Rhoma Irama, sang Raja Dangdut, lewat lagunya Manusia Tiada Sama menyentuh hati banyak orang. Lagu ini bukan sekadar hiburan, tapi sebuah kritik sosial tentang ketidakadilan, perbedaan status, dan cinta yang seringkali terhalang oleh aturan tak tertulis di masyarakat.
Cerpen ini mencoba menghidupkan kembali pesan dari lagu tersebut, membungkusnya dalam kisah fiksi yang nyata, penuh dialog, konflik batin, dan harapan. Inilah cerita tentang Bima dan Ratih, dua insan yang dipertemukan oleh cinta, namun dipisahkan oleh jurang status sosial.
Suatu malam, di pasar malam sebuah kota kecil di Jawa Tengah, lampu-lampu warna-warni berkelip, suara musik dangdut mengalun keras. Di tengah keramaian itulah Bima, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai penjual es dawet, bertemu dengan Ratih, seorang gadis cantik anak pengusaha kaya raya pemilik toko emas di alun-alun kota.
“Mas, satu gelas es dawet ya,” ucap Ratih sambil tersenyum.
Bima tertegun. Jarang sekali ada gadis cantik dengan pakaian mewah mau mampir ke lapak kecilnya.
“I.. iya, Mbak. Es dawet spesial,” jawab Bima gugup, menuangkan santan dengan tangan sedikit bergetar.
Ratih menatapnya sebentar, lalu tertawa kecil.
“Masnya kok grogi gitu?”
Bima ikut tertawa, menutupi rasa malunya.
“Ah, nggak, Mbak. Cuma… jarang ada pembeli seanggun panjenengan.”
Ratih tersenyum simpul, wajahnya merona. Entah mengapa, ia merasa nyaman. Dari situlah benih perasaan mulai tumbuh.
Hari-hari berikutnya, Ratih sering mampir ke lapak Bima. Kadang ia beli es dawet, kadang hanya sekadar ngobrol.
“Mas Bima, kalau hidup sederhana gini… Mas bahagia nggak?” tanya Ratih suatu sore.
Bima menatap langit, lalu tersenyum.
“Bahagia itu sederhana, Ratih. Selama aku bisa kerja halal, bisa makan, dan punya orang-orang yang aku sayang… itu sudah cukup.”
Ratih terdiam. Kata-kata itu menancap dalam hatinya. Di rumah mewahnya, ia memang punya segalanya, tapi sering merasa kesepian. Bersama Bima, ia menemukan kehangatan yang tak pernah ia dapat dari harta.
Namun, kisah cinta tak selalu berjalan mulus. Suatu malam, ketika Ratih pulang lebih larut dari biasanya, ayahnya menunggu di ruang tamu.
“Ratih! Kamu dari mana?” suara ayahnya, Pak Surya, menggema.
“Dari pasar malam, Yah. Beli dawet…” jawab Ratih pelan.
Pak Surya mengernyit. “Beli dawet? Atau… ketemu lagi sama pemuda miskin itu?”
Ratih terdiam. Ibunya yang duduk di samping ikut bicara.
“Ratih, kamu anak pengusaha. Masa depanmu jangan disia-siakan dengan orang yang tak jelas masa depannya.”
Ratih menatap orang tuanya dengan mata berkaca.
“Tapi Bu, Yah… Bima itu baik. Hatinya tulus. Bukankah cinta itu yang utama?”
Pak Surya menepuk meja dengan keras.
“Cinta tidak bisa mengisi perut! Kamu harus menikah dengan orang yang sepadan. Jangan nodai keluarga kita dengan pilihan salah!”
Malam itu Ratih menangis di kamarnya. Kata-kata orang tuanya terasa seperti jeruji besi yang mengurung kebahagiaannya.
Beberapa hari kemudian, Ratih menemui Bima di lapaknya. Wajahnya murung.
“Bima… orang tuaku tahu tentang kita,” suaranya lirih.
Bima menatapnya lekat.
