Danau sembuluh senja hari
Di hamparan hijau Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terbentang sebuah perairan luas yang menjadi permata dan sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Danau Sembuluh, demikian nama yang disandangnya, bukan sekadar genangan air biasa. Di balik keindahan dan ketenangannya, tersimpan kisah masa lalu yang kelam namun megah, tentang kekuatan sakti, kesombongan, dan peristiwa alam dahsyat yang mengubah daratan menjadi samudra air, sebuah legenda yang terus hidup dalam ingatan orang tua hingga kini.
Zaman dahulu kala, wilayah yang kini tergenang air itu adalah sebuah daratan yang tinggi, subur, dan sangat makmur. Hutan-hutan rimbun menyediakan hasil bumi yang melimpah, sungai-sungai kecil berair jernih mengalir membelah tanah yang gembur. Di tempat itu berdiri sebuah perkampungan besar yang dihuni oleh masyarakat yang hidup rukun dan damai di bawah lindungan dua orang tokoh besar yang sangat disegani.
Mereka bukanlah raja yang duduk di atas singgasana emas, melainkan dua orang tua sakti yang memiliki ilmu kanuragan dan kekuatan gaib yang luar biasa. Mereka adalah Embung Salik dan Embung Jimbai. Keduanya dikenal sebagai penjaga keseimbangan alam dan pelindung desa dari segala marabahaya. Namun, di balik kesaktian mereka, tersimpan pula sifat manusiawi yang terkadang sulit dikendalikan: rasa ingin membuktikan siapa yang paling hebat.
Suatu siang yang terik, matahari bersinar menyengat kulit. Embung Salik sedang duduk bersila di beranda rumah panggungnya yang terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Di tangannya, ia memainkan sebuah benda kecil yang berkilauan aneh. Itu adalah Batu Aji, sebuah pusaka peninggalan leluhur yang memiliki kekuatan magis luar biasa. Batu itu terasa hangat dan berdenyut seolah memiliki nyawa sendiri.
Tidak jauh dari situ, Embung Jimbai datang berkunjung. Langkahnya tenang namun setiap injakan kakinya seolah membuat tanah bergetar pelan. Ia melihat benda yang ada di tangan temannya itu.
"Wahai Embung Salik," sapa Embung Jimbai dengan suara berat yang bergema. "Apa yang sedang engkau mainkan itu? Tampak berkilauan sangat indah."
Embung Salik tersenyum bangga, ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi sehingga memantulkan cahaya matahari. "Ini, Embung Jimbai, adalah Batu Aji pusaka. Batu ini bukan batu sembarangan. Ia memiliki kekuatan untuk menahan bumi agar tidak berguncang, dan mampu mengubah kering menjadi basah, serta dataran menjadi tinggi. Hanya aku yang mampu mengendalikan kekuatannya."
Mendengar ucapan itu, Embung Jimbai tertawa kecil. Suara tawanya terdengar rendah namun mengandung tantangan. "Hahaha... Jangan terlalu sombong, Embung Salik. Memang batu itu bagus, tapi apakah sebanding dengan batu yang aku miliki?"
Embung Jimbai pun merogoh samping kainnya dan mengeluarkan sebuah batu serupa, namun warnanya lebih gelap dan memancarkan aura yang dingin menusuk tulang. "Lihatlah Batu Gede milikku ini. Kekuatannya mampu menembus bumi hingga ke pusat tanah. Jika aku meletakkannya, gunung pun bisa rata, dan tanah bisa ambles ke dalam."
Rasa bangga dan gengsi mulai memuncak di hati keduanya. Embung Salik menggelengkan kepala. "Jangan banyak bicara, Embung Jimbai. Batu milikmu mungkin kuat, tapi batu milikku lebih sakti. Cobalah kita adu kekuatan hari ini juga, untuk membuktikan siapa di antara kita yang layak menjadi pelindung negeri ini."
"Baiklah! Setuju!" jawab Embung Jimbai dengan tegas. matanya berkilat penuh semangat. "Mari kita buktikan di dataran tinggi di tengah hutan itu. Di sana tidak ada penduduk, sehingga kekuatan kita tidak akan membahayakan orang lain."
Keduanya pun berjalan menuju sebuah bukit rendah yang menjadi titik tertinggi di wilayah itu. Penduduk desa yang melihat kedua tokoh sakti itu berjalan dengan wajah serius mulai merasa cemas. Mereka berbisik-bisik, merasakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sesampainya di puncak bukit, angin mulai bertiup kencang meski langit masih cerah. Suasana menjadi mencekam.
