Di lereng Bukit Tirta, hiduplah seorang petani miskin bernama Jaya. Setiap hari ia menyabit padi di sawah warisan orang-tuanya. Suatu malam, Jaya mendengar dentuman di hutan bambu dekat ladangnya. Ia mendapati seekor naga hijau bersisik emas tergeletak, dadanya tertancap anak panah berujung perak. Darah hangat mengalir, berkilauan di bawah sinar bulan.
Naga: “Manusia… mengapa kau mendekat? Panah ini dicipta untuk membunuh makhluk langit sepertiku.”
Jaya: “Aku tak pernah membedakan raja atau naga. Luka adalah luka; biar aku obati.”
Dengan pisau arit, Jaya mematahkan tangkai panah, lalu menumbuk daun dadap dan akar kunyit menjadi ramuan penawar. Ia menempelkan racikan itu di luka sang naga, membalutnya dengan ikat-kepala tua milik ayahnya. Sepanjang malam Jaya berjaga sampai sang naga tertidur pulas. Saat fajar menembus kabut, naga itu bangkit, sisiknya berkilau seperti embun emas.
Naga: “Namaku Sagara. Hutang budiku tak terukur. Katakan keinginanmu.”
Jaya: “Aku hanya ingin sawahku subur dan tetanggaku sejahtera.”
Sagara tersenyum, menepukkan cakar ke dada Jaya.
Naga: “Kau kini memegang Tiga Kesaktian Tirta, yang pertama, kesaktian mulut Air di mana kau menggali tanah, akan memancar mata air, kesaktian yang kedua tangan Benih, apa pun yang kau tanam, akan berlipat hasilnya, dan yang ketiga Langkah Bayu kau akan bisa menempuh sehari dalam perjalanan sebulan. Gunakanlah hanya untuk kebaikan. Bila kau ingkar, kesaktian ini akan kembali padaku.”
Dalam hitungan musim, ladang Jaya berubah menjadi lautan padi kuning. Ia membangun irigasi dari mata-air baru, menyuplai desa-desa kering. Orang-orang menjulukinya “Tuan Tirta”. Para saudagar datang meminta gandum; raja mengundangnya ke istana.
Namun, kemuliaan gemar menggoda hati. Ketika lumbungnya menyesak emas, Jaya mulai menagih upeti air dan benih. Ia mendirikan laskar “Penjaga Tirta” yang menundukkan desa-desa tetangga, mematok pajak panen.
Istri Jaya, Sari: “Suamiku, bukankah dulu kita bersyukur makan nasi kasar? Mengapa kini kau memaksa rakyat?”
Jaya: “Diam! Tanpa jasaku, mereka tenggelam di tanah kering. Mereka harus membayar.”
Desas-desus keserakahan Tuan Tirta sampai ke gunung tempat naga Sagara bersemedi di dalam awan.
Suatu senja, Jaya hendak meresmikan bendungan raksasa yang, ironisnya, akan menenggelamkan enam dusun. Di jembatan pelangi yang melintasi sungai, kabut bergulung, dan Sagara turun, sisik emasnya menghitam oleh murka.
Sagara: “Kau lupa janji di bawah sinar bulan?”
Jaya (mendongak, angkuh): “Aku membangun kerajaan dari tanah becek. Aku penentu hidup rakyatku!”
Sagara: “Tanah subur milik siapa, Jaya? Mereka atau kesombonganmu?”
Jaya mengangkat tangan, memanggil angin: “Aku pemilik Langkah Bayu; tak ada yang bisa menyentuhku!”
Sagara mengepakkan sayap. “Maka kuambil apa yang akupinjamkan.”
Angin berhenti; mata-air mengering; pucuk tanaman layu seketika. Jaya merasakan tenaga lenyap, lututnya goyah. Pedang para prajuritnya berkilau, tapi setangkai bambu kecil saja kini terasa berat di tangannya.
Bendungan pun jebol disapu gelombang deras. Jaya terseret lumpur hingga ke lumbung yang pernah ia banggakan. Di sana para petani dulu sahabatnya menatap tanpa kata. Ia menggigil, meminta air, tapi sumur sudah kering.
Malam itu, di bekas gubuknya yang reyot, Sari duduk di samping Jaya.
Jaya, terisak: “Ampuni aku. Keserakahan menutupi mataku.”
Sari: “Rumah ini selalu cukup. Kau yang merasa kurang.”
Jaya: “Bagaimana menebus dosa pada Sagara dan rakyat?”
Sari menggenggam tangannya: “Mulai besok, kita menanam kembali dengan tangan kita, tanpa kesaktian.”
Bertahun-tahun berlalu. Jaya kini berubah mengajar anak-anak desa cara membuat pupuk kompos, mengairi sawah dengan jalur bambu sederhana. Walau panen tak seberapa, mereka cukup makan. Lewat kerja keras, bukan mukjizat.
Suatu pagi, saat Jaya menimba air di telaga dangkal, refleksi sisik hijau keemasan muncul di permukaan. Sagara melayang rendah, damai.
Jaya menunduk: “Tuan Sagara, aku tak layak menatapmu.”
Sagara: “Kesaktian sejati bukan api di tangan, tapi kerendahan hati yang menyalakan harapan. Kau telah belajar.”
Jaya: “Aku tak berharap apa-apa selain desa damai.”
Sagara mengangguk, perlahan memercikkan tetes air ke telaga. Mata-air kembali memancar, cukup untuk ladang tak lebih, tak kurang.
Sagara terbang ke langit, menghilang di balik awan cerah. Jaya tidak menjadi raja lagi, tetapi di hati rakyat ia disebut “Bapak Tirta” orang biasa yang pernah jatuh, bangkit, dan memilih kebaikan tanpa syarat.
Sebuah pesan yang indah dari cerita ini adalah kesaktian bila tak diimbangi hati yang rendah, akan berubah dari anugerah menjadi kutukan. Nilai tertinggi bukanlah kuasa, melainkan kebaikan yang tetap hidup meski semua keajaiban sirna.