Di sebuah kawasan tenang bernama Karang Besuki, Kota Malang, tinggal seorang pemuda bernama Adi, seorang sarjana lulusan salah satu universitas ternama di Malang. Seperti umumnya pemuda seusianya, Adi tumbuh sebagai pribadi rasional dan tidak pernah terlibat dalam dunia spiritual. Ilmu yang ia miliki murni berasal dari bangku kuliah, bukan dari pelatihan-pelatihan spiritual atau pengalaman mistik.
Namun, hidup Adi perlahan berubah sejak ia mulai didatangi sosok-sosok spiritual yang tidak dikenalnya. Mereka adalah tokoh-tokoh berilmu tinggi yang datang bukan untuk meminta ilmu, melainkan meminta bantuan Adi untuk mengangkat harta karun peninggalan kerajaan besar masa lalu: Harta Karun Singosari.
Tak Percaya Dunia Mistis, Adi Menolak Takdirnya
Menurut para tokoh spiritual yang mendatanginya, Adi diyakini sebagai orang yang memiliki "getaran jiwa" yang cocok dan kuat untuk mengangkat harta karun pusaka Singosari, yang konon dapat membawa kemakmuran bagi bangsa Indonesia jika digunakan dengan bijak.
"Apapun syaratnya akan kami penuhi," ujar salah satu dari mereka dengan wajah serius. Tapi Adi yang tidak pernah percaya pada hal semacam itu menolak dengan sopan. Baginya, semua itu hanyalah takhayul yang tak berdasar logika.
Merantau ke Jakarta: Mencari Kerja dan Menghindari Takdir
Untuk menjauh dari gangguan-gangguan aneh itu, Adi memutuskan merantau ke Jakarta, kota besar yang menurutnya penuh peluang. Ia menyewa sebuah kamar kos sederhana di daerah Jakarta Selatan, berharap bisa memulai hidup baru sesuai dengan jurusan kuliahnya: Tehnik Mesin.
Namun nasib berkata lain
Suatu sore ketika Adi sedang ngopi santai di warung dekat kosannya, datang seorang tokoh agama yang bahkan belum pernah dia temui sebelumnya. Tiba-tiba, tokoh itu bersimpuh di kaki Adi dan berkata, “Kamulah anak muda yang kami tunggu. Kamu ditakdirkan untuk mengangkat pusaka bangsa ini.”
Adi tertegun. Kata-kata itu mengingatkannya pada pengalaman di Malang. Bagaimana mungkin, di tempat berbeda, orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal mengatakan hal yang sama?
Mbah Sardi dan Pusaka Rahasia dari Indramayu
Beberapa bulan berlalu. Kehidupan Adi di Jakarta masih berjalan biasa, hingga suatu malam ia didatangi dua orang tua dari wilayah Indramayu dan Cirebon, bernama Mbah Sardi dan Udin. Mereka bukan orang biasa. Aura mereka kuat, dan tutur kata mereka penuh wibawa.
Mereka memohon kepada Adi untuk membantu mengangkat pusaka besar dari tanah Indramayu, yang menurut mereka masih tersembunyi dan belum bisa diambil oleh siapa pun selama ratusan tahun.
“Ada pusaka di Desa Sekober, tepat di tengah kota Indramayu,” ujar Mbah Sardi. “Pusaka itu hanya bisa diangkat oleh orang yang terpilih. Dan itu adalah kamu, Nak.”
Adi, yang saat itu masih diliputi rasa takut dan ragu, menyetujui permintaan itu dengan syarat: ia harus ditemani oleh banyak orang, terutama para murid Mbah Sardi. Ia tidak mau menghadapi semua itu sendirian.
Misteri Pohon Sawo Kembar dan Ular Penjaga Pusaka
Perjalanan pun dimulai. Mereka sampai di Desa Sekober, tepatnya di sebuah rumah tua yang memiliki halaman dengan dua pohon sawo kembar berdiri tegak. Menurut Mbah Sardi, pusaka tersebut tersembunyi tepat di tengah-tengah kedua pohon itu.
Ritual dimulai. Sesaji ditempatkan di tengah pohon, doa-doa dibaca, dan suasana mulai berubah. Angin berdesir kencang, udara menjadi berat. Tiba-tiba, kedua pohon sawo berubah wujud menjadi dua ekor ular raksasa, saling berhadapan dan menjulurkan lidah merah menyala.
Para pengikut yang menyertai Adi langsung berlari ketakutan, meninggalkan tempat itu dalam kepanikan. Adi pun terpaku. Ia hanya bisa menatap tak percaya. Pusaka itu, meski terlihat sangat dekat, ternyata masih belum bisa diambil.
Mbah Sardi kemudian berkata lirih, “Pusaka itu belum mau berpindah tangan. Bukan karena kamu tidak mampu, tapi karena hatimu belum siap.”
Menemukan Jati Diri
Pengalaman itu mengubah Adi. Ia mulai menyadari bahwa mungkin hidupnya memang punya jalan yang tidak biasa. Mungkin takdirnya memang bukan sekadar menjadi karyawan di kantor, tapi menjadi penjaga dan penghubung antara masa lalu dan masa depan bangsa.
Namun, sebelum mengambil langkah besar, Adi tahu satu hal yang pasti: ia harus lebih dulu menemukan jati dirinya sendiri bukan dari apa kata orang, tapi dari dalam dirinya, dari perjalanan panjang memahami makna hidup, keberanian, dan keyakinan pada sesuatu yang lebih besar daripada logika.
Kisah Ini Masih Berlanjut
Kisah perjalanan mencari jati diri Adi belumlah usai. Ia masih mencari jawaban, masih menempuh perjalanan, dan mungkin, kelak, akan kembali ke Desa Sekober. Siapa tahu, ketika waktunya tiba dan hatinya sudah siap, pohon sawo itu tak lagi menjelma ular, dan pusaka bangsa akan berpindah ke tangan yang tepat.