Oleh: ainasta
Sore itu, angin bergerak pelan. Tidak terburu-buru, seolah mengerti bahwa waktu tidak sedang diburu siapa pun. Di tepi Danau Lembayung, duduklah seorang gadis dengan gaun linen sederhana, rambutnya sedikit kusut oleh angin, dan matanya diam memandang permukaan air yang tenang. Namanya Maria.
Bangku kayu yang ia duduki tampak tua dan mulai lapuk, tetapi di sanalah kenangannya bersemayam tempat ia terakhir menggenggam tangan permana.
Seekor angsa putih perlahan mendekat dari arah air, berenang tanpa suara. Maria mengangguk kecil, tersenyum tipis.
“Hari ini kamu datang lebih cepat, ya?” katanya pelan, seakan berbicara pada sahabat lama.
Angsa itu naik ke daratan, berdiri di dekat bangku, menatapnya dengan mata jernih. Seolah mengerti bahasa sunyi Maria.
Maria menghela napas. “Dulu... dia juga suka angsa. Katanya angsa itu setia. Hanya punya satu pasangan seumur hidup.”
Ia terdiam. Sore menggantung seperti lukisan yang nyaris selesai. Aroma basah rerumputan berpadu dengan dingin air danau, membalut tubuhnya dengan ingatan.
Dua tahun lalu, di bangku yang sama.
Permana menggenggam tangannya erat.
“Kalau aku harus pergi, kamu akan tetap menunggu di sini?”
Maria menoleh cepat, menatap matanya dalam.
“Kalau kamu benar mencintaiku, tak perlu diminta pun aku akan menunggu.”
Permana mencium keningnya, lalu menatap danau.
“Danau ini akan menyimpan janji kita.”
Tapi kepergian Permana ke daerah konflik untuk menjalankan tugas sebagai relawan medis tak pernah berujung pulang. Tidak ada kabar. Tidak ada berita duka. Hanya sunyi.
Sejak itu, Maria selalu datang ke danau, seperti menjadwal pertemuan dengan waktu yang diam.
Sore itu, angin berembus pelan seolah membawa suara yang pernah hidup.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut muncul di antara semilir itu. Bukan teriakan. Bukan bisikan. Tapi sesuatu yang menyentuh bagian hati yang dalam.
“Maria…”
Ia menoleh cepat. Tapi hanya angin. Dan angsa itu.
Namun suara itu terasa begitu nyata. Bukan halusinasi. Bukan mimpi. Seperti gema dari janji yang pernah diucapkan.
“Hiduplah. Jangan beku oleh penantian. Kalau cintaku nyata, ia akan menemukanmu… bahkan di ujung dunia.”
Maria memejamkan mata. Tak ada air mata yang jatuh. Hanya keheningan yang terasa ringan.
Lalu ia mengambil buku catatan kecil dari tas rotannya. Menulis sebaris kalimat:
"Jika suatu hari kau kembali, temui aku di tepi danau ini. Tapi jika tidak, temui aku di doa yang tak pernah selesai."
Ia merobek halaman itu, melipatnya menjadi perahu kecil. Ditempelkannya di punggung angsa putih yang masih menatapnya dengan kesetiaan aneh.
“Kalau kamu bertemu dia, tolong sampaikan.”
Angsa itu mengeluarkan suara lembut, lalu kembali masuk ke air. Perahu kertas mengapung pelan, menjauh bersama bayangan senja.
Maria berdiri. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia melangkah meninggalkan bangku itu bukan untuk melupakan, tapi untuk hidup.
Dan di danau itu, angin akan selalu mengalir.
Menjaga janji yang belum sempat kembali.