Di kota Saitama yang penuh gedung apartemen, lampu neon, dan lorong-lorong sempit yang jarang dilalui orang setelah tengah malam, ada satu urban legend yang tidak pernah benar-benar mati, hanya beradaptasi dengan zaman. Dulu ia muncul di gang-gang sekolah dasar, memakai masker bedah dan membawa gunting. Kini, ia muncul di layar ponsel, di kamera depan, di CCTV, di rekaman yang seharusnya hanya menampilkan wajah kita sendiri. Namanya tetap sama: Kuchisake-Onna, Wanita Bermulut Robek.
Semua bermula dari Akiro, mahasiswa jurusan desain visual yang gemar berburu konten horor untuk kanal YouTube-nya. Ia percaya bahwa legenda-legenda lama Jepang hanya mitos yang dibesar-besarkan. Baginya, ketakutan adalah reaksi kimia di otak, bisa dipancing dengan pencahayaan, musik, dan sudut kamera. Malam itu, ia mengajak dua temannya, Mika dan Ren, untuk membuat konten “Urban Legend Jepang yang Masih Aktif”. Target mereka adalah daerah lama dekat sekolah dasar yang sudah hampir tutup, tempat banyak laporan penampakan wanita bermasker.
Pukul 23.47, mereka berdiri di depan gerbang besi berkarat. Angin musim gugur berdesir membawa bau lembap tanah dan daun membusuk. Kamera menyala, lampu LED kecil menerangi wajah mereka. Akiro mulai berbicara ke kamera, menjelaskan sejarah singkat Kuchisake-Onna: seorang wanita yang dibunuh atau disiksa oleh suaminya, mulutnya disayat dari telinga ke telinga, lalu arwahnya bangkit, bertanya pada orang yang ditemuinya, “Aku cantik?” Jika dijawab salah, ia akan membunuh; jika dijawab benar, ia akan membuka masker dan bertanya lagi, lalu tetap membunuh.
Mereka tertawa gugup, mencoba menertawakan cerita itu. Namun, saat Akiro memutar kamera untuk merekam lingkungan sekitar, layar ponsel tiba-tiba berkedip. Sekilas, di balik pagar sekolah, terlihat bayangan seorang wanita berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Ia memakai mantel panjang, rambut hitam tergerai, dan masker putih menutupi setengah wajahnya.
“Ada orang,” kata Mika pelan.
Ren menyorotkan senter. Tidak ada siapa-siapa. Pagar berderit tertiup angin. Lampu jalan berkelip, lalu stabil kembali. Mereka mengira itu hanya pantulan cahaya atau efek kamera. Akiro melanjutkan rekaman, semakin bersemangat karena suasana terasa “hidup”.
Namun, saat mereka memutar ulang klip beberapa menit kemudian, sosok itu jelas terlihat. Bukan pantulan. Wanita itu berdiri tepat di belakang mereka, hanya beberapa langkah jauhnya, menatap lurus ke kamera. Maskernya putih bersih, kontras dengan kulit pucat dan rambut hitam yang tampak basah, seolah baru keluar dari hujan meski malam itu kering.
Mereka merinding, tetapi Akiro menganggap itu kebetulan yang bagus untuk konten. Mereka memutuskan untuk berjalan menyusuri gang sempit di samping sekolah, tempat lampu-lampu lebih jarang dan bayangan lebih panjang. Setiap beberapa langkah, kamera depan Akiro menangkap sesuatu yang aneh: seberkas kabut tipis yang bergerak melawan arah angin, atau pantulan cahaya seperti mata yang berkedip di kegelapan.
Tiba-tiba, notifikasi muncul di ponsel Akiro. Bukan pesan, bukan panggilan. Kamera depan terbuka sendiri, menampilkan wajahnya. Namun di belakang pantulan wajahnya, ada sosok wanita bermasker itu, berdiri tepat di belakang bahunya. Mika dan Ren tidak melihat siapa pun secara langsung, tetapi di layar, wanita itu semakin dekat, seolah melangkah maju setiap kali Akiro berkedip.
Jantung Akiro berdegup kencang. Ia menoleh cepat. Gang kosong. Saat ia kembali melihat layar, wanita itu kini sangat dekat, matanya hitam tanpa cahaya, menatap lurus seakan menembus kaca.
