Di awal tahun 2000, ketika dunia masih belum sepenuhnya memahami apa arti “terhubung secara digital,” sebuah kota kecil di pesisir Sumatra hidup di antara dua zaman masa lalu yang belum benar-benar pergi, dan masa depan yang belum sepenuhnya tiba.
Namanya "Kota Lemba"
Di kota itu, sinyal internet hanya bisa ditangkap di satu titik: sebuah warnet tua bernama “Gerbang Dunia.” Warnet itu dijaga oleh seorang pria paruh baya bernama Namra, mantan teknisi radio yang percaya bahwa gelombang udara menyimpan lebih dari sekadar suara.
Suatu malam di bulan Maret 2000, seorang pemuda bernama Nasta datang ke warnet itu. Ia bukan sekadar ingin membuka email atau bermain game seperti anak muda lainnya. Ia mencari sesuatu atau lebih tepatnya, seseorang.
Nasta membawa sebuah disket tua milik ayahnya yang telah meninggal dua tahun sebelumnya. Di disket itu tertulis satu kata dengan spidol pudar: “VERIS.”
“Apa ini bisa dibuka?” tanya Nasta.
Namra memandang disket itu lama, seperti mengenali sesuatu yang seharusnya tidak lagi ada.
“Bisa… tapi belum tentu harus,” jawabnya pelan.
Namun Nasta bersikeras.
Komputer tua di sudut ruangan dinyalakan. Suaranya berderit, seperti mesin yang dipaksa bangun dari tidur panjang. Saat disket dimasukkan, layar berkedip, lalu muncul sebuah tampilan hitam dengan satu baris tulisan putih:
“Masukkan nama yang ingin dilupakan.”
Nasta mengerutkan kening.
“Ini… program apa?”
Namra tidak menjawab.
Dengan ragu, Nasta mengetik nama ayahnya.
Enter.
Layar tiba-tiba berubah. Bukan lagi hitam, tapi menampilkan potongan-potongan gambar seperti rekaman memori yang tidak utuh. Ada wajah ayahnya, rumah mereka yang lama, dan sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: tanah luas berwarna gelap, seperti menyerap cahaya.
Di tengah layar muncul kalimat:
“Nama telah diterima. Proses penghapusan dimulai.”
“Ini bercanda ya?” Nasta mulai panik.
Namun sesuatu yang aneh terjadi. Ia mencoba mengingat wajah ayahnya dan mendadak samar. Seperti foto yang perlahan memudar.
“Stop! Hentikan!” teriaknya.
Namra langsung mencabut kabel listrik. Komputer mati. Ruangan kembali sunyi.
Nasta terengah-engah.
“Apa itu tadi?!”
Namra duduk perlahan. Wajahnya pucat.
“Itu bukan program biasa. Itu bagian dari proyek lama… proyek yang seharusnya tidak pernah selesai.”
Nasta menatapnya tajam.
“Proyek apa?”
Namra menarik napas panjang.
“Di akhir 90-an, ada sekelompok peneliti yang mencoba membuat sistem penyimpanan memori manusia. Bukan sekadar data… tapi ingatan. Mereka menyebutnya ‘VERIS’ Virtual Erasure and Retention Integrated System.”
“Penghapusan dan penyimpanan ingatan?” gumam Nasta.
Namra mengangguk.
“Tujuannya awalnya mulia. Menghapus trauma, menyimpan kenangan penting. Tapi mereka menemukan sesuatu yang tidak terduga.”
“Apa?”
“Setiap nama yang dimasukkan ke sistem… tidak hanya dihapus dari ingatan manusia. Tapi juga dari ‘tempat lain.’”
Nasta terdiam.
“Maksudnya?”
Namra menatap ke arah komputer yang sudah mati.
“Ada… semacam ‘tanah.’ Bukan di dunia ini. Tempat di mana nama-nama itu dikumpulkan. Orang-orang menyebutnya Tanah yang Menelan Nama.”
Nasta langsung teringat gambar yang tadi muncul di layar.
“Tempat gelap itu?”
Namra mengangguk pelan.
“Semakin banyak nama masuk, tempat itu semakin luas. Dan suatu saat… sesuatu dari sana mulai mencoba keluar.”
Angin malam berhembus masuk dari jendela yang terbuka. Lampu berkedip.
Nasta merasa dadanya sesak.
“Nama ayah saya…”
Namra menatapnya serius.
“Belum sepenuhnya hilang. Kita menghentikannya di tengah proses. Tapi kalau sistem itu aktif lagi…”
Kalimatnya terhenti.
Komputer tiba-tiba menyala sendiri.
Tanpa listrik.
Layar hitam kembali muncul.
“Proses belum selesai.”
“Silakan lanjutkan.”
Nasta mundur selangkah.
“Ini nggak mungkin…”
Layar berubah lagi. Kini bukan hanya gambar tapi seperti jendela. Tanah gelap itu terlihat lebih jelas. Dan di sana… ada bayangan.
Banyak bayangan.
Dan salah satunya… menoleh.
Nasta merasa sesuatu menatap balik dari dalam layar.
Lalu terdengar suara pelan, bukan dari speaker tapi langsung di kepalanya:
“Jangan… selesaikan…”
Itu suara ayahnya.
Namra langsung menarik Nasta menjauh.
“Dengar baik-baik. Kalau kamu lanjutkan, kamu mungkin tidak hanya kehilangan ingatan. Kamu bisa… menarik sesuatu keluar.”
“Terus saya harus bagaimana?!”
Namra terdiam sejenak.
“Putuskan koneksinya. Bukan listrik tapi jalurnya.”
“Jalur apa?”
Namra menunjuk ke belakang komputer, ke kabel jaringan yang terhubung ke sebuah antena tua di atap.
“Selama itu masih terhubung… VERIS masih ‘hidup.’”
Tanpa pikir panjang, Nasta berlari keluar. Malam itu gelap, hanya diterangi bulan separuh. Ia naik ke atap warnet dengan tangan gemetar.
Angin semakin kencang.
Saat ia mencapai antena, ia mendengar suara dari bawah bukan suara Namra.
Banyak suara.
Berbisik.
Memanggil nama-nama.
Dan di antara semua itu
Namanya sendiri.
Nasta hampir jatuh saat melihat ke bawah. Di jendela warnet, layar komputer bersinar terang. Dan bayangan-bayangan itu… kini memenuhi seluruh layar.
Seolah menunggu.
Dengan sisa keberanian, Nasta mencabut kabel utama.
Seketika
Semua sunyi.
Lampu mati. Angin berhenti.
Dan suara-suara itu… hilang.
Pagi harinya, warnet “Gerbang Dunia” tutup selamanya.
Namra menghilang tanpa jejak.
Nasta pulang dengan kepala penuh pertanyaan dan satu hal yang tidak bisa ia abaikan:
Ia masih mengingat ayahnya.
Namun… tidak sepenuhnya.
Ada bagian yang hilang.
Dan kadang, saat ia sendirian, ia merasa ada sesuatu yang mencoba mengingatnya kembali dari tempat yang tidak memiliki nama.
Sejak saat itu, Nasta tidak pernah menyentuh komputer lama lagi.
Tapi jauh di suatu tempat, di antara sinyal yang terlupakan dan data yang tidak pernah benar-benar mati
Sebuah sistem menunggu.
VERIS belum selesai.