Setelah pulang dari petilasan Prabu Siliwangi di Majalengka, Adi memilih untuk tetap tinggal beberapa hari di rumah temannya, Udin di Tegal Gubug, Cirebon. Pikiran Adi masih berkecamuk. Ia belum bisa memahami makna dari semua peristiwa aneh yang terus menimpanya. Ia berharap hidupnya kembali normal, namun kenyataan berkata lain. Takdir terus memanggil, dan perjalanannya belum usai.
Warung Nasi Jamblang dan Pesan kepada Terduga
Malam hari di Cirebon. Langit mulai gelap, udara terasa hangat berdebu khas jalanan pesisir kota. Adi dan Udin memutuskan mencari makan malam. di sebuah warung tenda nasi jamblang, kuliner khas Cirebon. Warung sederhana itu menggunakan lampu minyak, dan nasi dibungkus daun jati di pikulan besar berisi berbagai lauk tradisional: sambal goreng, telur pindang, dan semur tahu.
Saat Adi hendak duduk menikmati makannya, seorang perempuan tua yang baru saja selesai makan, berdiri dan membayar di dekat pikulan.
Dalam suasana yang hening, perempuan itu menatap Adi dalam-dalam, lalu berkata dengan nada lirih namun tegas:
“Nak… kamu harus ke Bandung. Cari Pak Iran, tukang pijat di daerah Dago. Tempatnya persis di depan bioskop Bison, ada gang kecil masuk ke dalam di situlah tempatnya.”
Tanpa menunggu respons Adi, perempuan tua itu keluar dari warung, masuk ke dalam mobil sedan tua berwarna merah yang tampak seperti keluaran tahun 80-an.
Adi hanya bisa terdiam. Ia tidak mengenal perempuan itu. Wajahnya asing, tapi kata-katanya terasa menyentuh bagian terdalam hatinya.
Mimpi Malam Itu: “Aku Ibu Ratu… Ibumu Sendiri”
Malam pun datang di rumah Udin. Suasana kampung tenang, hanya suara jangkrik dan sesekali anjing menggonggong dari kejauhan. Di dalam kamar, Adi tertidur dengan pikiran gelisah.
Dalam tidurnya, perempuan tua dari warung nasi jamblang muncul lagi. Kali ini ia berdiri dalam cahaya samar, mengenakan kebaya dan kain panjang.
“Aku ini Ibu Ratu... ibumu sendiri, Nak.”
Suara itu lembut, mengalun seperti doa. Adi terbangun dengan napas berat. Keringat dingin mengalir di kening.
Rencana ke Bandung: Mencari Jawaban
Pagi hari di Cirebon. Matahari baru naik, udara segar mengalir dari persawahan di belakang rumah. Adi menceritakan mimpi dan kejadian malam sebelumnya kepada Udin saat mereka duduk ngopi di beranda.
“Din, tadi malam aku mimpi lagi. Ibu itu bilang dia ibuku... Ibu Ratu. Kamu tahu sendiri aku nggak pernah kenal orang begituan.”
Udin meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Adi serius.
“Kalau begitu, ayo kita ke Bandung. Nggak ada salahnya dicari tahu. Siapa tahu ada jawaban di sana.”
Tanpa banyak rencana, mereka sepakat berangkat ke Bandung hari Rabu naik motor Honda Grand warna hijau milik Udin.
Sore hari mereka tiba di Dago, Bandung. Lalu lintas ramai, langit agak mendung. Setelah bertanya pada beberapa warga sekitar, mereka menemukan bioskop tua bertuliskan "Bison", dan benar saja di depannya ada gang kecil.
Di ujung gang itu, tampak sebuah rumah tembok kecil berwarna hijau pucat dengan plang kayu bertuliskan: "Pijat Tradisional - Pak Iran."
Gambar bukan foto yang sebenarnya hanya ilustrasiMereka masuk, disambut seorang pria tua besar, gemuk, berkulit kuning langsat dan berhati hangat, Pak Iran. Di dalam rumah juga ada istrinya, Bu Mayang, wanita paruh baya dengan senyum keibuan.
Dialog Mengejutkan: “Yang Suruh Kamu ke Sini Itu Bapakmu…”
Ruang tamu rumah Pak Iran. Aroma minyak gosok khas tukang pijat tercium samar. Di dinding, terpajang foto Pak Iran berseragam TNI Angkatan Darat.
