oleh ainasta
Di kaki bukit Argalawu, di antara kabut yang tak pernah tidur, berdirilah pohon tua Wijayakusuma. Bunga ini hanya mekar di malam tanpa angin, saat bulan purnama menggantung penuh. Konon, bunga ini adalah jalan antara dunia nyata dan gaib, tempat para leluhur menitipkan pesan dan kutuk.
Nyai Raras, satu-satunya penjaga pohon itu, hidup dalam sunyi. Ia tahu, siapa pun yang menyentuh bunga Wijayakusuma dengan niat tersembunyi, tak akan mendapat berkah melainkan kutukan.
Datanglah Raka, seorang pemuda dari kota. Ia membawa harapan untuk adiknya yang lumpuh. Tapi jauh di dalam hatinya, ada bisikan ambisi: ingin tahu, ingin merasakan keajaiban itu sendiri. Malam itu, Nyai Raras memperingatkannya, “Lihatlah, tapi jangan kau sentuh.”
Namun saat bunga itu mekar, putih dan bercahaya seperti bulan, Raka tak kuasa menahan diri. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh ujung kelopak bunga itu. Sejenak, waktu terhenti.
Dari dalam bunga, muncul kabut gelap tipis, menyusup ke tubuhnya. Jantung Raka berdetak cepat, matanya nanar, dan bayangannya perlahan berubah bentuk. Bayangan itu tak lagi mengikuti gerak tubuhnya, tapi berdiri sendiri, bergerak seperti makhluk hidup yang memata-matai dirinya.
Keesokan harinya, adik Raka memang menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Tapi Raka sendiri mulai mengalami keanehan. Setiap malam, ia melihat sosok bayangan berdiri di sudut kamar, menggerakkan mulut tanpa suara. Saat ia bicara, suara lain ikut menjawab dalam kepalanya.
Kutukan bunga itu tak merusak tubuh, tapi menggandakan jiwanya, menciptakan sisi gelap yang tak bisa ia kendalikan. Ia sering berbicara sendiri, tertawa pada hal-hal yang tak ada, dan pelan-pelan, orang-orang menjauhinya.
Beberapa tahun kemudian, Nyai Raras wafat dalam tidurnya. Dan tanpa siapa pun tahu, Raka menggantikannya sebagai penjaga pohon Wijayakusuma. Kini, ia tinggal sendiri di kaki bukit Argalawu, berbicara setiap malam pada bayangannya sendiri menjaga bunga yang dulu mengubah hidupnya. Dan bunga itu? Tetap mekar, menanti pengunjung berikutnya.