"Silakan, Embung Salik. Tunjukkan kekuatan batu mu!" tantang Embung Jimbai.
Embung Salik tidak mau kalah. Ia mengangkat Batu Aji-nya tinggi-tinggi ke angkasa. Ia mulai melantunkan mantra-mantra sakti yang tak terdengar oleh telinga biasa. Perlahan, Batu Aji itu bersinar terang benderang, memancarkan panas yang membuat udara di sekitarnya menjadi gerah.
"Turunlah kekuatan! Tunjukkan wibawamu!" seru Embung Salik. Ia menjatuhkan batu itu ke tanah.
Bunyi hantamannya bukan seperti batu biasa, melainkan seperti guntur yang menyambar tanah. Tanah di sekitar tempat batu itu jatuh langsung retak panjang. Tanah pun terangkat naik membentuk gundukan besar.
Melihat itu, Embung Jimbai tersenyum mengejek. "Hanya begitu saja? Sekarang lihat milikku!"
Embung Jimbai pun memusatkan seluruh tenaga dalamnya. Batu Gede di tangannya bergetar hebat, mengeluarkan asap hitam tipis.
"Menembuslah ke dasar bumi! Hancurkan segala rintangan!" teriak Embung Jimbai dengan suara menggelegar.
Ia melemparkan batu itu dengan dahsyat tepat di sebelah batu milik Embung Salik.
Hantaman kedua batu itu bertemu. Bukan sekadar hantaman fisik, namun energi magis dari kedua benda pusaka itu saling bertabrakan, saling menolak, dan saling menarik dengan kekuatan yang luar biasa besar.
Seketika itu juga, bumi berguncang hebat.
"Apa yang terjadi?!" teriak Embung Salik yang mulai panik. Getaran itu bukan main kuatnya, membuatnya hampir jatuh terduduk.
"Kekuatan batu kita saling berebut dominasi, Embung Salik! Mereka tidak mau mengalah!" jawab Embung Jimbai yang wajahnya mulai pucat. Ia mencoba menarik kembali batu miliknya, namun batu itu seolah menancap kuat di tanah dan tidak mau bergerak sedikit pun.
"Kita harus menghentikan ini! Terlalu kuat!" seru Embung Salik. Ia mencoba mengucapkan mantra penenang, namun sia-sia. Energi yang sudah terlepas terlalu besar untuk diredam kembali.
Gempa itu semakin lama semakin dahsyat. Pohon-pohon besar tumbang berhamburan, tanah terbelah membuka jurang-jurang yang dalam. Suara gemuruh dari dalam perut bumi terdengar mengerikan, seperti raksasa yang sedang marah.
"Lihat! Tanahnya mulai ambles!" teriak Embung Jimbai sambil menunjuk ke bawah.
Benar saja. Karena pertarungan energi dua batu sakti itu, struktur tanah di bawah mereka menjadi rapuh. Daratan yang tadinya kokoh dan tinggi kini perlahan tapi pasti turun ke bawah, tenggelam, dan mencekung ke dalam.
"Maafkan aku, Embung Jimbai! Aku terlalu sombong!" tangis Embung Salik penuh penyesalan.
"Aku juga salah, Embung Salik! Kita telah melanggar aturan alam!" jawab Embung Jimbai dengan suara bergetar.
Namun semuanya sudah terlambat. Proses alam sudah berjalan. Tanah terus turun, turun, dan turun. Air dari sungai-sungai di sekitar dan dari mata air bawah tanah membanjir masuk dengan deras mengisi cekungan raksasa yang terbentuk.
Air itu naik dengan cepat. Mula-mula hanya membasahi kaki, lalu setinggi pinggang, hingga akhirnya menenggelamkan seluruh bukit dan daratan yang luas itu.
Dalam kepanikan itu, kedua batu sakti tersebut hilang ditelan tanah dan air, menghilang ke dasar yang paling dalam. Embung Salik dan Embung Jimbai berhasil menyelamatkan diri dengan kekuatan mereka yang tersisa, namun mereka harus menyaksikan dengan hati hancur bagaimana daratan tempat tinggal nenek moyang berubah menjadi sebuah danau yang sangat luas.
