cerpen romantis, cerita cinta hujan, kisah cinta pertama, cerita sedih tentang hujan
Cerpen romantis penuh makna tentang cinta pertama yang hilang di antara tetesan hujan. Kisah tentang Alya, dan kenangan yang tak pernah benar-benar usai.
Aku tak pernah benar-benar menyukai hujan sampai aku bertemu dia.
Hujan selalu kusebut sebagai gangguan. Membuat sepatu basah, jalanan becek, dan langit mendung. Tapi semua berubah di semester terakhirku di SMA, ketika aku bertemu Alya di sore yang sama sekali tak direncanakan.
Hari itu, aku terlambat pulang karena tugas kelompok. Langit sudah abu-abu sejak jam empat, dan hujan turun tepat saat aku melangkah keluar dari kelas. Aku berlari kecil menuju halte kecil dekat taman sekolah, dan di sanalah diaAlya duduk sendirian, menatap langit seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa kulihat.
“Udah penuh?” tanyaku sambil menunjuk kursi.
Ia tersenyum, menggeser sedikit tubuhnya. “Masih cukup untuk satu orang yang suka hujan.”
Aku terdiam. Hujan deras, dan entah kenapa hatiku jadi hangat.
Dari pertemuan itu, semuanya mengalir begitu saja. Kami tak pernah benar-benar janjian, tapi entah bagaimana kami sering bertemu setiap kali hujan turun. Di halte, di perpustakaan, di bawah pohon besar dekat lapangan. Kami berbicara tentang banyak hal tentang buku, tentang film, tentang langit dan masa depan.
Tapi paling sering, kami bicara tentang hujan.
“Aku suka hujan karena dia jujur,” kata Alya suatu hari. “Hujan nggak bisa menyembunyikan dirinya. Saat ia datang, semua tahu. Sama seperti perasaan.”
Aku hanya tersenyum waktu itu, padahal dalam hati aku ingin menjawab, “Kalau begitu, biarkan aku menjadi hujan bagimu.”
Tapi aku tidak pernah mengatakannya.
Karena aku takut.
Alya bukan seperti gadis lain. Ia tenang, hangat, dan sedikit misterius. Seolah ada bagian dari dirinya yang selalu disembunyikan dari dunia. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku ingin tahu semuanya.
Sampai suatu hari, dia menghilang.
Itu hari Senin. Hujan turun sejak pagi, dan aku sudah berdiri di bawah pohon besar kami menunggu. Tapi Alya tidak datang. Sampai bel pulang berbunyi. Sampai gerimis tinggal sisa. Sampai aku sendiri di sana.
Keesokan harinya, hal yang sama terjadi. Dan hari berikutnya. Hingga seminggu berlalu, dan aku mulai merasa kehilangan.
Aku mencoba menghubungi teman-temannya, bahkan bertanya ke wali kelas. Tapi tak ada yang tahu pasti. “Katanya pindah,” jawab salah satu teman sekelasnya. Tapi ke mana? Kenapa?
Tidak ada yang tahu.
Yang kutemukan hanyalah secarik kertas yang terselip di sela buku perpustakaan yang biasa ia pinjam. Di sana, tertulis dengan tulisan tangan yang kukenal:
“Jika suatu saat hujan turun, dan kamu merasa ada yang memanggil dari kejauhan, mungkin itu aku. Karena di hujan, aku menyimpan namamu. A.”
Kini, setiap kali hujan datang, aku keluar rumah.
Aku berjalan tanpa payung, menyusuri jalan-jalan yang pernah kami lewati. Aku berdiri di bawah pohon besar yang dulu jadi tempat kami berteduh. Kadang aku membuka buku catatanku, berharap menemukan jejak kecil yang ia tinggalkan.
Dan dalam diam, aku masih menunggu.
Bukan karena aku yakin Alya akan kembali, tapi karena aku ingin percaya bahwa ada bagian dari diriku yang masih hidup di dalam kenangannya.
Hujan tetap turun.
Dan aku masih berdiri di bawahnya.
Karena aku tahu, ia menulis namaku di hujan.
Tag: cerpen romantis, kisah hujan, cerita cinta pertama, cerita SMA, cerpen sedih.