Setelah peristiwa mistis di Desa Sekobar, Indramayu, Adi belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya sedang ia alami. Ia merasa hidupnya seperti digiring oleh kekuatan tak kasat mata ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Tapi satu hal pasti pencariannya akan jati diri belum usai.
Bermalam di Indramayu, Mimpi Rumah Kayu dan Tanda-Tanda Aneh
Malam itu, Adi memutuskan untuk menginap di rumah salah satu murid Mbah Sardi di Indramayu. Rumahnya sederhana, tapi terasa tenang dan adem. Ia tidur dengan lelah yang menumpuk, hingga malam membawanya ke dalam mimpi yang sangat nyata.
Dalam mimpinya, Adi berada di sebuah rumah kayu bercat hijau, tampak tua namun bersih. Di depannya terbentang sawah luas berwarna hijau keemasan, dan di samping rumah ada pos ronda tua bergambar lambang PDI Perjuangan. Ia merasa seperti mengenali tempat itu, meski belum pernah melihatnya dalam hidup nyata.
Pagi Hari di Pasar Desa, Bertemu Perempuan Misterius
Keesokan harinya, Adi meminjam sepeda dan pergi ke pasar desa untuk mencari sarapan. Saat sedang memilih makanan, seorang perempuan tua berusia sekitar 65 tahun tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Lho, Gus... kamu kok di sini? Ayo pulang ke rumah Ibu,” ucap perempuan itu penuh haru.
Adi yang bingung hanya menurut. Perempuan itu mengajaknya ke rumahnya. Dan betapa terkejutnya Adi, rumah yang dituju adalah rumah dalam mimpinya semalam rumah kayu hijau dengan sawah di depan dan pos ronda di samping.
Ibu Carini dan Hubungan dengan Keluarga Bung Karno
Perempuan itu memperkenalkan dirinya: Ibu Carini, istri dari alm. Kolonel Suyono, penjaga makam Bung Karno di Blitar.
“Ibu kenal saya dari mana?” tanya Adi dengan heran.
Ibu Carini tersenyum. “Setiap Bu Mega, Mas Guntur, dan Mas Guruh ziarah ke makam Bung Karno, kamu selalu ikut mendampingi mereka. Kamu bahkan sering menemani mereka ke tempat-tempat khusus.”
Adi semakin bingung. Ia tidak pernah sekalipun bertemu keluarga Bung Karno.
Menuju Tegal Gubug, Cirebon: Mencari Jawaban
Dalam kebingungan, Adi menghubungi Udin dari Cirebon, temannya yang pernah menemaninya ke Desa Sekobar. Udin pun menjemput Adi di Indramayu dan membawanya ke rumahnya di Tegal Gubug, Cirebon.
Malam itu adalah malam Jumat Pahing. Udin mengajak Adi untuk ziarah ke Petilasan Prabu Siliwangi, tepatnya ke rumah juru kunci di Raja Galuh di Majalengka.
Dihormati Seperti Tamu Agung
Sesampainya di sana, juru kunci menyambut Adi dengan penuh hormat.
“Gusti, panjenengan datang lagi… seperti malam Jumat yang lalu,” katanya.
Adi tercengang. “Tapi saya baru pertama kali ke sini,” jawabnya lirih.
Juru kunci dan beberapa orang lain di petilasan itu bersikeras bahwa Adi sudah sering hadir di sana, memberi pencerahan dan membawa petunjuk kepada para peziarah.
Mereka lalu mengantar Adi ke petilasan Prabu Siliwangi, tempat yang dihormati dan keramat. Di sana, juru kunci menunjuk sebuah batu besar tempat Bung Karno dulu semedi sebelum menjadi presiden. Di samping batu itu ada telaga kecil, dan di tepinya tumbuh lima bambu kuning yang ditanam Bung Karno sendiri.
Bambu Kuning Sukarno dan Kematian Ahli Spiritual Pekalongan
Juru kunci menceritakan bahwa salah satu bambu pernah dipotong oleh ahli spiritual dari Pekalongan. Namun setelah mencuri potongan bambu itu, orang tersebut mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Paginya, ibu Megawati, Guruh, dan Adi datang ke tempat tersebut. Menurut juru kunci, Adi yang membawa bibit bambu pengganti dan menanam ulang di tempat yang sama.
Namun lagi-lagi, Adi merasa aneh. Ia tidak pernah merasa mengalami kejadian itu.
Malam Penuh Tanda, Lampu Berkedip Saat Dilalui
Malam itu, Adi memutuskan bermalam di petilasan. Suasana sakral terasa menyelimuti tempat tersebut. Ketika ia berjalan menyusuri halaman petilasan, setiap lampu yang ia lewati berkedip atau padam sebentar. Seolah-olah alam memberi tanda atas keberadaannya.
Keesokan harinya, Adi dan Udin kembali ke Cirebon. Tapi batin Adi belum tenang. Ia mulai bertanya: siapa sebenarnya dirinya? Mengapa banyak orang merasa mengenalnya, padahal ia sendiri tak punya ingatan apa pun?
Misi yang Belum Selesai
Pencarian jati diri Adi belum berakhir. Dari Indramayu hingga Cirebon, dari mimpi hingga kenyataan, dari rumah kayu hingga batu semedi Bung Karno, semuanya seakan membawanya pada satu kesimpulan: Ada warisan spiritual besar yang harus ia pahami lebih dalam.
Ia tak bisa lagi menolak atau menghindar. Takdir sedang memanggil, dan hanya melalui perjalanan batin dan keberanian menghadapi masa lalu, Adi bisa menemukan siapa dirinya sebenarnya.