oleh ainasta
Di zaman sebelum matahari menetapkan siang dan malam, dunia masih diselimuti cahaya lembut yang tak pernah padam. Segala yang hidup berjalan tanpa bayang, karena cahaya datang dari segala arah tanpa sumber, tanpa batas.
Di suatu lembah terpencil yang dikenal sebagai Rimba Liringga , hutan berbukit dengan kabut yang abadi., tinggallah seorang pemuda bijak bernama Ranu, seorang penjaga pengetahuan purba. Ranu adalah manusia terakhir dari kaum yang bisa berbicara dengan alam, memahami suara angin, desir daun, dan bisikan air.
Suatu malam, langit berubah. Kabut kelabu turun dari puncak tertinggi gunung purba yang disebut Gunung Tima, membawa bersama seekor makhluk asing: Aswara, roh cahaya tua yang cemburu. Aswara iri pada semua makhluk yang hidup, karena ia sendiri tak punya bentuk. Ia hanya cahaya. Ia ingin agar semua ciptaan tahu bahwa terang tak selamanya akan membawa kedamaian.
"Asal ada terang, semua akan ada kebenaran," kata Ranu kepada Aswara saat roh itu turun ke bumi dalam wujud kabut berkilau.
"Tapi juga asal ada terang, harusnya ada batas. Keseimbangan," jawab Aswara dengan suara bergema.
Aswara kemudian mengutuk seluruh makhkluk menjadi gelap , yang akan selalu mengikuti kemanapun meraka akan pergi jika terkena cahya. Mulai saat itu, siapa pun yang tersinari cahaya, akan membawa bentuk gelap yang mengikuti mereka (bayangan). Ia bukan hanya bentuk, tapi juga pantulan dari sisi tersembunyi pikiran, rahasia, dan luka hati.
Ranu menolak kutukan itu. Tapi Aswara berkata, “Jika kau menolak bayangan, maka kau takkan bisa mengenal siapa dirimu sendiri.”
Ranu kemudian bermeditasi di bawah pohon tua di puncak Rimba Liringga selama tujuh hari dan tujuh malam. Dalam keheningan, ia melihat bahwa bayangan memang bukan kutukan tetapi cermin dari kejujuran yang tersembunyi dalam cahaya.
Pada hari ketujuh, matahari muncul dari arah timur untuk pertama kalinya. Dari situlah cahaya mulai memiliki arah, dan bayangan pun terbentuk. Sejak itu, semua makhluk hidup memiliki bayangan masing-masing, sebagai penjaga bisu atas langkah dan niat mereka.
Konon, jika seseorang kehilangan bayangannya, maka ia telah kehilangan jiwanya menjadi hampa, seperti Aswara dulu.
Begitulah legenda asal-usul bayangan menurut kisah tua dari Rimba Liringga. Tak semua kegelapan adalah musuh. Kadang, justru di situlah kita mengenali cahaya.