Air itu terus menggenang, membentuk permukaan yang luas dan tenang. Namun, masyarakat percaya bahwa ketenangan itu hanyalah topeng. Di bawah sana, kedua batu sakti itu masih terus berjuang, saling menolak dan saling menarik, menciptakan arus bawah yang kuat dan energi yang tak terlihat.
Sejak saat itu, danau itu dinamakan Danau Sembuluh. Konon nama itu diambil dari suara gemuruh "Buuuuluh..." saat tanah runtuh, atau karena air dan tanah yang seolah "menyembul" dan menggelembung sebelum akhirnya tenggelam.
Bertahun-tahun telah berlalu. Daratan yang tinggi kini telah menjadi kenangan, tinggal cerita yang diwariskan. Namun, jejak kejadian masa lalu itu masih sangat terasa hingga kini.
****
Ada juga sebuah cerita dari seorang nenek tua yang tinggal di gubuk kecil pinggir danau bernama Nek Minah. Ia adalah salah satu yang paling hafal cerita tentang Embung Salik dan Embung Jimbai. Suatu sore, seorang pemuda yang baru kembali dari rantau bernama Joko mendatanginya. Ia penasaran dengan mitos yang mengatakan bahwa danau ini memiliki lubang tanpa dasar dan dihuni makhluk gaib.
"Nek, apakah benar di tengah danau itu ada lubang yang sangat dalam? Dan apakah benar ada naga atau buaya raksasa yang menjaganya?" tanya Joko penasaran.
Nek Minah menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke tengah danau yang permukaannya tampak tenang namun gelap.
"Benar, Le. Itu semua bukan sekadar dongeng. Lubang itu adalah tempat jatuhnya dua batu sakti itu. Orang-orang menyebutnya Lubang Batung. Tidak ada yang tahu berapa dalamnya. Konon, batu-batu itu masih bertarung sampai sekarang, membuat arus di bawah sana berputar kencang seperti pusaran yang tak terlihat."
"Terus yang cerita soal makhluk penunggu itu bagaimana, Nek?" tanya Joko lagi, bulu kuduknya mulai meremang.
"Itu..." suara Nek Minah menjadi pelan dan berwibawa. "Makhluk itu sebenarnya adalah wujud energi dari kekuatan Embung Salik dan Embung Jimbai yang tak pernah mati. Atau bisa juga mereka adalah jelmaan dari batu-batu itu sendiri yang berubah wujud menjadi hewan besar untuk menjaga keseimbangan."
Nek Minah lalu menceritakan sebuah kejadian yang menimpa ayahnya dulu.
"Dulu ayahku pernah pergi memancing di tengah danau bersama teman-temannya. Saat itu cuaca cerah sekali. Tiba-tiba, tanpa awan mendung, angin kencang datang menyambar dari arah tak tentu. Air danau yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat, ombak besar muncul entah dari mana."
"Lalu apa yang terjadi Nek?" Joko menahan napas.
"Ayahku melihat sesuatu yang sangat besar bergerak di bawah air. Bentuknya memanjang, sangat panjang, punggungnya tampak sebongkah batu hitam yang licin. Salah satu temannya yang sedang duduk di tepi perahu tiba-tiba saja terjatuh, seolah ada tangan yang menarik kakinya ke bawah."
"Waduh! Seram sekali Nek!"
"Iya, Le. Temannya itu hilang ditelan air keruh. Ayahku dan yang lain panik, mereka berteriak meminta maaf, bersumpah tidak akan berbuat onar lagi. Mereka melemparkan beras dan telur ke air sebagai sesaji. Perlahan ombak itu tenang kembali, dan temannya itu muncul kembali mengapung, selamat namun pingsan."
"Katanya, saat dia sadar, dia bilang bahwa dia merasa dibawa ke sebuah istana bawah air yang indah sekali, dan disapa oleh dua orang tua berjubah putih yang sangat berwibawa. Orang tua itu berkata, 'Kami adalah penjaga air ini. Hormatilah kami, hormatilah alam, jangan bersumpah palsu dan jangan berkata kotor di sini.'"
Joko terdiam, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti. "Jadi mereka tidak jahat, Nek? Hanya ingin dihormati?"
"Betul sekali. Mereka itu penjaga yang setia. Mereka marah hanya jika manusia sombong, berbuat dosa, atau merusak. Jika kita datang dengan hati bersih dan sopan santun, danau ini justru memberi rezeki yang melimpah ruah."