Suara lirih terdengar dari speaker ponsel, padahal tidak ada audio yang diputar. “Aku… cantik?”
Mika membeku. Ren mundur beberapa langkah, hampir menjatuhkan kamera cadangan. Suara itu tidak berasal dari sekitar mereka, melainkan dari dalam ponsel, bergema seperti direkam di ruangan tertutup.
Akiro, setengah panik, setengah mencoba bersikap rasional, menjawab dengan suara bergetar, “Iya… kamu cantik.”
Layar ponsel berkedip. Wanita itu mengangkat tangannya, menyentuh maskernya. Gerakannya lambat, seolah setiap detik ditarik memanjang. Mika menutup mulutnya menahan jeritan saat melihat jari-jari pucat itu menarik masker ke bawah.
Di layar, terbuka mulut yang terbelah dari ujung bibir hingga hampir ke telinga. Dagingnya tampak seperti luka lama yang tidak pernah sembuh, menganga merah gelap. Giginya berlumur sesuatu yang mengkilap, mungkin darah, mungkin air liur yang memantulkan cahaya.
“Kalau begitu…” suara itu kini lebih jelas, lebih dekat, “bagaimana dengan sekarang?”
Akiro tidak sempat menjawab. Ponselnya mati mendadak. Gang kembali sunyi, hanya suara napas mereka yang terengah. Mereka berlari keluar gang tanpa menoleh, menuju jalan utama yang ramai, seolah keramaian bisa mengusir apa pun yang baru saja mereka alami.
Malam itu, mereka sepakat untuk tidak mengunggah rekaman tersebut. Namun, saat Akiro memeriksa file di rumah, satu video baru muncul di galerinya. Durasi: 00:00:13. Thumbnail-nya adalah wajahnya sendiri, diambil dari kamera depan, dengan sesuatu di belakangnya.
Ia memutarnya.
Video itu menampilkan Akiro yang sedang tidur di kamar, direkam dari sudut dekat wajahnya, seolah ponsel berada di udara tepat di atasnya. Di belakangnya, di sisi bantal, terbaring wanita bermasker itu, kepalanya miring, mata terbuka lebar menatap kamera. Perlahan, ia mengangkat tangan, membuka masker, memperlihatkan mulut robeknya, lalu berbisik, sangat pelan namun jelas: “Kamu belum menjawab.”
Video berakhir dengan layar hitam dan suara gunting beradu, klik… klik…
Keesokan harinya, Akiro tidak datang ke kampus. Mika dan Ren mencoba menghubunginya, tidak ada jawaban. Mereka mendatangi apartemennya bersama polisi. Pintu tidak terkunci. Di dalam, kamar rapi, tidak ada tanda perlawanan. Hanya satu hal yang aneh: di meja, ponsel Akiro tergeletak, menyala, kamera depan aktif, merekam ruangan kosong.
Di layar, pantulan mereka terlihat. Namun di belakang pantulan itu, berdiri sosok wanita bermasker, tersenyum.
Polisi tidak menemukan Akiro. Tidak ada rekaman CCTV yang menunjukkan ia keluar gedung. Seolah ia menghilang di dalam kamarnya sendiri.
Beberapa hari kemudian, di media sosial Jepang, muncul tren aneh. Banyak pengguna mengeluh bahwa kamera depan ponsel mereka kadang terbuka sendiri, menampilkan wajah mereka dengan sedikit jeda, seperti ada filter yang tidak sinkron. Beberapa mengunggah tangkapan layar. Di sudut foto, samar-samar, terlihat bayangan wanita bermasker.
Komentar berdatangan, sebagian menganggap itu hanya efek glitch. Sebagian lain, yang lebih peka terhadap legenda lama, mulai memperingatkan: jangan pernah menjawab jika ada suara bertanya dari layar, jangan pernah memuji, jangan pernah menatap terlalu lama.
Namun, rasa penasaran selalu lebih kuat daripada peringatan.
Suatu malam, Mika menerima pesan dari akun Akiro. Pesannya hanya satu kalimat: “Dia sekarang ada di kameramu.”
Mika menatap layar ponselnya. Kamera depan terbuka. Wajahnya sendiri muncul, pucat, mata membesar. Di belakangnya, di kegelapan kamar, perlahan muncul sosok wanita bermasker, semakin dekat, semakin jelas.
