Sebuah Legenda dari Tanah Murung Raya oleh Ainasta
1. Gambaran Umum Wilayah
Puruk Cahu adalah sebuah nama yang kini identik dengan Ibu Kota Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Terletak jauh di pedalaman pulau, wilayah ini dikelilingi oleh keindahan alam yang memukau namun juga menyimpan misteri yang turun-temurun. Secara geografis, Puruk Cahu terletak di bagian utara Kalimantan Tengah dan menjadi simpul penting yang menghubungkan berbagai kabupaten di wilayah Barito dan Murung.
Wilayah ini didominasi oleh dataran rendah dan perbukitan yang hijau, dilintasi oleh sungai-sungai besar yang menjadi nadi kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu kala. Hutan hujan tropis yang lebat menyimpan kekayaan flora dan fauna, serta menjadi rumah bagi berbagai suku bangsa asli Kalimantan, terutama Suku Dayak Murung, Dayak Siang, dan juga masyarakat Bakumpai yang hidup berdampingan secara damai.
2. Asal Usul Nama dan Filosofi
Nama "Puruk Cahu" memiliki makna yang sangat dalam dan sarat akan sejarah. Dalam bahasa setempat, khususnya dialek Dayak Murung, kata "Puruk" berarti bukit, gunung, atau tanah yang tinggi. Sedangkan kata "Cahu" memiliki arti yang sangat spesifik, yaitu "kualat", "terlarang", "sial", atau "pantangan".
Secara harfiah, Puruk Cahu dapat diartikan sebagai "Bukit yang Kualat" atau "Bukit yang Terlarang". Nama ini bukan diberikan tanpa alasan. Berbeda dengan nama tempat lain yang biasanya diambil dari nama tokoh pahlawan, jenis tumbuhan, atau kejadian alam yang indah, nama ini justru mengandung pesan moral yang keras dan peringatan berat bagi siapa saja yang melanggar aturan alam dan norma kesusilaan.
3. Kehidupan Masyarakat dan Adat Istiadat
Masyarakat di sekitar Puruk Cahu sejak dahulu dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan, adat istiadat, dan keseimbangan dengan alam. Mereka percaya bahwa alam semesta memiliki hukumnya sendiri. Jika manusia hidup benar, menjaga sopan santun, dan tidak melanggar garis keturunan atau aturan Tuhan, maka alam akan memberikan rezeki yang melimpah, panen akan berlimpah, dan kehidupan akan tentram.
Namun, jika ada yang berani melanggar "Pamali" atau aturan suci, maka murka alam akan turun. Bencana alam, penyakit, hingga kegagalan panen dianggap sebagai bentuk ketidakberkahan dari Sang Pencipta karena adanya dosa yang dilakukan oleh manusia di bumi. Kepercayaan inilah yang menjadi landasan kehidupan sosial masyarakat zaman dahulu, termasuk dalam cerita legenda yang akan kita baca berikut ini.
Legenda Caha dan Ibunda
Pada zaman dahulu kala, di sebuah lembah yang subur di tengah hutan belantara Kalimantan, terdapat sebuah perkampungan yang asri dan makmur. Perkampungan itu bernama Likun Puan. Udara di sana selalu segar, sungai-sungai mengalir jernih, dan pohon-pohon buah selalu berbuah lebat. Penduduknya hidup rukun, bekerja sama bertani dan berburu.
Di desa itu tinggal sebuah keluarga sederhana. Seorang janda yang bijaksana namun kini sudah mulai renta, dan kedua putranya yang gagah perkasa. Sang ibu bernama Nini Puan, sedangkan kedua anak laki-lakinya bernama Sakah dan Caha.
Sakah, si kakak, telah lama menikah dan memutuskan untuk pindah ke bagian desa yang lain untuk membangun rumah tangganya sendiri. Ia hidup bahagia bersama istrinya, dan sering datang berkunjung membawa hasil panen untuk ibunya.
Berbeda dengan Sakah, Caha masih tinggal serumah bersama ibunya. Caha adalah pemuda yang kuat, pekerja keras, namun memiliki satu sifat yang kurang baik: ia terlalu bergantung pada ibunya dan kadang kurang bisa membedakan antara kasih sayang anak kepada ibu dengan perasaan lain yang tumbuh di dalam hatinya seiring bertambahnya usia.
