Ia memejamkan mata, berusaha mengingat ruang dosennya di abad 21. Rak buku penuh catatan sejarah, aroma kertas tua, suara mahasiswa yang berdebat soal Majapahit. Semuanya terasa jauh, seperti mimpi yang perlahan memudar. “Kenapa gue ada di sini?” bisiknya lirih. Tangannya meraba saku jaket, memastikan dua benda yang masih ia punya: bolpen hitam dan buku catatan lusuh. Dua benda kecil itu kini seperti pusaka yang menghubungkannya dengan masa depan.
Keesokan harinya, suara hentakan tombak membangunkannya. Dua prajurit masuk, wajah keras tak berperasaan. “Bangun! Patih Gajah Mada menunggu!” Arya digiring keluar. Udara pagi menyapa, tapi bukannya memberi ketenangan, hawa istana justru terasa lebih menekan.
Balairung Majapahit terbentang megah di hadapannya. Tiang-tiang kayu menjulang dihiasi ukiran naga emas, lantai batu mengkilap dipoles, dan bau dupa bercampur wangi bunga cendana memenuhi udara. Para pejabat tinggi duduk berjajar, dengan pakaian kebesaran berwarna merah dan hijau, lengkap dengan ikat kepala berhias batu permata. Tatapan mereka menusuk seperti puluhan belati.
Di tengah ruangan, Gajah Mada berdiri. Tubuhnya tegap, wajahnya serius, sorot matanya seperti api yang bisa membakar keberanian siapa pun. “Arya,” suaranya berat, bergema ke seluruh ruangan. “Kau orang asing, tapi hadir saat racun hampir merenggut salah satu bangsawan. Jika kau hanya penonton, buktikan. Jika kau berbohong, nyawamu akan jadi tumbal.”
Arya menunduk, berusaha menutupi gemetar di tangannya. “Saya… saya akan cari tahu kebenarannya.”
Balairung seketika gemuruh. Beberapa bangsawan berbisik-bisik, ada yang menertawakan keberaniannya, ada pula yang menatap dengan tatapan penuh minat. Seorang lelaki tua di sisi kanan berkomentar lirih namun cukup terdengar, “Anak muda ini tidak tahu betapa cepatnya istana menelan orang asing.”
Gajah Mada mengangkat tangan, dan hening kembali tercipta. “Baik. Aku beri kesempatan padamu. Kau boleh menyelidiki. Tapi ingat, Majapahit tak pernah mengampuni pembohong. Jika kau gagal, hukumanmu adalah kematian di alun-alun.”
Arya merasakan dadanya kencang, tapi ia tahu tidak ada jalan lain.
Penyelidikan dimulai di dapur istana, tempat di mana minuman beracun itu dibuat. Dapur megah itu tak kalah ramai. Api menyala di tungku batu, wajan besar mendidih, aroma bawang putih dan jahe memenuhi udara. Para juru masak sibuk memotong, menggiling, dan menumbuk rempah. Namun ketika Arya masuk dengan dua prajurit penjaga, suasana seketika tegang. Semua orang berhenti bekerja, menunduk takut.
Seorang juru masak tua maju, wajahnya pucat. “Tuanku… aku hanya menyiapkan wedang jahe seperti biasa. Aku bersumpah tidak ada yang aneh.”
Arya mendekati bejana tempat minuman dibuat. Ia menatap cairan sisa di dasar kendi. Dengan hati-hati, ia mencelupkan jari lalu meneteskan cairan itu ke selembar kertas catatan. Ia menunggu perubahan. Tidak ada warna yang muncul, tapi aroma getir yang tajam langsung menyerang hidungnya. Aromanya bukan sekadar rempah ada bau logam yang asing. “Ini bukan racikan biasa,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Saat ia masih mengamati, sebuah suara lembut muncul dari ambang pintu. “Kau berani sekali menyentuh bejana itu.” Arya menoleh, dan di sana berdiri seorang wanita dengan kecantikan mencolok. Seorang selir istana, dengan pakaian sutra berwarna hijau, rambut panjang terurai, dan mata penuh rahasia.
