Pada tahun 1337, di sebuah lembah terpencil di Jawa bagian timur, hiduplah sebuah desa bernama Sirna. Tak ada peta yang mencatatnya, dan para sejarawan masa kini pun nyaris tak percaya tempat itu pernah ada. Namun, sebuah catatan daun lontar yang ditemukan pada akhir abad ke-19 memberi petunjuk mengejutkan bahwa desa Sirna pernah mengalami peristiwa tak terbayangkan.
Awal Kehidupan di Lembah
Sirna dihuni oleh sekitar dua ratus keluarga. Mereka hidup tenteram dengan berladang, memelihara kerbau, dan menyembah dewa-dewa tua sebelum agama besar menyentuh wilayah itu. Tiap malam, lentera minyak bersinar redup dari rumah ke rumah, memantulkan kabut putih yang melayang di atas sawah.
Namun penduduk Sirna punya satu aturan aneh:
“Tiada seorang pun boleh menatap kabut pada malam tanpa rembulan.”
Orang luar menganggapnya sekadar takhayul, tetapi bagi warga Sirna, aturan itu setua desa sendiri.
Kedatangan Seorang Pengelana
Pada bulan Asuji, seorang pria asing datang. Namanya Rahesa, muda dan cerdas, membawa gulungan kertas dan tinta. Ia mengaku seorang penulis sejarah kerajaan, dikirim untuk memetakan daerah terpencil.
Penduduk menyambut dengan hangat, tetapi Rahesa merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Tiap malam ia mendengar bisikan angin atau suara manusia serta langkah kaki ringan di antara kabut.
Ketika ia bertanya tentang kabut tanpa rembulan, semua orang menolak bicara.
Malam Tanpa Rembulan
Pada malam ke-10 ia tinggal di Sirna, bulan menghilang. Kabut turun pekat seperti tirai tipis. Dari kejauhan terdengar genderang. Rahesa mengendap ke luar rumah.
Di tengah lapangan desa, para penduduk berdiri melingkar. Mata mereka kosong, seolah sedang tertidur sambil berdiri.
Tepat di tengah lingkaran, kabut membentuk sosok samar tinggi, kurus, menggigil, dan bernafas seperti makhluk hidup.
Rahesa terpaku. Sosok itu tiba-tiba menoleh ke arah tempatnya bersembunyi. Wajahnya bukan wajah manusia. Sepersekian detik kemudian, seluruh kabut bergerak menuju Rahesa seperti ombak besar.
Ia pingsan.
Kesadaran yang Mengubah Segalanya
Saat terbangun, ia berada di dalam rumah kepala desa. Di sekelilingnya, lontar-lontar tua berserakan. Sang kepala desa menatapnya penuh iba.
“Kau telah melihat Sirna yang sebenarnya,” katanya.
Ia menjelaskan kabut itu bukan cuaca.
Kabut itu makhluk.
Makhluk yang memberi kesuburan tanah, tetapi menuntut balasan: bukan korban, melainkan kenangan.
Setiap malam tanpa rembulan, makhluk kabut menyerap sebagian ingatan penduduk supaya mereka tetap melupakan masa lalu, agar tidak pergi dari lembah, agar tetap tinggal dan memberi makan tanah yang subur itu.
Itulah sebab warga jarang ingat tahun kelahiran, asal leluhur, bahkan nama anak yang meninggal. Semuanya hilang perlahan.
Rahesa ketakutan.
Satu Pilihan Mustahil
Makhluk kabut tak mau ia membawa pengetahuan keluar dari lembah. Bila Rahesa pulang, rahasia Sirna akan tersebar. Namun bila ia tinggal, ingatan hidupnya perlahan akan dilenyapkan.
Kepala desa menawarkan jalan ketiga:
ia harus menulis kebenaran di lontar, lalu meninggalkan lembah sebelum kabut menemukan apa yang ia simpan.
Rahesa menulis tanpa henti sampai subuh. Saat matahari terbit, ia meninggalkan Sirna melalui jalur sungai berbatu.
Ketika ia menoleh ke belakang, desa itu tak lagi terlihat seakan-akan tak pernah ada.
Lontar yang Tersisa
Enam abad kemudian, seorang peneliti Belanda bernama J. van Oost menemui keturunan Rahesa dan menerima lontar itu sebelum ia meninggal. Namun, catatan tersebut hanya memuat sedikit kalimat jelas:
“Sirna bukan nama tempat sirna adalah nasibnya.
Tak boleh dicari. Tak boleh diingat.”
Tak lama setelah lontar itu ditemukan, terjadi gempa yang meratakan bukti tanah di sekitar lembah. Tidak ada satu pun sisa desa, tidak ada jejak rumah, tidak ada tulang manusia hanya kabut tipis yang masih sering muncul pada malam tanpa rembulan.
Hingga hari ini, tidak ada sejarawan yang bisa memastikan apakah kisah itu nyata atau tidak.
Namun banyak orang desa sekitar bersumpah mereka pernah melihat cahaya lentera bergerak perlahan di tengah kabut lembah.
Dan bila ditanya siapa yang membawanya, mereka selalu menjawab:
“Mungkin… orang yang lupa sedang mencari rumahnya.”