Mereka tinggal di sebuah bukit kecil yang agak terpisah dari pemukiman utama warga. Pemandangan dari rumah mereka sangat indah, namun kesunyian kadang menyelimuti hati Nini Puan.
Benih-benih Perasaan yang Salah
Hari demi hari berlalu. Caha semakin dewasa, namun ia tidak pernah tertarik untuk mencari istri atau bergaul dengan gadis-gadis di desa. Setiap pulang dari hutan atau ladang, matanya hanya mencari satu sosok: Ibunya.
Suatu sore, hujan baru saja reda. Caha duduk di beranda rumah, memandangi punggung ibunya yang sedang sibuk menumbuk padi di lesung. Gerakan tangan Nini Puan terlihat lelah, namun tetap anggun. Caha menelan ludah, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Perasaan sayang itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang salah.
"Ibu..." panggil Caha dengan suara berat.
Nini Puan menoleh, wajahnya keriput namun matanya masih teduh. "Ada apa, Nak Caha? Kamu sudah makan belum? Ibu baru saja masak sayur patin."
"Sudah, Bu. Tapi... Caha ingin bicara," jawab Caha sambil mendekat. Ia duduk bersimpuh di kaki ibunya.
"Bicaralah, Nak. Apa yang mengganggu pikiranmu? Apakah kamu sakit?" tanya Nini Puan penuh kasih sayang, ia mengusap kepala anaknya.
Sentuhan itu justru membuat gejolak di hati Caha semakin menjadi-jadi.
"Bu... Caha tidak butuh istri. Caha tidak ingin menikah dengan gadis mana pun di desa ini," ucap Caha dengan nada tegas namun bergetar.
Nini Puan tersenyum tipis. "Kenapa begitu? Kamu sudah dewasa, Caha. Sudah saatnya kamu mencari pendamping hidup, meneruskan keturunan. Sakah saja sudah punya anak."
"Tidak, Bu!" potong Caha agak keras. Ia menatap wajah ibunya lekat-lekat. "Di dunia ini, tidak ada wanita yang sebaik Ibu, tidak ada yang selembut Ibu. Hati Caha hanya untuk Ibu. Caha ingin hidup berdua saja dengan Ibu, selamanya."
Nini Puan tertegun. Ia menarik tangannya perlahan. Wajahnya berubah pucat. Ia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan ucapan anaknya.
"Caha... kamu gila! Jangan bicara sembarangan!" tegur Nini Puan dengan suara bergetar menahan marah dan takut. "Aku ini ibumu! Darah dagingmu! Itu dosa besar, Caha! Itu melanggar aturan Langit dan Bumi!"
"Tapi Caha mencintai Ibu..." desis Caha, matanya mulai berkaca-kaca namun dipenuhi hasrat yang membara. "Biarlah dunia menghukum, biarlah para leluhur marah. Yang penting Caha tidak mau kehilangan Ibu."
"Jangan! Jangan katakan itu lagi!" Nini Puan berdiri, gemetar seluruh tubuhnya. "Pergi kamu ke hutan! Tenangkan pikiranmu! Jangan dekat-dehati Ibu kalau pikiranmu masih kotor seperti itu!"
Nini Puan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Caha yang duduk termenung di luar dengan hati yang gelisah.
Malam yang Menentukan
Malam itu, bulan bersinar terang namun angin bertiup kencang, seolah alam pun merasakan akan ada kejadian buruk. Nini Puan tidak bisa tidur. Ia terus berdoa dalam hati, memohon agar Tuhan menuntun anaknya kembali ke jalan yang benar.
Namun, bisikan nafsu kadang lebih kuat daripada akal sehat. Caha, yang dibutakan oleh perasaan yang salah dan mungkin juga karena pengaruh roh jahat yang mengganggu, tidak bisa mengendalikan dirinya.
Di tengah keheningan malam, ia memberanikan diri mendekati kamar ibunya. Pintu tidak dikunci rapat. Nafasnya terdengar berat.
"Ibu..." panggilnya pelan.