“Terus? Mereka marah?”
Ratih mengangguk. “Mereka nggak merestui. Katanya… aku anak orang kaya, nggak pantas sama kamu.”
Bima terdiam lama. Matanya basah, tapi ia berusaha tegar.
“Ratih… aku cuma pemuda miskin, aku sadar itu. Tapi cintaku ke kamu… tulus. Kenapa manusia harus dibeda-bedakan? Apa salahku lahir dari keluarga biasa?”
Ratih menangis tersedu.
“Tidak ada salahmu, Bima. Justru aku yang terjebak dalam aturan keluarga.”
Bima menggenggam tangannya.
“Kalau cinta harus kalah oleh harta… berarti benar kata Rhoma Irama: Mengapa manusia tiada sama, yang miskin yang kaya dibeda-beda.”
Hari-hari berlalu. Ratih semakin jarang menemui Bima. Tekanan dari keluarganya makin besar. Bahkan, ia dijodohkan dengan anak seorang pengusaha kaya lain.
Sementara Bima, tetap berjuang di lapaknya. Malam-malam ia sering memetik gitar tuanya, menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama.
“Bukankah ada satu pepatah, cinta itu adalah buta… Tapi mengapa aku dicegah, jatuh cinta kepada dia…” suaranya lirih, menyayat malam.
Sahabatnya, Andi, menepuk bahunya.
“Bim, kamu yakin bisa lawan perbedaan itu? Mereka kaya, berkuasa. Kamu… cuma pedagang kecil.”
Bima menatap kosong.
“Aku nggak ingin melawan, Ndik. Aku cuma ingin cinta kami dihargai. Apa itu salah?”
Hari pernikahan Ratih dengan pria pilihan orang tuanya ditentukan. Namun, seminggu sebelum hari itu, Ratih nekat menemui Bima.
“Bima, aku nggak sanggup. Aku nggak cinta dia. Hatiku cuma untukmu.”
Bima menggenggam tangannya erat.
“Kalau begitu, ayo kita pergi, Ratih. Kita buktikan kalau cinta bisa melawan segalanya.”
Ratih terdiam. Matanya penuh keraguan.
“Tapi… aku nggak bisa ninggalin keluargaku. Aku anak tunggal. Kalau aku pergi… mereka hancur.”
Bima menunduk.
“Jadi… cinta kita kalah?”
Air mata Ratih mengalir deras.
“Bukan kalah, Bima. Tapi terpenjara.”
Hari itu, dari kejauhan, Bima melihat pesta pernikahan Ratih dengan pria kaya raya. Suara gamelan dan tawa tamu undangan terdengar riuh, tapi di hati Bima, hanya sunyi.
Ia duduk di lapaknya, memetik gitar, menyanyikan lagu Rhoma Irama dengan suara bergetar:
“Tak mungkin hatiku bisa menerima… selain cintanya, selain cintanya…”
Orang-orang di pasar menatapnya. Sebagian terharu, sebagian iba. Tapi bagi Bima, dunia seakan runtuh.
Cinta sejatinya direnggut bukan oleh takdir, tapi oleh perbedaan status sosial yang diciptakan manusia.
Cerita Bima dan Ratih adalah cerminan nyata dari lagu “Mengapa Manusia Tiada Sama” ciptaan Rhoma Irama. Lagu itu bukan sekadar irama dangdut, melainkan kritik sosial:
- Bahwa manusia sering dibeda-bedakan hanya karena harta dan status.
- Bahwa cinta sering kalah oleh aturan buatan manusia.
- Dan bahwa ketidakadilan itu melahirkan luka yang sulit sembuh.
Hingga kini, pesan lagu Rhoma Irama tetap relevan. Kisah Bima dan Ratih hanyalah satu contoh fiksi, tapi di dunia nyata, ribuan kisah serupa mungkin pernah terjadi.
Cinta seharusnya menyatukan, bukan memisahkan. Dan manusia… seharusnya sama di hadapan cinta.