Sebelum Adi sempat memperkenalkan diri, Pak Iran langsung berbicara dengan nada pelan namun penuh keyakinan:
“Kamu sudah dua minggu kebingungan, ya? Saya tahu kamu akan datang ke sini.”
Adi terperangah. “Darimana Bapak bisa tahu?”
“Yang memberitahu saya adalah bapakmu,” lanjut Pak Iran.
Adi bingung. "Bapak saya masih di rumah Pak … maksud Bapak siapa?”
Pak Iran tersenyum tenang.
“Bukan bapak kandungmu. Yang saya maksud adalah Sukarno. Bung Karno. Dialah bapakmu ...secara sepritual , Saat beliau sakit dan ditahan di Wisma Yaso, aku yang merawatnya. Sebelum wafat, Bung Karno berpesan: ‘Aku titip anakku. Saat waktunya tiba, dia akan datang padamu.’”
Mata Adi membelalak. “Tapi… Bung Karno meninggal tahun 1970. Saya lahir 1971…”
Pak Iran mengangguk. “Karena kamu bukan dilahirkan untuk biasa-biasa saja.”
Adi tak kuasa menahan perasaannya. Dengan suara parau ia berkata:
“Kalau benar Bung Karno yang menyuruh saya ke sini, tolong sampaikan… saya hanya ingin hidup normal. Saya nggak kuat menghadapi semua ini, Pak. Saya tidak mengerti semua ini.”
Mata Pak Iran dan Bu Mayang berkaca-kaca. Mereka merangkul Adi dengan hangat.
“Kamu harus sabar, Nak. Perjalananmu belum selesai.”
Pak Iran kemudian menyarankan Adi pergi ke Perumahan Bumi Soreang Indah, dan menunggu di Gapura masuk perumahan.
"Nanti akan ada yang datang menemuimu disana"
Perjalanan ke Bumi Soreang Indah dan Sosok Misterius: Pak Iwa
Keesokan harinya Adi dan Udin pun pergi ke tempat yang dimaksud pak Iran Perumahan Bumi Soreang Indah. Mereka menunggu di gerbang masuk perumahan. Tak tampak orang berlalu lalang hanya beberapa pekerja. Wajar, perumahan Bumi Soreang Indah pada tahun 2000, kompleks itu masih sepi, hanya beberapa rumah berdiri.
Datanglah seorang pria paruh baya berpakaian seperti tukang bangunan, duduk di batu gapura.
“Saya Pak Iwa,” katanya, tanpa ditanya.
Lalu, tanpa basa-basi, ia bertanya: “Ada apa kalian ke sini?”
Adi menceritakan semua kejadian, dari Indramayu hingga Bandung.
Saat Adi bertanya bagaimana cara agar bisa melepaskan semua beban spiritual ini, Pak Iwa tiba-tiba naik nada suaranya:
“Kenapa kamu serapuh ini?! Apa yang kamu alami itu belum seujung kuku dari perjuangan saya. Saya menegakkan bangsa ini dengan taruhan nyawa!”
Setelah berkata demikian, Pak Iwa berdiri dan langsung pergi, meninggalkan Adi dan Udin yang kebingungan.
Kembali ke Cirebon: Siapa Sebenarnya Pak Iwa?
Di atas motor dalam perjalanan kembali ke Cirebon, suasana hening. Angin dingin Bandung menyentuh kulit mereka, tapi hati Adi terasa panas.
“Siapa sebenarnya Pak Iwa? Kenapa dia seperti tahu segalanya? Apa dia bagian dari sejarah bangsa ini?”
Udin hanya menjawab singkat, “Bisa jadi kamu belum sadar... tapi kamu sedang berada di tengah-tengah warisan sejarah yang belum selesai.”
Warisan yang Belum Tuntas
Kisah nyata perjalanan jati diri Adi masih terus berlanjut. Setiap mimpi, setiap pertemuan, dan setiap tempat yang ia datangi seperti potongan puzzle sejarah besar yang perlahan tersusun.
Adi masih belum tahu siapa dirinya sebenarnya. Tapi satu hal yang pasti ia tidak bisa kembali menjadi orang biasa.
SEO Google:
Kisah Nyata Perjalanan Mencari Jati Diri (3): Petunjuk dari Bandung, Warisan Bung Karno, dan Sosok Misterius dari Soreang