Suara itu terdengar lagi, lembut namun penuh ancaman, seperti pisau yang menggesek kaca:
“Aku… cantik?”
Mika gemetar menatap layar ponselnya. Wajahnya sendiri terlihat pucat, namun fokus matanya justru tertarik pada sosok di belakangnya. Wanita itu berdiri terlalu dekat, begitu dekat hingga Mika merasa napasnya sendiri seolah bukan lagi miliknya. Masker putih menutupi setengah wajah, rambut hitamnya menjuntai menutupi sebagian mata. Dari layar, wanita itu memiringkan kepala dengan sudut yang tidak mungkin dilakukan manusia normal, lalu mengulang pertanyaan dengan nada lebih dalam, lebih berat, seolah keluar dari rongga dada yang kosong.
“Aku… cantik?”
Mika tidak mampu menjawab. Lidahnya terasa kaku. Ia ingat betul legenda yang diceritakan Akiro: jawaban apa pun bisa menjadi salah. Jika menjawab tidak, ia akan dibunuh. Jika menjawab ya, ia akan dipaksa melihat wajah sebenarnya dan tetap dibunuh. Dalam versi modern yang beredar di forum-forum gelap Jepang, ada satu saran: alihkan pertanyaan, jawab dengan pertanyaan lain, atau sebutkan sesuatu yang ambigu, sesuatu yang tidak memicu kemarahan maupun kepuasan.
Namun, sebelum Mika sempat berpikir, suara lain muncul dari speaker ponsel, bukan suara wanita itu, melainkan suara Akiro. Suara yang dikenalnya dengan jelas, namun terdengar jauh, seolah berasal dari ujung terowongan.
“Jangan jawab… jangan lihat terlalu lama…”
Mika menahan napas. Ia ingin memejamkan mata, tetapi rasa takut membuatnya justru menatap layar semakin lekat. Wanita itu mengangkat tangannya, menyentuh masker, gerakannya perlahan, penuh kesabaran yang mengerikan. Seakan ia tahu waktu bukan lagi milik Mika.
Ren, yang berada di apartemennya sendiri beberapa kilometer jauhnya, tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul: panggilan video dari Mika. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkatnya.
Layar terbagi dua. Di satu sisi, wajah Mika yang pucat dan berkeringat. Di sisi lain, pantulan kamera depan Ren sendiri. Namun, di belakang pantulannya, berdiri sosok yang sama: wanita bermasker dengan rambut hitam panjang. Ren membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Ren… jangan bicara… jangan jawab apa pun…” bisik Mika, hampir tidak terdengar.
Suara wanita itu kini terdengar di kedua ponsel, seolah panggilan video menjadi jembatan baginya untuk hadir di lebih dari satu tempat sekaligus.
“Aku… cantik?” ulangnya, kini dengan gema, seakan banyak mulut mengucapkannya bersamaan.
Ren, yang selama ini paling skeptis di antara mereka, merasakan ketakutan murni menjalar dari tengkuk hingga tulang punggung. Ia ingin menutup panggilan, melempar ponsel, lari keluar kamar. Namun, tangannya tidak mau bergerak. Di layar, wanita itu semakin dekat, begitu dekat hingga detail jahitan masker terlihat jelas, seperti bekas jahitan kasar yang pernah menyatukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah disatukan.
Mika teringat satu versi legenda yang pernah ia baca di blog lama berbahasa Jepang. Di sana disebutkan bahwa Kuchisake-Onna tidak selalu mencari jawaban “ya” atau “tidak”, tetapi reaksi. Ketakutan, kebohongan, atau kekaguman yang berlebihan adalah undangan. Yang paling aman adalah bersikap datar, seolah pertanyaannya tidak memiliki makna.
Dengan sisa keberanian yang ada, Mika menjawab pelan, hampir monoton, “Biasa saja.”
Hening.
Wajah wanita itu di layar berhenti bergerak. Mata hitamnya menatap lurus, tanpa berkedip. Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, tidak ada suara. Lalu, perlahan, sudut matanya menyempit, bukan dalam kemarahan, bukan pula dalam senyum, melainkan ekspresi kosong yang lebih mengerikan daripada keduanya.
“Biasa… saja?” ulangnya.
Udara di kamar Mika terasa menekan, seperti berada di dasar laut. Napasnya sesak. Di layar Ren, sosok itu juga berhenti bergerak, seolah kedua proyeksinya terhubung oleh satu kesadaran.
