Asal Usul Suku Penesak dan Penjaga Tanah Harapan
Di ujung selatan tanah Sumatera, terbentang sebuah wilayah yang begitu unik dan memikat hati siapa saja yang memijakkan kaki di sana. Wilayah yang kini dikenal sebagai Pedamaran ini merupakan perpaduan magis antara daratan dan perairan, sebuah hamparan tanah delta yang dibentuk oleh aliran sungai-sungai besar yang membawa lumpur kehidupan dari pegunungan hingga ke laut lepas. Dikelilingi oleh rawa-rawa yang luas, sungai-sungai yang berkelok seperti ular besar, dan hutan-hutan bakau serta pohon damar yang rimbun, tanah ini menyimpan misteri serta kekayaan alam yang tak terhingga. Udara di sini selalu terasa lembap namun segar, membawa aroma tanah basah dan getah damar yang harum. Di sinilah, di tengah belantara alam yang masih perawan itu, sejarah peradaban dan kepercayaan masyarakat bermula, terpatri kuat dalam kisah turun-temurun tentang para leluhur agung yang dikenal sebagai Sembilan Muyang.
Suatu masa yang sangat lampau, ketika hutan masih begitu lebat dan manusia masih hidup sangat dekat dengan alam, tanah ini belum bernama Pedamaran. Hutan rimba memanggul pohon-pohon damar yang tinggi menjulang, getahnya berkilauan seperti kristal di bawah sinar matahari. Namun, kedamaian itu sering kali terganggu oleh kekacauan. Alam yang seharusnya menjadi ibu yang menaungi, kadang berubah menjadi ganas. Banjir datang tak menentu, penyakit menyerang tanpa ampun, dan perselisihan antar kelompok manusia yang mulai menetap di sana sering meletus.
Masyarakat saat itu hidup dalam ketakutan. Mereka merasa ada kekuatan besar yang marah, ada energi yang tidak seimbang di bumi tempat mereka berpijak. Hingga pada suatu hari, langit tampak mendung kelabu bukan karena air, melainkan karena sebuah pertanda besar. Dari berbagai arah, datanglah sembilan sosok manusia luar biasa. Mereka bukanlah raja yang memakai mahkota emas, melainkan orang-orang suci, bijaksana, dan memiliki kekuatan spiritual yang mendalam. Mereka datang untuk menyeimbangkan dunia, untuk menenangkan amarah alam, dan untuk menyatukan hati manusia agar menjadi satu kesatuan yang kokoh.
Mereka adalah para pendiri dan leluhur yang namanya diabadikan hingga kini: Muyang Tua, Muyang Penggawa, Muyang Penghulu, Muyang Demang, Muyang Lebai, Muyang Kesuma, Muyang Serunting, Muyang Ratna, dan Muyang Bungsu.
Di sebuah tanah tinggi yang disebut Tanah Abang, di bawah rindangnya pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun, kesembilan sosok itu akhirnya berkumpul. Mereka duduk melingkar, wajah mereka teduh namun memancarkan wibawa yang membuat bulu kuduk merinding. Angin berhembus pelan, seolah alam pun ikut mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan. Suara gemericik air sungai dan desiran daun menjadi irama saksi malam itu.
Di posisi paling tengah, duduklah sosok yang paling tua renta, namun matanya tajam seperti elang. Ia adalah Muyang Tua, pemimpin dan penasihat tertua dari kesembilan mereka. Di sebelahnya duduk delapan sosok lainnya, masing-masing membawa karakter dan keahlian yang berbeda sesuai dengan tugas dan gelarnya.
"Sudah lama kita berjalan, saudara-saudaraku," suara Muyang Tua bergetar namun lantang, memecah keheningan hutan. "Tanah ini subur, airnya melimpah, namun jiwanya masih liar. Penduduk di sini hidup dalam ketakutan. Mereka takut pada sungai, takut pada hutan, dan bahkan takut pada sesamanya. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus menderita."
Seorang di sebelah kanannya, yang dikenal memiliki kekuatan atas air dan wilayah, mengangguk pelan. Ia adalah Muyang Penggawa.
