Tahun baru adalah waktu yang biasa saya isi dengan merenung dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Tapi tahun baru kali ini berbeda. Saya dan empat sahabat saya Adi, Bima, Wahyu, dan Rendi memutuskan untuk mengisi liburan dengan ziarah dan rekreasi ke beberapa tempat bersejarah dan wisata spiritual di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kami memulai perjalanan dari Goa Akbar Tuban, lalu melanjutkan ke Tanjung Kodok Lamongan. Tempat-tempat ini bukan hanya indah, tetapi juga menyimpan nuansa spiritual yang kuat. Di tengah tawa dan kehangatan, kami tetap menyempatkan berdoa dan merenung.
Dalam perjalanan pulang, kami sepakat untuk mampir ke Lasem, sebuah kota tua yang penuh sejarah dan aura mistis. Tujuan kami adalah kompleks Pesujudan Sunan Bonang, tempat yang dipercaya sebagai lokasi tirakat Sunan Bonang, salah satu wali besar dalam sejarah Islam Jawa.
Setiba di lokasi, kami berlima duduk di depan musala kecil dan memanjatkan doa bersama. Entah kenapa, hati saya merasa ingin menjauh sebentar. Ada dorongan yang sulit dijelaskan. Saya pun pamit dan berjalan sendiri ke arah pojok kompleks, bagian yang menghadap langsung ke lautan lepas.
Angin laut menerpa wajah saya, dan suasana begitu hening. Saat saya memandang laut lepas, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian putih agak lusuh, mengenakan kopiah putih, muncul entah dari mana. Ia berdiri di samping saya dan berkata dengan nada yang membuat saya merinding:
"Kamu yang kemarin membuka pintu pesujudan ya?"
Saya langsung menoleh dan menjawab pelan:
"Oo ...Bukan ... Saya belum pernah ke sini sebelumnya ,Ini baru pertama kalinya."
Tapi pemuda itu menatap saya dalam dan dengan tenang kembali berkata:
"Iya, kamu. Kamu yang membukanya."
Saya makin bingung. Saya memang belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Tapi dia yakin betul, seolah sudah mengenal saya.
Pemuda itu mulai bercerita bahwa pintu pesujudan itu tidak bisa dibuka oleh sembarang orang. Banyak yang mencoba, tapi gagal. Tapi katanya, saat saya datang, saya bisa membukanya.
Saya masih mencoba memahami maksudnya, lalu saya bertanya:
"Bagaimana mungkin saya bisa membuka pintu itu?"
Ia menjawab pelan:
"Kamu mengucapakan salam ...dan doa ini"
Lalu ia menyebutkan sebuah doa yang sangat asing di telinga saya. Doa itu tak pernah saya dengar sebelumnya. Bunyi lafaznya seperti campuran antara bahasa Arab dan Jawa kuno dalam dan berat.
Saya bertanya kembali:
"Jenengan sinten?" ( Kamu siapa?)
Dengan santai, ia menjawab:
"Saya ini orang bodoh mas... Kerjaan saya cuma ngarit."(Ngarit: mencari rumput)
Jawaban itu terasa sangat dalam. Bukan karena kalimatnya, tapi karena cara dia mengucapkannya rendah hati, tulus, dan seakan-akan menyimpan sesuatu yang besar.
Ia lalu mengajak saya ke sisi samping bangunan dan menunjuk sebuah jendela kecil.
"Ini makam Ibu Cempa mas."
Saya menatap dalam diam. Aroma harum samar-samar tercium di udara. Tempat itu begitu damai.
Kami lalu berjalan ke teras depan makam, dan di sana pemuda itu mulai bercerita tentang kehidupan. Bukan ceramah, bukan dogma. Ia bicara dari hati.tentang niat, keikhlasan, jalan hidup yang lurus, dan pentingnya menjaga hati agar tidak sombong dalam berilmu dan berbuat.
Saya mendengarkan dalam diam, merasa seperti sedang ditegur tanpa dimarahi. Hati saya terasa ringan, entah kenapa.
Ketika langit mulai gelap, saya mengucapkan terima kasih. Tapi begitu saya menoleh... pemuda itu sudah tidak ada. Hilang begitu saja. Tak ada jejak kaki, tak ada suara langkah.
Saya kembali ke tempat teman-teman saya berada. Mereka sudah siap pulang. Saya tidak langsung cerita. Hanya duduk diam sepanjang jalan, menatap keluar jendela mobil sambil memikirkan kejadian barusan.
Di dalam hati, saya bertanya:
Siapa sebenarnya pemuda itu?
Kenapa dia tahu saya?
Dan bagaimana dia bisa menyebut doa yang begitu asing?
Saya tidak tahu jawabannya. Tapi sejak hari itu, saya merasa berbeda. Lebih tenang, lebih sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang apa yang tampak, tapi juga apa yang tersembunyi di balik setiap langkah dan niat kita.
Kisah ini nyata, saya alami sendiri. Mungkin terdengar seperti cerita mistis, tapi saya tidak peduli dianggap berlebihan. Karena bagi saya, pertemuan singkat itu mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan.
Semoga kisah ini bisa menjadi pengingat bagi siapa pun yang membacanya. Bahwa terkadang, dalam perjalanan yang kita anggap biasa, Tuhan menyisipkan pesan lewat orang-orang tak terduga.
Kata SEO: pengalaman ziarah tahun baru, kisah nyata spiritual Lasem, Pesujudan Sunan Bonang, makam Putri Cempa, pengalaman mistis Jawa Tengah, doa pembuka pesujudan, kisah pemuda misterius, pengalaman pribadi yang mengubah hidup.