Di balik kemegahan dunia pewayangan, terdapat kisah-kisah yang tak hanya menggugah, namun juga menyimpan unsur mistis dan supranatural. Salah satunya adalah pengalaman nyata seorang dalang legendaris asal Malang, Dalang Sarpani dari Kecamatan Turen. Peristiwa ini terjadi saat beliau menggelar pertunjukan wayang kulit di Dukuh Klaseman, Desa Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada masa musim kemarau panjang.
Pada malam itu, suasana terasa istimewa. Langit cerah, suhu cukup panas, dan warga berbondong-bondong menghadiri pertunjukan yang sudah lama dinantikan. Dalang Sarpani, yang dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang dunia pewayangan dan spiritual Jawa, membawakan lakon “Kresna Duta”, sebuah kisah heroik tentang Sri Kresna sebagai utusan Pandawa.
Namun suasana berubah drastis saat waktu menunjuk tengah malam.
Awan Gelap dan Hujan Deras Mengguyur
Tanpa diduga, awan hitam mulai menggumpal di langit. Padahal hari-hari sebelumnya cuaca sangat kering karena kemarau panjang. Dalam waktu singkat, hujan deras turun mengguyur area pertunjukan. Para penonton panik, beberapa mulai bubar, tenda mulai goyah, dan alat-alat gamelan nyaris basah.
Dalang Sarpani tetap duduk tenang di balik kelir. Dengan suara berat dan lantang, ia mengucapkan kata-kata yang membuat bulu kuduk merinding:
"Wong seng nduwe ilmu, tak jalok ojo nganggu pertunjukan iki."
(Orang yang punya kekuatan atau ilmu, saya mohon jangan ganggu pertunjukan ini.)
Ia mengucapkan kalimat itu sebanyak tiga kali, semakin lama semakin tegas. Sampai akhirnya, kalimat terakhir terdengar sebagai bentuk ultimatum:
"Lereno... ojo mbok teruske."
(Hentikan... jangan kau teruskan.)
Namun, hujan tidak kunjung reda. Bahkan semakin deras, menciptakan genangan di sekitar panggung dan membuat kondisi hampir tidak mungkin melanjutkan pertunjukan.
Cakra Kresna Dilepaskan: Hujan Pun Reda
Saat suasana makin genting, Dalang Sarpani melakukan sesuatu yang tak pernah disangka siapa pun. Ia mengambil wayang Kresna, sang tokoh utama malam itu, lalu memegang senjata pusaka Cakra yang menjadi simbol kekuatan Dewa Wisnu.
Dengan gerakan khidmat, Dalang Sarpani memanahkan Cakra tersebut ke tiang bambu penyangga tenda. Seketika Cakra wayang itu menancap dan bergetar hebat. Dalam hitungan detik, keajaiban pun terjadi: hujan langsung berhenti, langit kembali cerah, dan suasana hening sesaat.
Penonton yang semula panik, menjadi terpaku. Suasana menjadi sakral. Pertunjukan pun dilanjutkan dengan suasana yang lebih khusyuk dan penuh takzim.
Pesan Aneh Sebelum Pulang
Setelah pertunjukan berakhir, Dalang Sarpani memberi pesan mengejutkan kepada panitia dan warga:
"Besok pagi kalau ada orang yang tidak bisa bergerak, jangan dipukuli. Kasih makan, beri ongkos, dan suruh pulang baik-baik."
Pesan itu sempat membuat orang bingung, namun tak ada yang berani bertanya lebih lanjut.
Orang Tak Bisa Bergerak: Pertunjukan Masih Mengikat
Keesokan harinya, benar saja. Seorang pria ditemukan duduk membatu di dekat panggung, tubuhnya tak bisa digerakkan. Matanya kosong seperti sedang menonton sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Ketika diajak bicara, ia hanya menangis dan meminta maaf berkali-kali. Dia berkata bahwa dirinya datang dengan niat buruk, namun tidak kuasa menahan godaan untuk "menguji" pertunjukan Dalang Sarpani. Akibatnya, ia terjebak dalam alam pertunjukan, seolah tidak bisa keluar dari dunia wayang.
Warga pun mengingat pesan Dalang Sarpani. Pria tersebut kemudian diberi makan, diberi uang untuk ongkos pulang, dan diantar pergi secara baik-baik. Setelah itu, tidak pernah terdengar lagi kabar darinya.
Kisah nyata Dalang Sarpani ini menjadi legenda hidup di wilayah Malang, khususnya di Dukuh Klaseman, Desa Karang Besuki. Ia bukan hanya dikenal sebagai dalang, tetapi juga sebagai sosok spiritual yang memiliki ilmu tinggi dan pemahaman mendalam akan dunia halus.
Dalam tradisi Jawa, hujan saat pertunjukan wayang kadang dianggap sebagai gangguan dari makhluk tak kasat mata atau pertanda dari alam. Namun melalui doa, kekuatan batin, dan simbolisasi Cakra, Dalang Sarpani berhasil menunjukkan bahwa seni tradisi Jawa bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana komunikasi antara alam manusia dan alam gaib.
Cerita ini bukan fiksi, melainkan kisah nyata yang diwariskan dari mulut ke mulut oleh warga Malang. Hingga kini, nama Dalang Sarpani masih dikenang sebagai dalang yang bisa menghentikan hujan dengan Cakra Kresna. Sebuah bukti bahwa tradisi dan spiritualitas Jawa menyimpan kekuatan luar biasa yang tak bisa dijelaskan secara logika.
Jika Anda berada di Malang dan mendengar pertunjukan wayang diadakan, siapa tahu jejak Dalang Sarpani masih terasa dalam setiap denting gamelan yang mengalun.