"Benar, Abang Tua. Lihatlah sungai-sungai ini. Kadang mereka tenang seperti putri tidur, tapi esoknya bisa mengamuk seperti harimau lapar. Penduduk takut menanam padi, takut membangun rumah di tepian karena takut ditelan air. Mereka belum paham cara berbicara dengan alam."
"Karena itu kita di sini," sahut sosok lainnya, Muyang Penghulu, yang bertugas mengatur aturan dan adat istiadat. "Manusia butuh pegangan. Mereka butuh tahu cara berbicara dengan alam, bukan melawannya. Kita harus ajarkan mereka hormat pada tanah tempat berpijak, dan air tempat minum. Kita bentuklah sebuah kesatuan, satu nama, satu rasa, satu tujuan."
Suasana menjadi hening sejenak.
"Lalu apa rencana kita, Ayahanda?" tanya seorang yang gagah perkasa, Muyang Kesuma. "Apakah kita akan memisahkan diri, atau tetap bersama?"
Muyang Tua tersenyum tipis. Ia berdiri, menatap ke kejauhan di mana sungai-sungai membelah daratan seperti jaring kehidupan.
"Kita adalah satu, namun kita harus menjadi sembilan penjuru. Sembilan bintang di langit, sembilan akar di bumi. Kita akan menyebar ke seluruh pelosok wilayah ini. Setiap dari kita akan menancapkan tongkat sakti di tempat kita berdiri, dan di situ akan tumbuh kekuatan abadi untuk melindungi," ujarnya tegas.
"Tapi... bagaimana jika kita menghadapi rintangan yang besar? Bagaimana jika ada kekuatan jahat atau roh jahat yang menentang?" tanya Muyang Ratna, satu-satunya wanita di antara mereka yang memiliki kelembutan namun kekuatan doa yang luar biasa.
Muyang Tua menatap wajah adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kekuatan kita bukan pada pedang atau tombak, Dinda Ratna. Kekuatan kita ada pada Batin. Ada pada keyakinan bahwa kita adalah bagian dari alam, dan alam adalah bagian dari kita. Jika kita bersatu dalam niat, maka gunung pun bisa digeser, sungai pun bisa diarahkan. Ingatlah, kita ini berasal dari satu sumber, maka pulang pun kita akan ke satu tempat."
Malam itu, bulan purnama bersinar terang benderang. Cahayanya memantul di permukaan air rawa, menciptakan efek seperti hamparan emas. Kesembilan Muyang melakukan ritual pemujaan kepada Sang Pencipta, memohon petunjuk dan kekuatan untuk mengemban amanah.
Api unggun menyala di tengah lingkaran mereka. Api itu tidak membakar kayu biasa, melainkan kayu gaharu dan kemenyan yang mengeluarkan asap wangi yang menembus langit.
"Sekarang," kata Muyang Tua mengangkat tangan ke atas, "Kita ikrarkan sumpah setia. Kita akan menjadi benteng bagi orang-orang yang datang setelah kita. Kita akan menjadi penunggu yang menjaga agar adat tidak hilang, agar aturan tidak patah."
Satu per satu dari mereka mengucapkan janji suci dengan suara yang lantang dan penuh keyakinan, sesuai dengan peran masing-masing yang dikenal dalam masyarakat Pedamaran:
Muyang Penggawa maju selangkah, suaranya berat dan dalam.
"Saya, Muyang Penggawa. Saya yang bertugas mengatur air dan wilayah. Saya akan menjaga agar sungai tetap mengalir membawa rezeki, tidak memakan daratan tanpa sebab. Saya akan memetakan aliran air dan batas-batas tanah agar penduduk tahu di mana tempat yang aman. Sungai adalah jalan, rawa adalah lumbung. Itu janjiku."
Muyang Penghulu kemudian bersuara, tegas dan berwibawa.
"Saya, Muyang Penghulu. Saya yang memegang adat dan hukum. Saya akan membangun aturan. Bahwa sesama manusia tidak boleh saling makan, tidak boleh saling curang. Hidup harus rukun seperti air dan ikan. Saya yang akan mengatur tata cara pernikahan, perkawinan, dan penyelesaian masalah. Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Tuhan."