Nini Puan terbangun. Ia melihat bayangan tubuh anaknya di bawah sinar rembulan. "Caha? Apa yang kamu lakukan? Keluar! Ini malam, tidak pantas kamu masuk ke kamar Ibu!"
"Bu... maafkan Caha..." suara Caha terdengar parau. "Caha tidak kuat menahan rasa ini. Biarkan kami menjadi satu, Bu. Agar tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
"Tidak! Caha, sadarlah! Ini akan membawa celaka bagi kita berdua! Bagi seluruh desa!" Nini Puan mencoba melawan, mencoba berteriak, namun usianya sudah tua. Tenaganya tidak sebanding dengan anaknya yang masih muda dan kuat.
Malam itu menjadi malam yang kelam. Di bukit yang seharusnya tenang itu, terjadi sebuah peristiwa yang sangat memalukan, sebuah pelanggaran terbesar dalam norma manusia. Hubungan terlarang antara ibu dan anak kandung terjadi di sana. Mereka melanggar batas paling suci, mengotori tempat tinggal mereka sendiri, dan menghina hukum alam.
Sejak saat itu, mereka tidak lagi hidup sebagai ibu dan anak. Mereka hidup dalam dosa yang besar, merahasiakan perbuatan terkutuk itu dari seluruh penduduk desa Likun Puan.
Alam yang Murka
Waktu berlalu beberapa bulan. Anehnya, sejak peristiwa malam itu, suasana di desa Likun Puan berubah drastis. Awan hitam seolah selalu menggantung di atas desa.
Apa yang dikhawatirkan Nini Puan akhirnya terjadi. Alam mulai menunjukkan kemurkaannya.
Pertama, sawah dan ladang warga yang biasanya subur mendadak menjadi kering kerontang. Padi yang mulai menguning tiba-tiba menjadi hampa dan busuk. Gagal panen besar-besaran terjadi.
Kemudian, sungai yang biasanya jernih dan penuh ikan, kini airnya menjadi keruh dan berbau tidak sedap. Ikan-ikan banyak yang mati mengapung.
Warga desa menjadi panik. Penyakit aneh mulai menyerang hewan ternak dan bahkan beberapa warga. Suasana damai berubah menjadi ketakutan. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, namun para tetua adat merasa bahwa ada "aib" atau dosa besar yang sedang menimpa desa ini. Ada sesuatu yang busuk yang membuat para Dewa dan leluhur murka.
Di balai adat, diadakan pertemuan besar. Para tetua, pemangku adat, dan seluruh warga berkumpul.
Kepala Adat: "Warga sekalian! Lihatlah keadaan kita sekarang! Ladang mati, sungai keruh, penyakit datang silih berganti! Ini bukan biasa semata. Ini adalah tanda bahwa ada seseorang di antara kita yang telah melakukan dosa besar, telah melanggar Pamali, telah mencemari kesucian tanah Likun Puan!"
Warga 1: "Benar, Tuai! Sejak kapan ini terjadi? Apa yang harus kita lakukan?"
Kepala Adat: "Kita harus melakukan upacara besar. Kita akan meminta petunjuk melalui Antang (Burung Elang). Burung itu adalah mata dan telinga Tuhan di bumi. Ia akan menunjukkan di mana letak dosa itu berada."
Akhirnya, diputuskan untuk mengadakan upacara Naah Antang. Upacara pemanggilan roh leluhur melalui burung elang untuk mencari sumber kesialan ini.
Petunjuk Langit
Upacara pun dilaksanakan. Mantra-mantra kuno dilantunkan, sesajen diletakkan di tengah desa. Setelah beberapa saat, dari langit biru, muncul seekor burung Elang yang besar dan gagah. Ia terbang tinggi, lalu mulai berputar-putar di atas desa.
Seluruh warga menahan napas. Mata mereka mengikuti arah terbang Elang itu.
Awalnya Elang berputar di atas rumah Sakah, lalu berpindah ke rumah-rumah warga lainnya. Namun, ia tidak mendarat dan tidak berhenti. Hingga akhirnya, pandangan mata burung itu tertuju ke arah bukit tempat Nini Puan dan Caha tinggal.
Wusss... Wusss...
