Langit malam Majapahit terbentang luas, penuh taburan bintang yang berkilau di atas puncak candi dan atap-atap istana. Udara malam membawa aroma dupa bercampur bunga cempaka, menenangkan bagi sebagian orang, tapi menusuk dingin di dada Arya yang tahu hidupnya kian terperangkap dalam pusaran yang tidak ia pahami sepenuhnya. Kata-kata selir misterius yang ditemuinya di taman teratai malam sebelumnya masih berputar dalam kepalanya: Majapahit akan berdarah, dan kau tidak akan bisa menghindarinya. Kata-kata itu membekas seperti racun yang merayap dalam pikirannya, membuat tidur singkatnya dipenuhi mimpi buruk.
Pagi harinya, derap gamelan terdengar lebih keras daripada biasanya. Suaranya membangunkan setiap orang yang tinggal di dalam kompleks keraton. Arya terjaga dari tidur singkatnya, masih terbaring di lantai batu ruangan sempit yang dijadikan tempat kurungannya. Cahaya matahari masuk lewat celah kecil di dinding, menyinari debu yang beterbangan. Ia merasakan tubuhnya kaku, tapi tak punya pilihan selain bangkit. Dua prajurit segera masuk, wajah mereka kaku tanpa ekspresi, lalu memberi isyarat agar ia bersiap. Hari ini ia dipanggil menghadap Sang Raja.
Arya berjalan diapit dua prajurit bersenjata tombak, melewati lorong panjang berhias relief peperangan, penaklukan, dan kejayaan Majapahit. Setiap ukiran terasa hidup di matanya, seakan-akan dinding itu sendiri ingin berbicara: inilah kerajaan besar yang tak mengenal ampun pada pengkhianat. Bayangan ukiran pasukan kuda dan prajurit tombak seolah bergerak mengikuti langkahnya. Hatinya terasa berat. Ia tahu, sekali saja ucapannya salah, lehernya bisa jadi taruhan.
Balairung utama terbuka perlahan, menyingkap ruangan megah dengan tiang-tiang jati berukir emas dan dupa yang membubung, memenuhi udara dengan wangi cendana. Suara gong besar dipukul pelan, menandakan kedatangan Raja. Di ujung balairung, duduklah Sang Raja Hayam Wuruk di singgasana naga emas, wajahnya teduh tapi berwibawa, seolah ia dilahirkan untuk memegang dunia. Di sampingnya berdiri Gajah Mada, tegak dengan sorot mata setajam bilah keris yang baru diasah, tubuhnya kaku seperti pahatan batu.
Arya merunduk, merasakan kakinya gemetar. Ia mencoba mengendalikan napasnya agar tetap tenang, tapi setiap langkah maju terasa berat, seperti sedang berjalan di lumpur.
“Orang asing,” suara Sang Raja terdengar dalam dan tenang, namun tak ada yang bisa menolak wibawanya. “Namamu Arya, bukan?”
“Benar, Paduka,” jawab Arya, suaranya bergetar.
“Gajah Mada mengatakan kau bukan orang biasa. Katamu, kau datang dari tanah jauh. Katakan yang sesungguhnya, dari manakah asalmu?”
Arya menahan napas. Inilah pertanyaan yang selalu ia takutkan. Ia tahu kebenaran terlalu gila untuk bisa dipercaya. Bagaimana mungkin ia mengatakan ia berasal dari masa depan? Ia memilih jawaban yang setengah jujur, setengah kabur.
“Hamba berasal dari negeri yang bahkan mungkin tidak tercatat dalam peta Majapahit,” katanya dengan suara lirih.
Sang Raja menatapnya lama, mata tajamnya menelusuri wajah Arya seakan ingin membongkar setiap lapisan kebohongan. Gajah Mada maju selangkah, berbisik di telinga Sang Raja. Arya tidak bisa mendengar kata-katanya, namun tahu hidupnya kini tengah ditimbang.
Ketenangan itu pecah ketika seorang bangsawan muda berteriak, “Paduka! Orang ini harus dibunuh! Ia bisa jadi mata-mata Tiongkok atau Blambangan!” Suaranya penuh amarah, membuat seluruh balairung gempar.
Arya menoleh. Di sana berdiri seorang pria berpakaian kebesaran merah marun, wajahnya tegang, matanya penuh kebencian menusuk Arya.