Muyang Demang berdiri dengan gagah.
"Saya, Muyang Demang. Saya adalah pemimpin pemerintahan dan keamanan. Saya akan menjaga ketertiban, menegakkan peraturan, dan memastikan tidak ada yang menindas yang lemah. Rakyat akan hidup tentram di bawah naungan hukum yang bijaksana. Di mana ada Demang, di situ ada keadilan."
Muyang Kesuma tersenyum penuh semangat.
"Saya, Muyang Kesuma. Saya adalah pelindung dan pembela. Saya akan ajarkan pemuda cara bertahan hidup, berburu dengan bijak, dan menjaga perbatasan dari gangguan luar. Tubuh yang kuat harus digunakan untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menakut-nakuti."
Muyang Lebai mengangkat tangan dengan lemah lembut.
"Saya, Muyang Lebai. Saya yang menjaga jalan batin dan doa. Saya akan mengajarkan syiar kebaikan, cara bersujud, dan menjaga hati agar tetap suci dari iri dan dengki. Kekuatan terbesar bukanlah otot, melainkan hati yang bersih dan doa yang tulus."
Muyang Serunting bicara dengan cerdik dan fasih.
"Saya, Muyang Serunting. Saya menjadi utusan dan penyambung lidah. Saya yang akan menyampaikan pesan, membuat perjanjian antar kelompok, dan memastikan komunikasi berjalan lancar tanpa salah paham. Kata-kata adalah senjata, tapi juga adalah jembatan persaudaraan."
Muyang Ratna berbicara dengan suara yang menenangkan jiwa.
"Saya, Muyang Ratna. Saya akan memohon agar tanah ini selalu subur, agar wanita-wanita di sini melahirkan anak-anak yang saleh dan kuat, agar penyakit menjauh dan kebahagiaan datang. Saya akan jaga keseimbangan energi di bumi ini. Kelembutan hati bisa melelehkan batu yang keras."
Muyang Bungsu, yang paling muda, berseru dengan berapi-api.
"Saya, Muyang Bungsu. Saya akan menjadi ujung tombak. Ke mana pun kakak-kakakku bertugas, saya akan menjadi yang terdepan menjelajah tempat-tempat yang paling sulit dan berbahaya. Saya yang akan membuka jalan bagi yang lain."
Setelah semua berjanji, Muyang Tua mengangguk puas melihat tekad adik-adiknya.
"Tapi Abang Tua," tiba-tiba Muyang Bungsu bertanya dengan nada ragu, "Manusia itu aneh. Suatu saat nanti, mungkin mereka akan lupa. Mungkin mereka akan sombong dan merasa paling kuat. Apakah mereka masih akan menghormati kita?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening dan berat. Muyang Tua menghela napas panjang, dadanya terasa sesak membayangkan masa depan.
"Adikku Bungsu..." jawab Muyang Tua pelan, "Itu adalah ujian bagi mereka. Jika mereka lupa, maka alam akan mengingatkan. Jika mereka sombong, maka bencana akan datang sebagai guru. Namun, selama masih ada satu orang pun yang mengingat nama kita, selama masih ada yang memuliakan leluhur, maka kekuatan perlindungan ini tidak akan pernah padam. Kita akan tetap ada di sini, dalam angin, dalam air, dan dalam tanah Pedamaran."
"Jadi, apa pesan terakhir untuk mereka?" tanya Muyang Lebai.
"Katakan pada mereka," Muyang Tua menatap semua saudaranya satu per satu, "Bahwa kekayaan bukanlah emas yang banyak, bukan rumah yang besar. Kekayaan sejati adalah ketika kita bisa duduk tenang, makan dari keringat sendiri, dan tidur tanpa rasa takut. Itu yang akan kita bangun di sini."
Malam itu, di bawah naungan langit Pedamaran, terjalinlah ikatan batin yang tak terputus. Mereka sepakat, meski raga mereka nanti kembali ke tanah, namun roh dan ilmu mereka akan tetap tinggal, menjaga, mengawasi, dan membimbing.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan lebih cerah dari biasanya. Seolah-olah langit pun ikut tersenyum melihat niat mulia itu. Waktunya telah tiba untuk berpisah dan menjalankan tugas masing-masing.
