang diperdebatkan,” kata prajurit itu cepat. “Tapi semua mata tertuju ke bangsawan-bangsawan besar. Dan beberapa orang menuduhmu juga.”
Arya merasakan darahnya berdesir. “Aku? Kenapa aku?”
“Kau orang asing,” jawab prajurit itu singkat. “Mereka butuh kambing hitam.”
Mereka berlari menembus lorong. Saat pintu balairung terbuka, Arya hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sang Raja terbaring lemah di singgasana naga emas, wajahnya pucat, bibirnya membiru. Para tabib sibuk, memberi ramuan penawar, tapi jelas racun itu bekerja cepat. Gajah Mada berdiri tegak di depannya, mata menyala bagai api, sementara bangsawan dan prajurit berteriak saling tuduh.“Itu perbuatan orang asing ini!” teriak Raden Wijaya, menuding Arya dengan amarah membara. “Sejak dia datang, istana ini tak pernah damai!”Arya melangkah mundur, jantungnya berdetak gila. Tapi Gajah Mada mengangkat tangan, suaranya mengguncang balairung. “Diam! Aku yang menjaga orang ini. Dia tidak menyentuh makanan Raja. Bukan dia pelakunya!”Keheningan jatuh sejenak, tapi hanya sebentar. Dari barisan pejabat tinggi, seorang bangsawan tua bernama Adipati Mahesa menelan ludah, wajahnya pucat. Matanya bergerak gelisah ke segala arah. Arya menangkap kegugupannya. Tabib yang baru saja memeriksa mangkuk minuman Raja tiba-tiba berseru, “Racun ini berasal dari tanaman langka Blambangan. Hanya bisa didapat lewat jalur dagang rahasia.”Semua kepala berputar menatap Adipati Mahesa. Ia memang dikenal punya hubungan dagang dengan pedagang Blambangan. Wajahnya langsung basah keringat. “Itu fitnah!” teriaknya panik. Tapi suaranya goyah.Gajah Mada melangkah maju, keris terhunus. “Adipati Mahesa, kau dituduh membawa racun ini. Apa kau sangkal?”Mahesa mundur, matanya liar. “Aku tidak aku hanya… aku hanya…”Tiba-tiba salah satu pengikutnya berteriak, “Lindungi Adipati!” Dalam sekejap, keributan meledak. Puluhan prajurit pengikut Mahesa menghunus senjata, menyerbu ke arah singgasana. Prajurit setia Raja segera membalas. Balairung yang suci pecah jadi lautan darah.Arya terjebak di tengah. Seorang prajurit menyerangnya dengan tombak, ia spontan meraih senjata yang tergeletak dan menangkis. Benturan membuat lengannya sakit, tapi insting bertahan hidup memaksanya menusuk balik. Darah hangat menyembur, menodai wajah dan bajunya. Arya terguncang, tapi tak bisa berhenti.Gajah Mada bertarung di garis depan, kerisnya menebas lawan satu per satu. Suaranya menggelegar: “Pengkhianat harus dibersihkan!”Api menyambar tirai-tirai balairung, asap menyesakkan. Arya dan prajurit muda bertarung bahu-membahu. “Arya! Adipati Mahesa dalangnya!” teriak prajurit itu. “Kita harus membuatnya mengaku sebelum ia kabur!”Mereka berdua menerobos ke arah Mahesa yang mencoba melarikan diri lewat pintu samping. Mahesa panik, kerisnya bergetar di tangannya. “Aku tidak bermaksud membunuh Raja!” teriaknya putus asa. “Aku hanya ingin melemahkan, agar dewan bisa mengambil alih! Itu ide wanita itu!”Arya tertegun. “Wanita? Siapa?”Mahesa menatap panik ke arah kerumunan selir. Di sana, selir misterius berdiri, wajahnya tenang meski api berkobar di sekeliling. Ia tidak tampak takut, bahkan tersenyum tipis.“Dia yang memberiku ramuan itu,” Mahesa menjerit. “Dia bilang hanya untuk membuat Raja sakit, bukan mati! Aku bersumpah, itu bukan rencanaku!”Semua mata menoleh ke arah selir misterius. Tapi wanita itu hanya melangkah perlahan, menatap Arya seakan ia satu-satunya yang mengerti. “Aku hanya menjalankan kehendak sejarah,” katanya lirih, namun cukup jelas untuk didengar di tengah kekacauan.Mahesa berusaha melarikan diri, tapi Gajah Mada menyusul cepat. Keris sang patih menembus dadanya, dan Adipati Mahesa jatuh berlumuran darah. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia berteriak, “Bukan aku! Bukan aku yang merencanakan ini! Itu dia… selir…” Suaranya melemah, lalu hilang.Balairung makin kacau. Para pengikut Mahesa melawan mati-matian, tapi perlahan dipukul mundur. Arya ikut bertarung, tubuhnya penuh luka kecil, tapi semangatnya tak padam. Api makin menjalar, membuat udara panas dan pengap.Di tengah hiruk pikuk, Arya menatap selir misterius yang masih berdiri tenang. Mereka saling bertemu mata. Arya tahu wanita itulah otak sesungguhnya. Mahesa hanyalah pion.“Kenapa?” Arya berteriak, suaranya parau. “Kenapa kau lakukan ini?”Wanita itu tersenyum samar, matanya berkilau dalam cahaya api. “Majapahit terlalu besar untuk bertahan. Darah harus tumpah agar sejarah bergerak. Kau juga tahu itu, bukan?”Arya gemetar, tidak tahu apakah harus membunuhnya atau membiarkannya. Tapi sebelum ia sempat bergerak, wanita itu melangkah ke balik asap dan menghilang, lenyap seolah ditelan malam.Pertempuran berlangsung hingga fajar. Balairung dipenuhi mayat, darah mengalir di lantai batu. Sang Raja masih hidup, meski lemah, racun masih bersarang di tubuhnya. Gajah Mada berdiri penuh darah, namun tatapannya tetap teguh.“Majapahit masih berdiri,” katanya lantang. “Pengkhianat sudah ditumbangkan.”Semua orang diam, menunduk. Tapi Arya tahu, ini baru permulaan. Dalang sejati masih bebas, bersembunyi di balik bayangan. Ia merasa waktu bergetar di sekelilingnya, seolah takdir sedang menunggu langkah selanjutnya.Arya berdiri di tengah puing dan mayat, tubuhnya lelah, pikiran kacau. Ia sadar, ia sudah jadi bagian dari sejarah Majapahit, entah ia mau atau tidak. Dan bayangan selir misterius masih membekas dalam pikirannya, senyumnya, kata-katanya, semuanya seperti tanda bahwa perjalanan ini jauh dari selesai.