Di lereng Gunung Muria, ada sebuah desa kecil bernama Desa Kendhilwungu. Desa itu dikelilingi hutan bambu, ladang kopi, dan sawah yang menghampar sejauh mata memandang. Orang-orangnya hidup sederhana, rajin bekerja, dan selalu menjaga tradisi warisan leluhur.
Namun, ada satu anak yang terkenal berbeda dari warga lainnya. Namanya Alui.
Alui bukan anak yang kuat di sawah, bukan pula pandai menggembala kambing seperti teman-teman sebayanya. Ia lebih sering terlihat berjalan ke sana kemari sambil mengamati sesuatu. Kalau melihat orang menumbuk padi, dia akan bertanya, “Kenapa lesungnya bisa bunyi ‘duk duk duk’? Apa ada roh yang tinggal di dalamnya?”
Kalau ada kakek yang bercerita tentang bintang di langit, Alui akan mendongak lama sekali dan bertanya, “Kenapa bintang itu nggak jatuh ke bumi, Kek? Apa ada tali yang mengikatnya?”
Karena itulah, warga sering memanggilnya dengan sebutan Si Alui, Anak Penasaran.
Orang-orang desa kadang menertawakan pertanyaan-pertanyaan Alui.
“Alui, kamu ini aneh. Sudah tahu itu cuma bintang, kok dipikir sampai ribet begitu,” kata salah satu pemuda bernama Jatmiko.
Namun, Alui tak pernah marah. Ia hanya tersenyum, lalu menjawab,
“Kalau nggak ada yang penasaran, nanti kita nggak tahu apa-apa. Bukankah hidup ini penuh rahasia?”
Meski sering diejek, diam-diam banyak anak kecil suka mendengarkan celotehan Alui. Karena bagaimanapun, tiap ucapannya selalu mengundang imajinasi.
Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung besar di atas lereng Muria, Alui mendengar cerita dari seorang nenek tua.
“Di tengah hutan bambu, ada batu besar yang bisa bersinar. Itu bukan batu biasa. Katanya, yang berani menyentuhnya akan mendengar suara gaib. Tapi hati-hati, banyak yang bilang itu angker.”
Mendengar cerita itu, mata Alui langsung berbinar.
“Kalau begitu, aku harus melihatnya sendiri, Nek!” katanya penuh semangat.
Malam itu juga, tanpa banyak pikir panjang, ia melangkah ke arah hutan. Suara jangkrik bersahutan, angin gunung berhembus membawa hawa dingin. Pepohonan bambu bergemerisik seakan berbisik-bisik.
Setelah menembus semak dan jalan setapak, Alui akhirnya sampai di sebuah lapangan kecil di dalam hutan. Di sana berdiri sebuah batu besar, setinggi dua orang dewasa, dengan permukaan licin berkilau. Anehnya, batu itu memancarkan cahaya kebiruan, seolah ada lampu yang menyala dari dalamnya.
Alui mendekat dengan hati berdebar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan batu itu.
Tiba-tiba Batu bergetar!
Dari dalam batu terdengar suara berat, namun lembut:
“Siapa yang berani mengganggu tidurku?”
Alui hampir lari, tapi rasa penasarannya lebih kuat dari rasa takutnya. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab,
“Aku Alui, anak desa Kendhilwungu. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu bisa bersinar seperti bulan?”
Suara itu terdiam sejenak, lalu tertawa pelan.
“Jarang ada manusia sekecil kamu yang berani bertanya tanpa rasa takut. Karena keberanianmu, aku akan memberimu anugerah: rasa penasaranmu akan menjadi cahaya penuntun bagi desamu.”
Sejak malam itu, Alui berubah.
Pertanyaan-pertanyaannya yang dulu dianggap mengganggu, perlahan justru membawa manfaat.
Ketika desa dilanda gagal panen, Alui berkata:
“Kalau air irigasi sering tersumbat, kenapa kita tidak menggali jalur baru di dekat sungai kecil?”
Warga mencoba, dan berhasil! Panen tahun itu lebih baik.
Ketika ada kambing yang hilang, Alui tidak ikut mencari ke hutan seperti orang lain. Ia malah memperhatikan jejak di tanah dan berkata,
“Lihat, jejaknya mengarah ke bukit kecil. Tapi ada ranting yang patah ke arah barat. Pasti kambingnya ke sana.”
Benar saja, kambing itu ditemukan di semak belukar arah barat.
Orang-orang desa mulai sadar, rasa ingin tahu Alui bukanlah kelemahan, melainkan karunia.
Namun, kehidupan tidak selamanya damai.
Suatu ketika, lereng Muria diguncang gempa. Tebing runtuh, sungai kecil tertutup longsor, dan sawah di Desa Kendhilwungu terancam kekeringan. Warga panik, tak tahu harus berbuat apa.
Malam itu, Alui bermimpi. Batu bercahaya dari hutan muncul kembali, bersuara lirih:
“Alui, gunakan rasa ingin tahumu. Jangan hanya bertanya pada manusia, bertanyalah juga pada alam.”
Bangun dari tidur, Alui segera berlari ke hutan. Ia mendengarkan suara air, mengamati aliran tanah, dan akhirnya berkata kepada warga:
“Kalau kita gali tanah di sisi bukit yang lebih rendah, air akan menemukan jalannya kembali.”
Awalnya banyak yang ragu. Tapi karena tak ada pilihan, mereka mengikuti arahan Alui. Dan benar saja, air kembali mengalir ke sawah. Desa Kendhilwungu terselamatkan dari paceklik.
Sejak saat itu, warga tidak lagi menertawakan Alui. Mereka justru sering meminta pendapatnya. Dari masalah panen, hewan, sampai arah pembangunan jalan, semua melibatkan Si Alui.
Namanya makin harum, bahkan sampai ke desa-desa tetangga. Orang-orang menyebutnya Alui Sang Penjaga Cahaya.
Namun, Alui tetaplah Alui. Ia tidak pernah sombong. Ia masih suka bertanya, masih suka berjalan-jalan mengamati bunga, air, dan langit. Bedanya, sekarang setiap pertanyaan kecilnya dianggap berharga.
Orang-orang tua di lereng Muria sering menuturkan kisah ini pada anak cucu mereka. Bahwa dulu pernah ada seorang anak bernama Si Alui, yang karena rasa ingin tahunya, mendapat berkah dari batu bercahaya di hutan.
Dari cerita itu, lahirlah pesan:
- Jangan pernah takut bertanya.
- Jangan pernah berhenti penasaran.
- Karena dari rasa penasaran, lahir pengetahuan, dan dari pengetahuan lahir kebijaksanaan.
Hingga kini, setiap kali ada anak kecil di desa Kendhilwungu yang cerewet banyak tanya, orang tua tersenyum dan berkata:
“Ah, kamu ini mirip Si Alui.”