Ia melangkah mendekat, bibirnya melengkung membentuk senyum samar. “Hati-hati, Arya. Kau melangkah di atas bara. Kebenaran bukan untuk semua orang. Ada yang akan membakarmu sebelum kau sampai ke intinya.” Ucapannya lirih, tapi setiap kata terasa seperti belati yang menembus dada.
Arya ingin bertanya lebih jauh, tapi wanita itu sudah berbalik pergi, menyisakan aroma melati yang samar-samar tertinggal di udara.
Malamnya, Arya kembali ke penjara. Ia tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi tanda tanya. Saat ia termenung, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Seorang pelayan muda muncul, wajahnya pucat, matanya gelisah. Ia menoleh kanan-kiri sebelum mendekat ke jeruji. “Aku… aku melihat seseorang malam itu.” Suaranya nyaris tak terdengar.
Arya berdiri mendekat. “Katakan padaku. Siapa?”
Pelayan itu menggigit bibirnya hingga berdarah. “Aku melihat seorang bangsawan masuk dapur sebelum subuh. Aku… aku takut menyebut namanya. Jika aku bicara, aku mati.”
Arya menatapnya dalam-dalam. “Kalau kau tahu sesuatu, simpanlah padaku. Aku takkan menyebut namamu.”
Pelayan itu menelan ludah, lalu berbisik, “Raden Wiratama.”
Begitu kata itu keluar, ia langsung berlari, menghilang di kegelapan lorong.
Arya membeku. Nama itu asing. Tidak ada buku sejarah yang pernah menyebut Wiratama. Ia mencatat cepat di bukunya: Wiratama- dapur - racun. “Kalau benar dia terlibat, kenapa namanya hilang dari catatan sejarah? Apa dia korban? Atau dalang yang sejarah sengaja hapus?”
Keesokan harinya, Arya kembali dihadapkan ke balairung. Suasana jauh lebih tegang. Gajah Mada duduk di kursi kebesaran, para bangsawan menatap dengan sorot penuh selidik. “Apa yang kau temukan?” tanya Patih dengan suara dalam.
Arya menarik napas panjang. “Saya menemukan bukti bahwa seseorang memasuki dapur sebelum kejadian. Namanya… Raden Wiratama.”
Keheningan jatuh seketika. Bangsawan saling berpandangan, sebagian wajah memucat. Dari sisi ruangan, seorang pria tinggi dengan sorot mata tajam berdiri. “Itu fitnah!” teriaknya. “Aku tidak pernah menyentuh racun! Orang asing ini hanya ingin menyelamatkan dirinya dengan menuduhku!”
Kegaduhan pecah. Beberapa bangsawan bersuara lantang, sebagian lagi hanya diam penuh curiga. Gajah Mada mengangkat tangannya, dan ruangan kembali hening. “Kita akan buktikan. Jika Arya salah, ia akan dihukum mati.”
Arya digiring kembali ke sel dengan tubuh bergetar. Ia tahu dirinya sudah melangkah terlalu jauh.
Malam itu, saat ia termenung di penjara, suara lirih terdengar dari balik bayangan. Selir misterius itu kembali muncul, wajahnya separuh tertutup selendang. “Kau berani sekali menyebut nama Wiratama,” katanya dengan nada yang samar antara kagum dan mengancam.
Arya menatapnya lewat jeruji. “Kau tahu dia bersalah?”
Wanita itu mendekat, senyumnya samar. “Kadang yang bersalah bukan orang yang terlihat. Kadang hanya pion kecil. Jika kau ingin tahu kebenaran, temui aku di taman teratai saat bulan purnama.”
Arya mendesah, menatap jeruji besi di depannya. “Aku ini tahanan. Bagaimana aku bisa keluar?”
Wanita itu menyelipkan sesuatu lewat celah kayu penjara: sebuah kunci kecil berukir naga. “Di belakang dinding selmu ada pintu rahasia. Gunakan kunci itu. Tidak banyak yang tahu jalur itu. Jika kau berani, aku menunggu.”
Arya menggenggam kunci itu erat. Logamnya dingin, tapi darahnya mengalir cepat, membuat jantungnya berdegup kencang. Untuk pertama kali, ia melihat jalan keluar. Tapi jalan itu bisa jadi pembuka kebenaran… atau awal dari akhir hidupnya.
