Pada awal abad ke-19, saat langit Amerika masih dipenuhi asap perang melawan Inggris, ada seorang pria sederhana bernama Samuel Wilson di Troy, New York. Ia bukan jenderal, bukan politisi, melainkan seorang pengusaha daging. Samuel terkenal di kalangan tetangganya sebagai sosok hangat yang murah senyum, selalu siap membantu, sampai anak-anak kecil memanggilnya “Uncle Sam”.
Ketika perang 1812 pecah, Samuel dan saudaranya mendapat kontrak untuk memasok daging ke pasukan Amerika. Ratusan barel daging asin mereka kirimkan ke medan perang, dan setiap barel diberi cap tebal: “U.S.” singkatan dari United States.
Namun di kalangan tentara, tulisan itu sering disalahartikan. “Ini pasti daging dari Uncle Sam!” canda mereka. Lama-lama sebutan itu bukan hanya lelucon. “Uncle Sam” jadi panggilan akrab untuk negara yang mereka bela. Bagi para prajurit yang kedinginan dan lapar, daging dari Samuel bukan sekadar makanan, tapi simbol bahwa negeri mereka, Amerika, tidak pernah meninggalkan mereka.
Julukan itu menyebar cepat, dari barak ke kota, dari koran ke pidato. Amerika punya wajah baru: seorang paman bijaksana yang menjaga anak-anaknya. Bertahun-tahun kemudian, wajah itu diwujudkan dalam ilustrasi seorang pria tua tinggi, berjenggot putih, memakai topi bergaris merah-putih dan bintang biru. Saat poster propaganda Perang Dunia I dibuat, sosok itu menatap tajam sambil menunjuk lurus ke depan dengan tulisan legendaris: “I Want You for U.S. Army”.
Sejak saat itu, Paman Sam bukan sekadar julukan, tapi identitas. Ia mewakili kekuatan, perlindungan, sekaligus kebapakan Amerika. Dari pasar kecil di New York, nama sederhana seorang tukang daging akhirnya menjelma jadi simbol negara adidaya.