Di tanah subur Indraprasta, yang biasanya hijau membentang, kini tanah retak seperti kulit ular tua. Angin berhembus membawa debu kering, sungai tinggal aliran kecil berwarna keruh, dan aroma rumput layu tercium di setiap sudut desa.
Di tengah kesulitan ini, Prabu Yudistira, sang raja bijaksana, mengambil keputusan yang tidak diduga: menaikkan pajak demi mengisi kas negara.
Keputusan ini membuat rakyat resah. Mereka berkumpul di alun-alun, membawa obor dan suara teriakan yang bercampur dengan gamelan yang sumbang pertanda hati rakyat sedang bergolak.
Di tengah keresahan itu, seorang punakawan yang terkenal blak-blakan, Bagong, ikut merasa gelisah. Hatinya seperti diikat oleh dua tali satu tali kesetiaan pada junjungannya, dan satu tali welas asih pada rakyat.
Bagong Menghadap Kresna
Pagi di Dwarawati. Udara masih sejuk, aroma bunga kamboja dan kenanga memenuhi taman istana. Suara gamelan pelan mengiringi langkah Bagong yang tergopoh menuju paseban
Bagong: "Kanjeng Kresna… Kanjeng Kresna… Aduh, ndara kula nyuwun pirsa! Kulo iki bingung sanget! Rakyat Indraprasta ngamuk, ndara! Pajak diunggahke, padahal sawah wis dadi gurun, lemah wis retak-retak kaya kulit pitik kethek!"
Kresna tersenyum tenang, memandang Bagong yang terengah,
"Tenang, Bagong. Tarik napas dulu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bagong: "Lha, ngene, ndara. Rakyat padha nyuwun pajak diturunkan. Yen ora, rakyat ancam gelem ndeleng Prabu Yudistira lengser. Lah, piye iki, ndara? Mosok aku sing mbiyen ndhukung beliau dadi raja, saiki malah melu mlengserke? Iki atiku rasane kaya klelep ing blumbang endhek bingung ora ketulungan."
Kresna: "Bagong… setya marang junjungan iku becik, nanging setya marang kebenaran luwih luhur. Elinga, yen kowe mung mikir karo emosi, keputusanmu bakal nglarani salah siji pihak."
Bagong: "Tapi, ndara… dudu watakku ngiyanati sing tak junjung. Nanging nek aku ora mbela rakyat, atiku kok yo ora legan."
Kresna: "Wis, Bagong. Aku ora arep mutuske kanggo kowe. Nanging, pergilah engkau menghadap Bathara Guru. Mungkin beliau bisa memberi petunjuk."
Bagong Mencari Bathara Guru di Kahyangan Jonggring Saloka
Langit sore terlihat berwarna keemasan. Bagong naik ke kahyangan dengan awan-awan yang berarak pelan. Aroma dupa dan bunga sesaji tercium di gerbang Jonggring Saloka. Cahaya keemasan dari puncak kahyangan membuat suasana sakral
Di gerbang, Dewi Uma berdiri anggun, mengenakan selendang emas yang berkibar pelan dihembus angin surga.
Dewi Uma: "Lho, Bagong… apa gerangan engkau sampai naik ke kahyangan?"
Bagong: "Eyang Dewi Uma, kulo nyuwun pirsa. Bathara Guru wonten pundi? Kulo kepingin takon bab keputusan sing angel iki."
Dewi Uma: "Bagong… Bathara Guru sedang tapa brata di puncak Gunung Mahameru. Tidak bisa diganggu. Bahkan para dewa pun tidak berani mendekat."
Bagong: "Lha, piye to, Eyang? Aku iki lagi bingung, kepalaku mumet kaya dandang ketutup rapet, mendidih nanging ora metu uape."
Dewi Uma tersenyum lembut,
"Sabar, Bagong. Kadang jawaban itu tidak datang dari luar. Kadang, engkau harus menemukannya di dalam dirimu sendiri."
Bagong: "Yo wis, Eyang… Matur nuwun sanget. Kulo bali sek, ben ora kelalen dalane mudhun."
Bagong pun kembali Menghadap Kresna di Dwarawati pada malam hari . Bulan purnama menggantung di langit, memantulkan cahaya ke permukaan kolam istana. Suara serangga malam bercampur dengan bunyi saron yang dimainkan lembut
Kresna: "Bagong, ketemu Bathara Guru?"
Bagong: "Ora, ndara. Sing ketemu malah Dewi Uma. Beliau ngomong jawaban ana ing njero awakku dewe. Lha, piye maksude, ndara?"
Kresna: "Itu artinya, Bagong… engkau harus berpikir dengan hati yang jernih. Tanyakan pada dirimu sendiri: jalan mana yang tidak menyakiti siapapun? Kadang kita bisa membela raja tanpa mengkhianati rakyat, asal kita bisa menjadi penengah."
Bagong: "Oalah… tegese aku kudu dadi kaya banyu, ndara? Banyu sing bisa nyegerne raja lan rakyat bebarengan."
Kresna: "Tepat, Bagong. Jadilah bijaksana tanpa meninggalkan welas asih."
Bagong akhirnya menemukan jalan tengah. Ia kembali ke Indraprasta, membawa pesan damai untuk Prabu Yudistira sekaligus harapan rakyat. Dengan gaya punakawan yang lucu namun mengena, ia berhasil membuat sang raja tersadar tanpa merasa direndahkan.
Musim paceklik pun berakhir, pajak diturunkan, dan rakyat kembali tersenyum. Bagong belajar bahwa menjadi setia bukan berarti membenarkan segalanya, melainkan berdiri di sisi kebenaran dengan hati yang tulus.