Sang Raja mengangkat tangan, menenangkan. “Sabar, Raden Wijaya,” katanya. “Kita harus menimbang dengan bijak.”
Arya tertegun. Nama itu mengguncang pikirannya. Raden Wijaya? Ia tahu nama itu sebagai pendiri Majapahit, tapi jelas pria di hadapannya bukan pendiri kerajaan. Kemungkinan besar ini keturunan atau bangsawan bergelar sama. Namun tatapan mata pria itu jelas penuh ancaman.
Perdebatan meledak. Beberapa pejabat setuju Arya dimanfaatkan, beberapa menolak dan mendesak eksekusi. Suara mereka tumpang tindih seperti pasar malam. Arya berdiri di tengah, merasa dirinya seekor kambing yang ditarik ke altar persembahan.
Gajah Mada berbicara lantang, suaranya menggelegar menembus kebisingan. “Paduka, orang ini mungkin berguna. Pengetahuannya berbeda, cara berpikirnya asing. Dengan bimbingan, ia bisa membantu Majapahit menghadapi musuh-musuhnya.”
Balairung hening sesaat. Semua mata kembali menatap Raja. Sang Raja menatap Arya, kemudian berkata, “Kau akan tetap dikurung. Namun aku ingin mendengar lebih banyak darimu.”
Arya menghela napas lega, meski hanya sedikit. Ia lolos dari maut, tapi jelas masih jauh dari aman.
Saat ia dibawa kembali ke ruang tahanan, ia melihat sekilas selir misterius di antara para wanita istana. Wanita itu tersenyum samar, senyum yang mengandung rahasia sekaligus jebakan. Arya merinding, karena semakin jelas bahwa wanita itu bermain di dua sisi.
Malamnya, seorang prajurit muda datang membawa makanan. Ia menaruhnya dengan tergesa, lalu berbisik lirih, “Tuan Arya, hati-hati. Balairung bukan tempat aman. Ada rencana buruk menanti.”
Arya terkejut. “Siapa kau?” bisiknya.
Prajurit itu menunduk, lalu berlalu tanpa menjawab.
Sendirian di ruangan dingin, Arya merenung panjang. Ia merindukan abad 21, dunia dengan lampu listrik, teknologi, dan kebebasan. Ia ingat kamar kecilnya dengan komputer, lampu LED, suara mesin pendingin, hal-hal kecil yang kini terasa bagai mimpi. Tapi bagian lain dalam dirinya menyadari: inilah takdir yang kini ia hadapi. Ia terjebak di masa lalu, dan setiap langkah salah bisa berarti akhir hidupnya.
Ia menatap langit-langit gelap, memikirkan kata-kata selir misterius. Kudeta, pengkhianatan, darah semua itu bukan sekadar ramalan. Ia bisa merasakannya, badai besar sedang menanti di depan mata. Bayangan wajah para bangsawan tadi berkelebat di pikirannya: Raden Wijaya yang penuh amarah, Gajah Mada yang penuh perhitungan, Sang Raja yang sulit ditebak, dan selir misterius dengan senyum penuh teka-teki. Semua itu ibarat potongan catur di papan besar, dan ia, Arya, hanyalah pion kecil yang bisa dikorbankan kapan saja.
Ia mencoba mengingat teori-teori sejarah yang pernah ia baca di abad 21. Ia tahu Majapahit kelak akan runtuh, tapi detailnya kabur di kepalanya. Apakah ia tengah menyaksikan awal keruntuhan itu? Atau justru terjebak di bagian sejarah yang berbeda? Pikiran itu membuat kepalanya berdenyut.
Suara gamelan terdengar lagi dari kejauhan, kali ini iramanya cepat, mencekam, seperti detak jantung Majapahit sendiri. Arya menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. Besok adalah hari baru, tapi ia tahu, besok juga bisa menjadi hari terakhirnya.
Namun dalam hati kecilnya, suara lain berbisik: Kau dipilih oleh waktu. Kau bukan sekadar pengunjung. Kau bagian dari sejarah ini.
Arya mengepalkan tangan, berusaha meyakinkan dirinya. Jika ia memang harus hidup di masa ini, maka ia akan bertahan. Ia harus menemukan cara, entah untuk pulang, atau untuk bertahan di tengah badai Majapahit yang kian menggila.