Di antara retakan bata kuno, muncul pusaran cahaya keemasan. Semula hanya sebesar koin, lalu melebar seperti lingkaran bulan. Udara di sekitarnya bergetar, rambut di tangannya berdiri, dan telinga mendengar dengungan halus. Jantung Arya berdegup kencang, logika modernnya melawan rasa penasaran, tapi langkahnya malah mendekat.
“Apa ini... wormhole?” gumamnya. Ia tahu betapa mustahilnya hal itu, tapi insting meneliti mengalahkan rasa takut. Ia meraih kamera untuk merekam, namun sebelum sempat menekan tombol, pusaran itu menyedot tubuhnya.
Arya merasa terlempar ke jurang kosong, tubuhnya melayang, dunia berputar, lalu keras sekali ia terhempas di tanah becek. Ketika membuka mata, ia melihat sawah hijau luas, langit lebih biru dari biasanya, dan jauh di kejauhan berdiri bangunan megah dengan atap tumpang. Suara teriakan prajurit terdengar, derap kaki, denting senjata.
Ia bangkit limbung. Sejumlah prajurit berbusana kulit dan kain batik, bersenjata tombak, menatapnya curiga. “Siapa kau, berpakaian aneh begitu?!” hardik salah satunya.
Arya baru sadar ia masih memakai jaket sport biru, celana jeans, dan sepatu kets. Jelas-jelas ia terlihat seperti makhluk asing. “Saya... tersesat,” jawabnya gugup.
Tanpa basa-basi, tangannya ditarik kasar, diikat dengan tali rotan. Ia digiring melewati jalan setapak, melewati desa dengan rumah-rumah kayu beratap rumbia. Wajah orang-orang desa penuh rasa ingin tahu, beberapa anak kecil menunjuk sambil berbisik, seolah sedang melihat mahluk ajaib.
Mata Arya terpaku pada dinding bata merah yang semakin dekat. Ia sadar, itu adalah keraton Majapahit, yang selama ini hanya ia kenal lewat buku dan situs arkeologi. Kini ia benar-benar berada di dalamnya, hidup di abad 14.
Dibawa masuk ke balairung, ia dipaksa berlutut di hadapan seorang pria berwibawa, berjubah kebesaran, berwajah tegas dengan sorot mata tajam Patih Gajah Mada. Arya tertegun. Ia tahu wajah itu dari relief dan literatur, tapi melihatnya hidup adalah hal lain.
“Siapakah engkau, wahai orang asing? Pakaianmu tak seperti rakyat negeri ini, bahasamu aneh,” suara Gajah Mada dalam dan berat.
Arya mencoba mengatur napas. “Saya bukan musuh. Saya datang dari tempat yang jauh... sangat jauh.”
Balairung sunyi. Para bangsawan berbisik-bisik, sebagian memandang dengan tatapan curiga.
Gajah Mada mencondongkan tubuh, menatap Arya dalam-dalam. “Jauh dari mana? Apakah engkau utusan kerajaan asing, atau mata-mata yang menyusup?”
Arya menggertakkan gigi. Ia tahu ia tidak bisa mengatakan kebenaran bulat-bulat, mereka tidak akan percaya pada cerita tentang abad 21. Namun terlalu banyak berbohong juga bisa membahayakan. Ia hanya menjawab, “Saya seorang pengembara, tersesat karena takdir.”
Patih menghela napas panjang. “Takdir, katamu? Ketahuilah, Majapahit sedang berada di tengah pusaran. Intrik istana bergejolak, musuh dari luar mengintai, dan pengkhianat berkeliaran. Kau akan diawasi. Jika kau berbohong, nyawamu jadi taruhannya.”
Arya hanya bisa menunduk. Ia sadar hidupnya sekarang benar-benar berada di ujung tombak.
Malam pertama ia tidur di ruang tahanan kecil. Namun ia tidak sendiri. Di samping jeruji, seorang pria tua berambut putih panjang duduk tenang, matanya redup tapi penuh kebijaksanaan. “Aku tahu kau bukan dari sini,” ucapnya tiba-tiba.
Arya terkejut. “Maksudnya?”
Pria itu tersenyum samar. “Auramu berbeda. Seperti seseorang yang ditarik dari masa lain. Jangan khawatir, aku pernah mendengar ramalan tentang kehadiran seorang asing yang akan jadi penentu nasib kerajaan.”
Darah Arya berdesir. Ia ingin menyangkal, tapi bibirnya kelu. Malam itu ia sulit tidur, hanya bisa menatap bintang, bertanya-tanya: apakah ia benar-benar ditakdirkan jadi bagian dari sejarah?
Keesokan paginya, istana geger. Seorang pelayan ditemukan mati dengan mulut berbusa, diduga diracun. Bisik-bisik menyebutkan bahwa itu adalah percobaan pembunuhan terhadap pejabat tinggi, namun korban salah sasaran. Nama Arya ikut terseret.
“Orang asing itu pasti pembawa sial!” teriak salah satu bangsawan.
Arya dipanggil lagi ke balairung. Kali ini tatapan orang-orang jauh lebih tajam, sebagian penuh kebencian. Gajah Mada menatapnya lama, lalu berkata, “Kau akan diberi satu kesempatan untuk membuktikan dirimu. Jika benar kau bukan mata-mata, kau harus membantu menemukan siapa dalang percobaan pembunuhan ini.”
Arya tercekat. Ia, seorang arkeolog yang biasa main dengan sekop dan catatan, kini diminta menyelidiki intrik istana yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Namun dalam hati ia tahu, ini mungkin satu-satunya cara untuk bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya.
Ia mengangguk pelan. “Baik. Saya akan coba.”
Begitulah, langkah pertama Arya di dunia Majapahit dimulai. Ia bukan lagi sekadar penjelajah waktu yang tersesat, tapi kini terjebak dalam pusaran intrik, konspirasi, dan rahasia yang bisa menentukan jatuh bangunnya sebuah kerajaan.