Tiba-tiba, layar ponsel keduanya dipenuhi noise statis, seperti televisi rusak. Di balik statis itu, terdengar suara gunting, klik… klik…, semakin cepat, semakin dekat.
Ren berteriak, refleks menutup mata. Saat ia membukanya kembali, panggilan video terputus. Layar kembali normal, menampilkan kamar kosongnya sendiri. Tidak ada sosok di belakangnya. Tidak ada suara.
Ia langsung menelepon Mika, tetapi tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian, sebuah video baru muncul di galeri Ren. Tidak ada pengirim, tidak ada keterangan. Durasi: 00:01:02. Dengan tangan gemetar, ia memutarnya.
Video itu menampilkan Mika di kamarnya, direkam dari sudut kamera depan. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut, menangis tanpa suara. Di belakangnya, berdiri Kuchisake-Onna tanpa masker. Mulutnya terbuka lebar, robek hingga hampir ke telinga, memperlihatkan jaringan merah gelap yang seolah masih basah. Namun, yang paling mengerikan bukanlah luka itu, melainkan senyum yang terukir di wajahnya, senyum puas, seolah akhirnya mendapatkan sesuatu yang lama ia cari.
Di akhir video, kamera mendekat ke wajah Mika. Matanya kosong, tidak fokus, seakan jiwanya sudah pergi. Dari bibirnya yang bergetar, keluar bisikan pelan:
“Dia bilang… aku tidak cukup menarik…”
Layar menghitam.
Keesokan harinya, Mika menghilang. Apartemennya terkunci dari dalam, tidak ada tanda perlawanan, tidak ada darah. Hanya ponselnya yang tertinggal di meja, kamera depan aktif, merekam ruangan kosong. Di sudut layar, pantulan samar sosok wanita bermulut robek terlihat, seperti bayangan yang menempel pada cahaya.
Kasus Akiro dan Mika tidak pernah terpecahkan. Polisi menyimpulkan sebagai penghilangan misterius, mungkin terkait tekanan mental atau kejahatan yang tidak terekam. Namun, di dunia maya, cerita mereka menyebar cepat. Forum-forum urban legend Jepang dipenuhi tangkapan layar, rekaman pendek, dan kesaksian orang-orang yang mengalami hal serupa: kamera depan menyala sendiri, muncul wajah asing di belakang mereka, dan pertanyaan yang sama selalu terdengar.
“Aku… cantik?”
Beberapa orang mengaku selamat karena menjawab dengan cara aneh: menyebutkan bahwa mereka sedang sibuk, mengalihkan topik, atau bahkan menjatuhkan ponsel dan lari. Namun, ada juga yang tidak pernah muncul lagi di dunia maya setelah mengunggah keluhan tentang “glitch kamera” disertai bayangan wanita bermasker.
Ren menjadi satu-satunya dari mereka bertiga yang tersisa. Trauma membuatnya berhenti menggunakan kamera depan. Ia menutupinya dengan lakban hitam, menghapus semua aplikasi yang tidak perlu, bahkan mempertimbangkan untuk mengganti ponsel. Namun, rasa bersalah karena selamat sendirian menghantuinya setiap malam.
Suatu dini hari, saat hujan turun pelan, Ren terbangun oleh suara notifikasi. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya satu kalimat:
“Kamu belum menjawab.”
Tangannya gemetar saat menyalakan ponsel. Kamera depan terbuka otomatis. Pantulan wajahnya muncul, pucat, lingkar mata gelap karena kurang tidur. Di belakangnya, di sudut kamar, berdiri sosok yang sudah terlalu ia kenal. Kali ini tanpa masker. Mulut robek itu terbuka dalam senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.
“Aku… cantik?” tanya suara itu, kini tidak lagi keluar dari speaker, melainkan terasa langsung di dalam kepalanya.
Ren sadar, legenda itu tidak pernah membutuhkan gang sepi atau gunting nyata. Di era modern, ia hanya membutuhkan satu hal: layar yang memantulkan wajah kita sendiri. Karena di sanalah, antara cahaya dan bayangan, antara rasa ingin tahu dan ketakutan, Kuchisake-Onna menemukan jalannya untuk terus bertanya, terus muncul, dan terus mencari jawaban yang tidak pernah benar.