Setelah peristiwa-peristiwa yang mengguncang batinnya di Bandung, Cirebon, hingga Soreang, Adi perlahan mulai terbiasa dengan kejadian-kejadian tak masuk akal yang datang padanya. Ia kembali ke Jakarta, berusaha menjalani hidup normal, kembali fokus mencari pekerjaan, dan menata masa depan sesuai jalur pendidikan sarjananya.
Namun, Jakarta ternyata belum selesai dengannya.
Pada suatu sore yang tenang, sekitar pukul 4 sore, pintu kontrakan Adi diketuk oleh seorang pria paruh baya. Ia mengenalkan diri:
"Nama saya Pak Mahmud. Saya datang dari bekasi, ada pesan penting untuk Anda, Mas Adi."
Dengan suara lembut namun tegas, pria berusia sekitar 50 tahun itu melanjutkan:
"Ibu Anda ingin bertemu. Sekarang beliau sedang menunggu di rumah saya."
Adi kaget, menatap tajam ke arah Pak Mahmud.
"Ibu mana yang bapak maksud ?...Pak. Saya rasa Anda salah orang," jawab Adi dengan tenang namun curiga.
Pak Mahmud tersenyum, seolah paham bahwa Adi akan bereaksi demikian.
"Saya hanya menyampaikan pesan. Ini alamat saya di sekitar Ruko Perumahan Satu, Bekasi. Kalau Mas Adi berubah pikiran, silahkan datang saja "
Pak Mahmud kemudian pamit, meninggalkan secarik kertas bertuliskan alamat lengkap.
Rasa penasaran mendorong Adi untuk berangkat, pada keesokan malamnya . Dengan naik angkot ia melintasi kepadatan malam ibu kota. Jalanan yang lengang di Bekasi membuat suasana terasa lebih sunyi dan penuh tanda tanya.
Tepat pukul 9 malam, Adi sampai di sebuah ruko sederhana, satu lantai, dengan lampu redup menyala di teras. Pak Mahmud membukakan pintu dan menyambut dengan ramah.
"Maaf, Mas Adi. Ibu tadi siang sudah pergi. Katanya karena Mas Adi tidak langsung datang, beliau harus melanjutkan urusannya di luar negeri."
Adi terdiam. Lalu bertanya:
"Ibu siapa, Pak?"
Pak Mahmud menjawab sambil menyeruput teh:
"Beliau mengaku bernama Ibu Sarinah. Katanya, beliau adalah bagian penting dalam hidup Bung Karno. Saya pun tidak tahu siapa beliau sebenarnya. Saya hanya dikasih uang dua juta rupiah untuk mencari dan menyampaikan pesan ini kepada Anda."
Nama Sarinah membuat Adi kembali terdiam. Sarinah adalah nama yang pernah ia dengar nama yang dijadikan simbol oleh Bung Karno, bahkan diabadikan menjadi nama sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta.
Meski tidak mengenalnya secara pribadi, Adi tak bisa mengabaikan rasa janggal di hatinya.
Belum reda rasa bingung, minggu berikutnya, Adi didatangi lagi oleh sosok asing. Kali ini, seorang pria keturunan Tionghoa datang ke kontrakannya. Ia memperkenalkan diri sebagai Kohde, tokoh spiritual dari Teluk Naga, Tangerang.
Dengan senyum kecil di bibirnya, Kohde berkata:
"Saya tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu bukan orang biasa."
Adi terdiam, tak tahu harus merespon apa.
"Bukankah nama lengkapmu adalah ini?" ujar Kohde sambil menuliskan nama lengkap Adi di secarik kertas.
Adi membaca kertas itu, dan matanya membelalak. Benar itulah nama lengkapnya yang sangat jarang diketahui orang.
"Bagaimana Anda tahu?"
"Karena ada 244 orang yang mengaku sebagai kamu. Mereka mengejar keuntungan, ingin terlihat sakti, dihormati, bahkan mendapatkan kekayaan. Tapi kamu adalah yang asli. Hati-hati, kamu sedang diawasi dan diuji."
Setelah berkata demikian, Kohde pergi begitu saja, meninggalkan Adi tenggelam dalam keheningan dan kebingungan.
Sebulan berlalu. Adi merasa terdorong untuk mencari Kohde. Dengan mengendarai motor, ia menembus Tangerang hingga sampai ke Teluk Naga, sebuah desa nelayan yang tenang di pesisir barat.
Ia tiba di rumah sederhana Kohde, namun istri Kohde menyambutnya dengan wajah berduka.
"Kohde sudah meninggal, Mas. Tujuh hari yang lalu..."
Adi terdiam, hatinya kembali terasa berat.
"Sebelum meninggal, dia berpesan untuk tidak dikremasi. Katanya, masih ada urusan penting di dunia ini yang belum selesai..."
Adi hanya menunduk. Matanya menerawang jauh. Mimpi, pesan-pesan aneh, nama-nama besar, orang-orang misterius, dan kini kematian seorang tokoh spiritual yang tahu nama lengkapnya.
Kembali ke Kontrakan, Masih Bertanya-Tanya
Malam itu, Adi duduk sendiri di kontrakan, menatap langit-langit kamar. Suara kipas angin menyatu dengan suara malam Jakarta yang mulai sepi.
"Siapa sebenarnya saya?" batinnya berbisik.
Kisahnya belum usai, dan jalan menuju jati diri yang sejati masih penuh teka-teki.
Bukan fiksi. Bukan drama. Ini nyata. Dan kamu perlu tahu akhirnya."
Kisah Nyata Perjalanan Mencari Jati Diri (4): Ibu dari Amerika, Nama Sarinah, dan Misteri 244 Orang di Teluk Naga
Tag SEO: kisah nyata spiritual Indonesia, pencarian jati diri, misteri Sarinah, pengalaman nyata bertemu tokoh spiritual, kohde teluk naga, perjalanan batin