Malam itu, langit Majapahit bertabur bintang seakan tak peduli pada rahasia yang berputar di dalam tembok istana. Bulan purnama menggantung tinggi, cahayanya menimpa susunan bata merah yang berdiri kokoh dan diam seperti raksasa penjaga. Arya duduk di sudut penjara, matanya menatap kunci kecil berukir naga yang dingin di telapak tangannya. Ia masih ragu apakah benda itu penyelamat atau justru jerat. Selir misterius telah memberinya jalan keluar, tapi jalan itu bisa berarti kebebasan sementara atau akhir hidup yang lebih cepat.
Ia meraba dinding penjara dengan teliti, mencari celah yang dimaksud wanita itu. Jemarinya menemukan batu bata yang sedikit menonjol dan retak di pinggirannya. Dengan tenaga seadanya, ia menekan, dan suara mekanisme kuno berderit. Pintu rahasia terbuka perlahan, menyingkap lorong gelap yang seakan menelan segala cahaya. Hawa lembap langsung menyergap wajahnya, membawa bau tanah basah dan lumut yang menempel di dinding.
Arya melangkah masuk, menyalakan obor kecil dengan api yang ia ambil dari pelita penjara. Lorong itu sempit, hanya cukup untuk satu orang, dan berliku seperti usus naga. Setiap langkah menimbulkan gema, seakan ada puluhan orang lain yang berjalan bersamanya di kegelapan. Sesekali ia berhenti, menahan napas ketika suara tikus berlari atau tetesan air jatuh dari celah batu di atas kepalanya. Pikirannya kacau, setengah berharap lorong ini benar-benar menuju taman teratai seperti yang dijanjikan, setengah takut kalau ia malah berjalan ke jebakan.
Setelah beberapa lama, udara pengap berganti dengan hembusan angin malam. Di ujung lorong, cahaya putih samar terlihat. Arya mempercepat langkah, dan matanya langsung disambut pemandangan menakjubkan ketika ia keluar. Taman luas terbentang, dengan kolam teratai yang tenang di tengahnya. Bunga-bunga putih mekar sempurna, kelopaknya memantulkan sinar bulan, membuat permukaan air berkilau seperti perak cair. Suara jangkrik dan gemericik air dari pancuran batu menambah kesan magis, membuat taman itu terasa seperti dunia lain yang terpisah dari intrik istana.
Di tepi kolam, sosok wanita itu berdiri anggun. Pakaian sutra hijau melambai lembut tertiup angin malam, rambut hitam panjangnya berkilau diterpa cahaya bulan. Tatapannya teduh namun menyimpan sesuatu yang dalam, sesuatu yang membuat Arya sulit menebak apakah ia teman atau musuh.
“Kau datang,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan angin.
Arya menatapnya dengan hati-hati. “Aku tidak punya pilihan lain. Kau memberi kunci, aku hanya mengikuti jalur yang kau tunjukkan. Sekarang aku ingin jawaban. Siapa Wiratama sebenarnya?”
Wanita itu menunduk sejenak, lalu tersenyum samar. “Wiratama bukanlah dalang. Ia hanya pion dalam permainan yang lebih besar. Orang yang kau lihat di dapur memang benar berada di sana, tapi tangan yang memberinya perintah jauh lebih berkuasa. Jika kau menyebut namanya di hadapan Gajah Mada, kau hanya menyingkap lapisan paling luar dari bayangan.”
Arya mengerutkan kening. “Lalu kenapa kau memintaku datang ke sini kalau hanya untuk bicara teka-teki? Aku butuh jawaban, bukan kiasan.”
Wanita itu mendekat, tatapannya tajam seperti pisau. “Karena kebenaran di istana bukan sesuatu yang bisa disebutkan sembarangan. Nama bisa membunuh lebih cepat dari racun. Jika aku menyebutnya padamu sekarang, mungkin malam ini juga tubuhku akan ditemukan di dasar kolam ini.”
Arya terdiam, perutnya terasa ditusuk rasa cemas. Ia menyadari betapa rapuh posisinya: seorang asing tanpa sekutu, kecuali suara samar dari seorang selir yang ia bahkan tidak tahu bisa dipercaya atau tidak.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya dengan suara pelan.
Wanita itu menatap lurus ke matanya. “Aku ingin kau bertahan hidup. Kau berbeda dari semua orang di sini. Kau tidak terikat darah, tidak terikat sumpah, tidak terikat janji. Justru karena itu kau bisa melihat lebih jelas. Majapahit sedang diuji, Arya. Racun itu hanyalah permulaan. Jika kerajaan ini runtuh dari dalam, sejarah akan berubah lebih cepat dari yang kau kira.”
Arya menahan napas. Kata-kata itu membuat pikirannya berputar. Ia teringat buku-buku sejarah di perpustakaan abad 21, semua catatan tentang kejayaan Majapahit. Tapi bagaimana kalau semua itu hanya potongan dari kenyataan yang penuh intrik dan rahasia yang tak pernah tercatat? Bagaimana kalau ia sedang menyaksikan sisi gelap yang sengaja dihapus dari naskah-naskah kuno?
Sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah berat terdengar dari arah pepohonan. Cahaya obor menari-nari, disertai suara prajurit yang berteriak. “Periksa taman! Ada laporan gerakan mencurigakan!”
Wajah wanita itu berubah panik. Ia meraih tangan Arya sebentar, hangat kulitnya kontras dengan dinginnya malam. “Kau harus pergi! Cepat! Ada lorong lain di balik pohon beringin itu, akan membawamu kembali ke sel. Ingat, jangan pernah sebut aku. Dan jangan percaya pada bayangan, bahkan ketika bayangan itu tampak bersahabat.”
Arya ingin berkata sesuatu, tapi wanita itu sudah melangkah mundur, lalu berlari menghilang di balik dedaunan. Prajurit semakin dekat, suara langkah mereka membuat tanah bergetar. Arya berlari menuju pohon beringin, menemukan celah sempit yang nyaris tak terlihat. Dengan cepat ia masuk, tubuhnya merunduk, lalu menyelinap ke lorong yang menurun curam.
Lorong ini lebih sempit dari sebelumnya. Ia harus merangkak, lututnya sakit terkena batu kasar, tangannya kotor oleh tanah. Suara prajurit terdengar samar di belakang, tapi untung mereka tidak menyadari keberadaannya. Setelah beberapa menit, Arya akhirnya muncul kembali di balik dinding selnya. Pintu rahasia menutup rapat, menyisakan ia sendirian di dalam penjara yang sepi.
Ia terduduk, napasnya terengah-engah. Kunci naga masih tergenggam di tangannya, dingin dan berat seakan mengingatkan bahwa semua ini nyata. Ia memejamkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Selir misterius itu jelas tahu banyak, tapi kenapa ia memilih Arya? Apa karena Arya benar-benar orang asing yang tak terikat, atau ada alasan lain yang lebih gelap?
Pagi berikutnya, prajurit kembali menjemput Arya. Balairung Majapahit kembali menyambut dengan megahnya, tapi kini atmosfernya lebih tegang. Para bangsawan duduk dengan wajah serius, beberapa berbisik-bisik penuh curiga. Di sisi ruangan, Wiratama berdiri dengan wajah muram, matanya tajam menatap Arya seperti ingin mengoyak.
Gajah Mada duduk di kursi kebesaran, tombak pusaka di sampingnya. Sorot matanya tak kalah menusuk dari malam sebelumnya. “Arya,” katanya, suaranya bergema. “Kau sudah menuduh seorang bangsawan. Apa bukti lain yang bisa kau bawa hari ini?”
Arya merasakan keringat dingin mengalir di pelipis. Ia ingin mengulang kata-kata selir itu, tapi teringat peringatannya. Jika ia menyebut nama sembarangan, ia mungkin hanya mempercepat kematiannya. Dengan hati-hati ia berkata, “Saya menemukan Wiratama memang berada di dapur malam itu. Tapi saya juga percaya ia hanya menjalankan perintah. Ada orang lain yang jauh lebih berkuasa di baliknya. Jika saya ingin menemukan kebenaran, saya butuh waktu.”
Ruangan langsung bergemuruh. Beberapa bangsawan berteriak, menuduh Arya pengecut. Wiratama melangkah maju, wajahnya merah padam. “Pembohong! Orang asing ini hanya bermain kata! Ia ingin menutupi kebodohannya dengan menuduh bayangan!”
Gajah Mada mengangkat tangannya, dan balairung kembali hening. Sorot matanya menancap ke Arya seperti tombak yang siap menusuk. “Kau akan diberi tiga hari. Tiga hari untuk menemukan dalang sebenarnya. Jika kau gagal, darahmu akan mengalir di alun-alun Majapahit sebagai pengingat bagi siapa pun yang berani mempermainkan kebenaran.”
Arya menunduk, dadanya sesak. Tiga hari. Waktu yang singkat untuk melawan jaring intrik yang bisa menjeratnya kapan saja.
Malam itu ia kembali ke penjara, duduk bersandar ke dinding dingin. Buku catatannya ia buka, dan ia menuliskan semua: racun, Wiratama, selir misterius, pesan tentang ujian bagi Majapahit. Tangannya gemetar saat menulis, tapi matanya tajam. “Kalau aku gagal, sejarah tetap berjalan seperti yang kutahu. Tapi kalau aku berhasil… mungkin aku akan menemukan sisi Majapahit yang tak pernah ditulis siapa pun.”
Di luar sana, bulan purnama mulai turun, digantikan kabut tipis yang menyelimuti istana. Tiga hari terasa seperti tiga detik bagi Arya, dan ia tahu, setiap detik bisa menjadi garis tipis antara hidup dan mati.
