Di sanalah seorang lelaki bernama Aria sering duduk seorang diri. Ia menatap riak air yang bergelombang pelan setiap kali ranting jatuh dari pohon di sekitarnya. Kadang ia hanya termenung, kadang bibirnya bergetar seolah ingin berkata sesuatu pada telaga.
“Lelaki hanya berdiri di tepian telaga…” gumamnya pelan, seakan mengulang lirik lagu Franky Sahilatua – Lelaki dan Telaga yang sering ia dengar. Bagi Aria, lagu itu bukan sekadar nyanyian, tapi cermin kehidupannya.
Telaga menjadi tempat ia menaruh rindu, kesedihan, sekaligus pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
“Aku ingin rumah kita nanti dekat telaga ini, Aria,” kata Sinta suatu sore, sambil menunduk memandangi bayangan wajahnya di air.
Aria tersenyum, meraih jemari Sinta, dan menjawab, “Telaga ini akan jadi saksi kita. Selama airnya ada, cintaku juga ada.”
Namun, hidup tidak selalu seperti yang mereka bayangkan. Orang tua Sinta menginginkan ia menikah dengan orang lain seorang saudagar kaya dari kota. Sinta berusaha menolak, tapi tekanan keluarga terlalu kuat.
Hari itu, di tepi telaga, Sinta menangis di bahu Aria.
“Untuk apa kita bermimpi, kalau akhirnya aku harus pergi?” katanya pilu.
Aria tak bisa berkata apa-apa. Hanya diam, menatap lingkaran air yang pecah karena ranting jatuh. Seolah telaga pun ikut menangis.
“Pada air aku berkaca, membayangkan kekasih…” ia melantunkan penggalan lirik lagu Lelaki dan Telaga.
Kadang, ia bertanya pada embun yang jatuh:
“Untuk apa bertemu, kalau nanti berpisah?”
Atau bertanya pada ranting yang mengapung di permukaan:
“Untuk apa bercinta, kalau akhirnya bersedih?”
Namun embun tetap diam. Ranting hanya terombang-ambing. Jawaban tidak pernah datang.
Meski begitu, Aria tetap kembali. Karena di telaga, ia merasa dekat dengan kenangan Sinta. Mungkin cinta itu telah pergi secara nyata, tapi tidak pernah benar-benar mati dalam hatinya.
Suatu sore di musim kemarau, ketika telaga memantulkan cahaya senja berwarna keemasan, langkah kaki terdengar mendekat. Aria yang tengah duduk termenung menoleh, dan matanya membesar.
Seseorang berdiri di sana Sinta.
Wajahnya masih sama, meski waktu telah menambahkan sedikit garis halus di sudut mata. Rambutnya kini terikat sederhana, dan sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan: kerinduan sekaligus penyesalan.
“Aria…” panggil Sinta pelan.
Aria terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia berdiri, menatap perempuan yang dulu pernah ia cintai dengan seluruh jiwanya.
“Kenapa kau kembali?” akhirnya ia bertanya.
Sinta menunduk, mengambil napas dalam. “Aku… aku hanya ingin melihat telaga ini lagi. Tempat kita dulu bermimpi.”
Mereka lalu duduk bersebelahan, persis seperti dulu. Hening menyelimuti, hanya suara burung senja yang sesekali terdengar.
Aria menatapnya lekat. “Kalau kau bahagia, aku rela. Tapi kalau kau sedih, itu artinya telaga ini masih menyimpan jawaban.”
Sinta tersenyum getir. “Kau masih sama, ya. Lelaki yang selalu percaya pada telaga.”
“Bukan soal percaya,” jawab Aria. “Hanya saja di sini aku merasa jujur. Aku pernah menanyakan pada air, pada embun, pada ranting… tapi mereka semua diam. Mungkin memang cinta kita tak ditakdirkan, Sinta.”
Sinta menggenggam tangannya sebentar, lalu melepaskannya. “Mungkin benar. Tapi percayalah, aku tak pernah melupakanmu.”
Aria menatap permukaan air yang bergelombang kecil. Dalam hatinya, ia merasakan luka lama yang perlahan berubah menjadi tenang.
Sinta berkata, “Telaga ini tak pernah berubah, Aria. Airnya tetap jernih, pepohonannya tetap sama. Tapi kita… sudah berubah. Mungkin itulah hidup.”
Aria tersenyum kecil. “Ya. Telaga adalah saksi, tapi bukan jawaban. Kita sendirilah yang harus menemukan arti dari pertemuan dan perpisahan.”
Angin berhembus pelan, membuat lingkaran air semakin melebar. Seolah telaga ikut berbicara, meski tanpa suara.
Aria sadar, selama ini ia menunggu jawaban dari alam, padahal jawabannya ada di hatinya sendiri: cinta tidak selalu tentang memiliki, tapi tentang merawat kenangan dengan tulus.
Malam mulai turun. Sinta berdiri, bersiap pergi. Ia menatap Aria dengan senyum tipis.
“Terima kasih sudah menungguku, meski hanya di dalam kenangan.”
Aria mengangguk. “Dan terima kasih sudah kembali, meski hanya sebentar.”
Mereka berpisah tanpa air mata, hanya dengan kedewasaan. Karena mereka tahu, cinta yang sejati tidak selalu harus berakhir dengan kebersamaan.
Aria kembali duduk di tepi telaga, kali ini bukan untuk meratapi kesedihan, tapi untuk menerima kenyataan.
Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Lagu Franky Sahilatua benar… Lelaki dan Telaga bukan tentang akhir yang bahagia, tapi tentang perjalanan hati.”
Riak air tenang, bintang mulai berkilau di permukaan, dan telaga sekali lagi menjadi saksi.
Telaga menjadi simbol:
-
Air = cermin hati dan kenangan.
-
Embun = kesedihan yang jatuh perlahan.
-
Ranting = kepedihan yang mengusik ketenangan.
-
Kesunyian telaga = jawaban yang tidak pernah diucapkan, tapi dipahami dengan hati.
Melalui cerpen ini, kita belajar bahwa:
-
Tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan.
Cinta tidak hilang meski tak dimiliki.
-
Kenangan bisa menjadi kekuatan untuk melangkah ke depan