Elang itu terbang mendekat, dan mulai berputar-putar tepat di atas atap rumah mereka berdua. Terus menerus, dengan kicauan yang keras dan menakutkan, seolah sedang meneriakkan kebusukan yang ada di sana.
Kepala Adat: "Lihat! Lihatlah ke sana! Elang tidak mau pergi dari situ!"
Warga 2: "Itu rumah Nini Puan dan Caha! Tapi kenapa? Apa yang salah dengan mereka?"
Kepala Adat: "Itulah sumbernya! Di sana letak dosa itu! Ayo kita kesana!"
Ratusan warga berjalan menuju bukit itu dengan langkah berat namun penuh keyakinan. Hati Nini Puan dan Caha hancur lebur melihat kerumunan orang datang dan melihat burung elang yang menunjuk ke arah rumah mereka. Mereka tahu, rahasia busuk mereka sudah terbongkar.
Pengakuan yang Memilukan
Sesampainya di sana, suasana menjadi hening dan mencekam. Nini Puan keluar dengan wajah pucat pasi, diikuti oleh Caha yang menunduk dalam, tidak berani menatap mata warga desa.
Kepala Adat: "Nini Puan... Caha... Katakan yang sebenarnya! Apa dosa yang telah kalian perbuat sehingga Langit begitu murka kepada kita semua?!"
Pertanyaan itu menggema. Nini Puan jatuh berlutut, air matanya mengalir deras. Ia tidak kuat menahan rasa malu dan bersalah.
"Maafkan kami... Maafkan kami semua..." isak Nini Puan.
Caha memeluk kakinya ibunya, tubuhnya gemetar hebat. "Salahku... Ini semua salahku, Tuai..."
Lalu, dengan suara terbata-bata, Nini Puan menceritakan semuanya. Mulai dari perubahan perasaan Caha, hingga peristiwa malam naas itu. Ia mengakui bahwa mereka telah melakukan hubungan terlarang, hubungan antara ibu dan anak yang dilarang oleh segala agama dan adat istiadat.
Mendengar pengakuan itu, seluruh warga ternganga. Kaget, marah, dan jijik bercampur menjadi satu.
Sakah yang juga hadir di sana merasa dunianya hancur. Ia menangis melihat adiknya dan ibunya melakukan hal sekeji itu. "Ya Tuhan... Kenapa harus terjadi pada keluargaku...?" teriak Sakah pilu.
Kepala Adat: "Astagfirullah... Kalian benar-benar telah melakukan dosa yang sangat besar! Kalian telah mengacaukan susunan alam! Kalian telah merusak garis keturunan! Karena perbuatan kalian, seluruh desa terkena musibah!"
Hukuman Adat dan Lahirnya Puruk Cahu
Karena dosa yang dilakukan sangat berat dan telah mencemari tanah tempat mereka berpijak, maka keputusan adat pun diambil. Mereka tidak dibunuh, karena nyawa adalah milik Tuhan, namun mereka harus menerima sanksi yang berat dan proses pembersihan alam yang disebut Nawai Onow.
Mereka dianggap sebagai sumber penyakit dan aib.
Kepala Adat: "Dengar baik-baik! Mulai detik ini, kalian berdua terbuang! Kalian tidak boleh lagi berbaur dengan warga desa! Kalian harus tinggal di bukit ini dan tidak boleh turun ke bawah!"
"Tanah tempat kalian berdiri ini, tanah yang telah kalian kotori dengan perbuatan bejat itu, mulai saat ini namanya bukan lagi Likun Puan. Tanah ini menjadi Kualat! Tanah ini menjadi Terlarang!"
"Seluruh penduduk dilarang keras mengambil kayu, menanam apapun, atau bahkan melewati tempat ini sembarangan! Siapa yang melanggar, maka sial akan menimpanya!"
Nini Puan hanya bisa menangis, "Hukumlah kami... Kami pantas menerimanya..."
Caha hanya bisa menyesal, namun penyesalan tidak berguna lagi. "Aku bodoh... Aku telah menghancurkan hidup Ibu dan hidupku sendiri..."
Sejak hari itu, bukit tempat mereka tinggal dinamakan PURUK CAHU.
Puruk artinya Bukit, Cahu artinya Kualat / Terlarang.