Oleh Ainasta
Angin malam menari pelan di antara dedaunan bambu yang menjulang, melahirkan suara lirih yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah menunggu dalam diam. Di bawah cahaya bulan yang pucat, Radit duduk di bangku kayu tua yang mulai dimakan usia. Jemarinya bermain-main dengan sisa daun kering, sementara matanya memandangi langit yang kosong seperti hatinya malam ini.
Sudah lebih dari tiga jam sejak ia duduk di situ, berharap ada langkah ringan mendekat dari arah jalan kecil di sisi kanan. Langkah yang dulu selalu ia kenali dari bunyinya, dari degup jantungnya. Tapi malam tak memberinya apa-apa selain kesepian dan kabar yang baru ia terima siang tadi.
"Maaf, Dit... kita lebih baik tetap seperti ini. Aku nggak ingin merusak persahabatan kita. Kamu terlalu baik. Tapi aku nggak bisa."
Kalimat itu berulang di kepalanya seperti mantra yang tak bisa dipadamkan. Dan yang paling menyakitkan bukanlah penolakannya, tapi bahwa ia mengatakannya lewat pesan singkat, bukan lewat mata yang dulu selalu jujur menatapnya.
Radit menengadah, menatap bulan yang separuh. Ia ingat, malam yang hampir sama pernah menjadi saksi tawa mereka, ketika ia dan Rara duduk berdua di sini, berbagi pisang goreng hangat dan cerita-cerita yang hanya mereka berdua tahu.
"Kalau bulan lagi penuh, katanya doa kita bisa langsung nyampe ke langit," kata Rara waktu itu, dengan mata berbinar.
"Doa apa yang kamu kirim?" tanya Radit sambil pura-pura tak peduli.
Rara tertawa pelan. "Nggak bilang ah. Nanti kalau kesampaian baru aku cerita."
"Aku juga doa."
"Doa apa?"
"Biar kamu tetap di sampingku. Nggak pergi."
Rara diam sejenak, lalu menunduk sambil tersenyum. "Yakin kamu nggak bakal bosen?"
"Nggak akan pernah."
Dan nyatanya, malam itu jadi malam terakhir mereka duduk bersama di bawah rumpun bambu. Setelahnya, Rara mulai jarang membalas pesannya. Sering kali alasannya sederhana tugas kuliah, urusan keluarga, atau sekadar lupa. Tapi Radit tahu... orang yang benar-benar ingin, takkan lupa.
Ia sudah tahu sejak lama bahwa perasaannya mungkin bertepuk sebelah tangan. Tapi ia memilih bertahan, karena ada secercah harapan dari cara Rara tertawa, dari cara dia diam saat Radit bicara tentang masa depan. Tapi harapan itu kini patah, remuk tak bersisa.
Malam makin larut, dan Radit masih di sana. Di tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang seseorang yang hatinya tak pernah benar-benar bisa ia miliki. Ia menunduk, dan untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Bukan karena Rara menolaknya, tapi karena ia merasa... telah kehilangan rumah yang paling ia percaya.
"Kamu tahu nggak, Ra?" bisik Radit pelan. "Aku nggak pernah minta banyak. Nggak minta dicintai, bahkan. Aku cuma ingin tetap jadi orang yang kamu cari kalau kamu sedih... yang kamu ajak ketawa saat kamu bahagia. Tapi sekarang, bahkan itu pun bukan aku lagi."
Ia berdiri perlahan, menatap bangku kayu itu sekali lagi. Lalu berjalan meninggalkannya, melewati jalan kecil di antara semak dan rerumputan yang tumbuh liar. Langkahnya berat, tapi pasti. Ada sesuatu yang patah malam ini, dan mungkin takkan bisa diperbaiki lagi.
Tapi Radit tahu, cinta bukan soal memiliki.
Cinta adalah tentang merelakan, tentang mengenang dengan tulus, tentang mendoakan diam-diam meski hati sendiri hancur pelan-pelan.
Dan malam itu, di bawah rumpun bambu yang senyap, tertinggallah kisah yang tak selesai. Kisah tentang dua sahabat, tentang bulan dan doa yang tak terkirim, dan tentang hati yang memilih mencinta dalam diam meski akhirnya harus kehilangan.