Kisah demi kisah terus bermunculan. Ada yang melihat cahaya aneh berwarna-warni menari-nari di atas permukaan air saat malam bulan purnama. Ada juga yang melihat buaya putih besar yang berenang tenang tanpa mengganggu siapa pun, yang dipercaya sebagai penjelmaan roh baik.
Kisah serupa juga pernah terjadi pada dua orang nelayan, bernama Buyung dan Ahmad. Pada suatu malam saat sedang menarik jaring mereka di area yang tidak jauh dari Lubang Batung. Mereka sudah berjam-jam menunggu, namun ikan tak kunjungan ada yang menyambar.
"Buyung, sepertinya hari ini rezeki kita seret," keluh Ahmad sambil mengipasi wajahnya yang basah oleh keringat.
"Sabar Yah, mungkin belum jamnya. Tapi aneh, airnya terasa aneh. Warnanya jadi lebih gelap dari biasanya," jawab Buyung waspada.
Tiba-tiba, jaring yang mereka tarik terasa sangat berat, jauh lebih berat dari biasanya, seolah tersangkut sesuatu yang sangat besar di dasar.
"Woi! Berat sekali! Apa ini banyak ikannya?" seru Ahmad bersemangat.
"Ayo tarik bersama! Satu, dua, heeeepp!"
Mereka menarik sekuat tenaga. Namun, bukan ikan yang muncul, melainkan jaring mereka justru terseret sangat kencang ke tengah danau. Perahu mereka ikut terseret, meluncur di atas air dengan kecepatan tinggi meski tidak ada angin.
"Astagfirullah! Ada apa ini?!" teriak Ahmad ketakutan.
"Jaringnya putus! Cepat potong jaringnya!" teriak Buyung panik.
Ahmad segera mengambil parang dan menghayunkan ke tali jaring. Wusss! Tali putus, dan perahu mereka berhenti terseret. Namun, saat mereka melihat ke arah tali yang putus itu, mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka terasa membeku.
Di permukaan air, muncul sebuah kepala besar berbentuk ular atau naga, sisiknya hitam mengkilap memantulkan cahaya bintang, matanya merah menyala seperti bara api. Sosok itu mengeluarkan suara desisan yang sangat keras, membuat air di sekitarnya mendidih.
"Tu... Tuan... Ampun... Ampun Tuan..." Buyung dan Ahmad langsung bersujud di atas perahu, gemetar hebat. "Kami tidak bermaksud mengganggu. Ampunilah kami..."
Mereka menangis dan memohon ampun. Sosok raksasa itu hanya menatap mereka sebentar, lalu perlahan menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam kegelapan air, meninggalkan pusaran air yang besar.
Sejak kejadian itu, Buyung dan Ahmad tidak pernah lagi berani melaut sembarangan. Setiap akan berangkat, mereka selalu membawa sesaji, berdoa, dan berkata sopan santun. Mereka tahu betul, Danau Sembuluh bukan sekadar air, ia hidup, ia memiliki jiwa, dan ia memiliki tuan yang sangat berkuasa.
Hingga kini, Danau Sembuluh tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan. Para ilmuwan mungkin datang mengukur kedalaman, mempelajari arus, dan meneliti ekosistemnya. Namun bagi masyarakat Seruyan, danau ini adalah saksi bisu dari kesombongan dua pendekar hebat yang mengubah sejarah bumi.
Mereka tahu, di kedalaman sana, Batu Aji dan Batu Gede masih terbaring, masih menyimpan kekuatan yang luar biasa. Embung Salik dan Embung Jimbai mungkin sudah tiada dalam wujud fisik, namun roh dan kekuatan mereka abadi, menjaga setiap tetes air, setiap butir pasir, dan setiap ikan yang berenang di dalamnya.
Danau Sembuluh akan terus ada, tenang dan memikat, menyimpan jutaan rahasia di dalam dadanya. Siapa saja yang datang harus tunduk hormat, karena di sini, manusia hanyalah tamu kecil yang harus bijaksana, mengingat bahwa di atas langit masih ada langit, dan di dalam air, tersimpan kekuatan yang jauh melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh akal manusia.
Cerita ini akan terus diceritakan, dari mulut ke mulut, turun-temurun, agar generasi mendatang tidak pernah lupa, bahwa keangkuhan dapat mengubah daratan