Mereka tidak pergi dengan tangisan, melainkan dengan semangat dan doa.
"Pergilah saudaraku," ucap Muyang Tua saat perpisahan di tepi sungai besar. "Jadilah seperti pohon damar yang tinggi. Beri manfaat, beri naungan, dan keluarkan getah kehidupan meski dirinya ditebang."
Muyang Penggawa pergi ke arah hulu dan muara. Ia menemukan bahwa air sungai sering meluap karena banyaknya kayu dan semak yang menghalangi aliran. Di sebuah desa yang sedang dilanda banjir besar, penduduk panik melihat air yang terus naik. Rumah-rumah mulai terendam, tangis anak-anak terdengar memilukan.
"Wahai orang baik!" seru seorang tetua desa sambil bersimpuh di atas rakit. "Selamatkan kami! Air akan menghancurkan semua!"
Muyang Penggawa berdiri tenang di tepi air yang mengamuk. Ia tidak lari, tidak takut. Ia memegang sebuah tongkat kayu ulin yang kokoh.
"Berdirilah tegak!" serunya dengan suara yang menggelegar hingga air seolah ikut bergetar. "Jangan takut pada air! Air adalah saudara kita, ia membawa nutrisi untuk tanah kalian. Kalian kena banjir bukan karena air jahat, tapi karena kalian menutup jalan airnya! Kalian menebang pohon di hulu, kalian membuang sampah di sungai, maka air marah karena tidak bisa bernapas!"
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya penduduk gemetar ketakutan.
"Gali saluran! Buat jalan bagi air untuk mengalir! Jangan menahannya dengan paksa, tapi arahkanlah!" perintahnya.
Muyang Penggawa kemudian memimpin mereka membuat sistem pengairan yang cerdik, memanfaatkan alami sungai dan rawa. Ia membuat peta pembagian wilayah yang jelas, membagi daerah menjadi beberapa ulayat atau tanah adat.
"Ingat," pesannya kepada para pemuda, "Wilayah ini akan kita bagi. Di sini adalah tempat kita, di sana adalah tempat saudara kita. Tapi sungai adalah jalan bersama. Jangan pernah kau sekat sungai karena dendam, karena air yang terhambat akan meledak dan membinasakan semua. Hormatilah sungai, maka sungai akan memberimu ikan dan kesuburan."
Di tempat lain, Muyang Demang dan Muyang Penghulu bekerja sama menyusun struktur masyarakat. Mereka melihat bahwa penduduk masih hidup terpecah-pecah dalam kelompok kecil yang sering bertengkar memperebutkan hasil hutan.
Di sebuah tanah lapang di tengah hutan damar, dua kelompok besar sedang bersitegang. Tombak sudah diangkat, busur sudah dipasang. Mata mereka merah karena emosi.
"CUKUP!" teriak Muyang Demang dengan suara yang bergema seperti guntur. Suaranya begitu berwibawa hingga tanah seolah bergetar. Kedua belah pihak langsung menurunkan senjata dan gemetar ketakutan. Mereka merasa seolah-olah langit sedang menegur mereka.
"Kalian ini manusia atau binatang?" hardik Muyang Penghulu yang datang menyusul dengan langkah tenang. "Pohon damar itu tumbuh untuk memberi manfaat, bukan untuk memutus tali persaudaraan! Darah yang mengalir di tubuh kalian sama merah warnanya!"
"Tapi ini milik kami, Pak Tua! Kakek kami yang pertama kali menoreh getahnya!" bantah salah satu pemuda dengan napas memburu.
"Bohong!" potong Muyang Penghulu tegas. "Tuhan yang menanam, alam yang memelihara, manusia hanya yang memanen. Dengarkan aku baik-baik. Mulai hari ini, kita tidak lagi menjadi kelompok yang terpecah. Kita adalah satu. Kita adalah Suku Penesak!"
"Penesak?" tanya salah seorang tua yang bijak.
"Ya," jawab Muyang Demang lembut namun tegas. "Penesak artinya kita menolak perpecahan, kita menyatukan segala